24 C
Makassar
3 February 2026, 5:05 AM WITA

Israel Impor Minyak dari Azerbaijan Melonjak Lewat Turki

SulawesiPos.com – Di tengah kecaman internasional atas perang di Gaza, impor minyak Israel dari Azerbaijan yang melintas Turki justru mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada 2025, menurut laporan Reuters yang dipublikasikan pada 21 Januari 2026.

Data pelacakan Kpler menunjukkan impor minyak mentah Azerbaijan ke wilayah pendudukan Israel melalui terminal Ceyhan rata-rata mencapai 94.000 barel per hari, melonjak 31 persen secara tahunan dan menjadi yang tertinggi sejak 2022, sekaligus menegaskan peran jalur Baku–Tbilisi–Ceyhan sebagai nadi pasokan energi regional.

Kenaikan ini memperlebar dominasi Azerbaijan sebagai pemasok utama minyak Israel dengan pangsa 46,4 persen, melampaui Rusia yang menyumbang sekitar 28 persen, di tengah ketegangan geopolitik yang kian menekan rantai pasok global.

Pengiriman minyak tetap berlanjut meski data resmi pemerintah Turki mencatat nol perdagangan dengan Israel sejak Juni 2024, saat Ankara mengumumkan larangan sebagai respons atas genosida di Gaza, memperlihatkan jurang antara kebijakan publik dan praktik komersial lintas negara.

Pejabat Turki menyatakan negara tidak menentukan tujuan akhir minyak yang mengalir melalui pipa Baku–Tbilisi–Ceyhan dan pada November 2024 menegaskan eksportir di Ceyhan mematuhi larangan dengan tidak mendeklarasikan Israel sebagai tujuan, klaim yang diperdebatkan analis pelayaran internasional.

Baca Juga: 
Bos PPI Adi Prayitno: Penetrasi ke Pemilih Desa Jadi PR PSI untuk Menang Pemilu 2029

Jalur Tersembunyi, Jaringan Global, dan Dampak Kemanusiaan

Analisis Kpler dan Vortexa mengungkap kapal-kapal tujuan Israel kerap menyamarkan rute dengan mematikan sistem pelacakan atau memberi sinyal tujuan alternatif seperti perairan Mesir atau Siprus sebelum membongkar muatan di pelabuhan Israel, termasuk tanker Aframax Valfoglia yang menurunkan 680.000 barel minyak Azerbaijan pada 7 Januari dan tanker Kimolos yang mematikan AIS sebelum bongkar di Ashkelon pada 4 Januari.

Laporan Oil Change International pada November 2025 menegaskan Azerbaijan tetap menjadi pemasok energi utama Israel bersama Kazakhstan, Amerika Serikat, dan Rusia diikuti 21 negara lain dengan mayoritas pengiriman melewati pipa Baku–Tbilisi–Ceyhan dan pelabuhan Ceyhan, meski klaim pembatasan perdagangan disuarakan ke publik.

Pernyataan Menlu Turki Hakan Fidan tentang larangan total perdagangan, ekonomi, dan akses udara atas Gaza dan Suriah berhadapan dengan temuan data dan media yang menunjukkan barang serta energi tetap mencapai Israel secara tidak langsung melalui negara ketiga.

Dalam analisis untuk The Cradle, jurnalis Turki Erman Cete menilai Israel jauh dari terisolasi karena ekonomi perangnya disokong jejaring energi padat lintas Azerbaijan, Turki, Eropa, Afrika, Rusia, dan sebagian dunia Arab, menjadikan embargo publik kerap simbolik sementara aliran sumber daya yang menopang konflik terus berjalan, sebuah realitas yang menuntut akuntabilitas internasional demi perlindungan warga sipil dan penegakan terhadap hukum humaniter internasional. (ali)

Baca Juga: 
NU Satu Abad, Nasaruddin Umar Sebut PBNU Tunjukkan Kematangan Organisasi

SulawesiPos.com – Di tengah kecaman internasional atas perang di Gaza, impor minyak Israel dari Azerbaijan yang melintas Turki justru mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada 2025, menurut laporan Reuters yang dipublikasikan pada 21 Januari 2026.

Data pelacakan Kpler menunjukkan impor minyak mentah Azerbaijan ke wilayah pendudukan Israel melalui terminal Ceyhan rata-rata mencapai 94.000 barel per hari, melonjak 31 persen secara tahunan dan menjadi yang tertinggi sejak 2022, sekaligus menegaskan peran jalur Baku–Tbilisi–Ceyhan sebagai nadi pasokan energi regional.

Kenaikan ini memperlebar dominasi Azerbaijan sebagai pemasok utama minyak Israel dengan pangsa 46,4 persen, melampaui Rusia yang menyumbang sekitar 28 persen, di tengah ketegangan geopolitik yang kian menekan rantai pasok global.

Pengiriman minyak tetap berlanjut meski data resmi pemerintah Turki mencatat nol perdagangan dengan Israel sejak Juni 2024, saat Ankara mengumumkan larangan sebagai respons atas genosida di Gaza, memperlihatkan jurang antara kebijakan publik dan praktik komersial lintas negara.

Pejabat Turki menyatakan negara tidak menentukan tujuan akhir minyak yang mengalir melalui pipa Baku–Tbilisi–Ceyhan dan pada November 2024 menegaskan eksportir di Ceyhan mematuhi larangan dengan tidak mendeklarasikan Israel sebagai tujuan, klaim yang diperdebatkan analis pelayaran internasional.

Baca Juga: 
PKS Dorong Pelibatan Palestina di Forum Perdamaian Internasional Board of Peace

Jalur Tersembunyi, Jaringan Global, dan Dampak Kemanusiaan

Analisis Kpler dan Vortexa mengungkap kapal-kapal tujuan Israel kerap menyamarkan rute dengan mematikan sistem pelacakan atau memberi sinyal tujuan alternatif seperti perairan Mesir atau Siprus sebelum membongkar muatan di pelabuhan Israel, termasuk tanker Aframax Valfoglia yang menurunkan 680.000 barel minyak Azerbaijan pada 7 Januari dan tanker Kimolos yang mematikan AIS sebelum bongkar di Ashkelon pada 4 Januari.

Laporan Oil Change International pada November 2025 menegaskan Azerbaijan tetap menjadi pemasok energi utama Israel bersama Kazakhstan, Amerika Serikat, dan Rusia diikuti 21 negara lain dengan mayoritas pengiriman melewati pipa Baku–Tbilisi–Ceyhan dan pelabuhan Ceyhan, meski klaim pembatasan perdagangan disuarakan ke publik.

Pernyataan Menlu Turki Hakan Fidan tentang larangan total perdagangan, ekonomi, dan akses udara atas Gaza dan Suriah berhadapan dengan temuan data dan media yang menunjukkan barang serta energi tetap mencapai Israel secara tidak langsung melalui negara ketiga.

Dalam analisis untuk The Cradle, jurnalis Turki Erman Cete menilai Israel jauh dari terisolasi karena ekonomi perangnya disokong jejaring energi padat lintas Azerbaijan, Turki, Eropa, Afrika, Rusia, dan sebagian dunia Arab, menjadikan embargo publik kerap simbolik sementara aliran sumber daya yang menopang konflik terus berjalan, sebuah realitas yang menuntut akuntabilitas internasional demi perlindungan warga sipil dan penegakan terhadap hukum humaniter internasional. (ali)

Baca Juga: 
Hilirisasi Ayam Terintegrasi Nasional Mulai Digulirkan, Groundbreaking Digelar di 12 Daerah

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/