Algoritma: Jantung dari Konflik
Di jantung kesepakatan ini terdapat satu isu krusial yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kecurigaan: algoritma TikTok.
Laporan NPR mencatat bahwa algoritma rekomendasi konten mesin tak terlihat yang menentukan apa yang ditonton lebih dari 200 juta pengguna Amerika akan diawasi oleh Oracle.
Namun, Prof. Bayu menekankan bahwa esensi dari platform ini tetap terletak pada kemampuan algoritmanya dalam mengarahkan perhatian massa. Beliau memberikan pernyataan menohok mengenai status TikTok saat ini:
“Saya sebagai pengamat IT, maaf agak menyitir nih: TikTok tidak diselamatkan, ia hanya ‘dipindah kewarganegaraan’. Yang diperebutkan sebenarnya bukan aplikasinya, tapi tombol ‘Recommended For You’,” jelas Prof. Bayu.
Diplomasi Digital dan Masa Depan
Secara simbolik, kesepakatan ini menutup lingkaran sejarah yang dimulai pada masa jabatan pertama Donald Trump.
Ironisnya, justru pada hari pertama kembalinya Trump ke Gedung Putih, ia menandatangani perintah eksekutif yang menunda pelaksanaan larangan tersebut.
Trump bahkan secara terbuka berterima kasih kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping atas persetujuan akhirnya sebuah pengakuan langka atas keterkaitan erat antara politik global dan ekonomi digital.
Di bawah struktur baru, TikTok AS akan dipimpin oleh Adam Presser dan diawasi oleh dewan direksi yang mayoritas warga Amerika. Meskipun langkah ini menyelamatkan ekosistem bagi jutaan kreator, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai.

