Laporan itu menegaskan bahwa saat ini kedua monarki tersebut telah menjadikan negara mereka sebagai rival regional, masing-masing berupaya membentuk masa depan kawasan yang tidak stabil dengan banyak titik perbedaan signifikan.
Perpecahan terkait Yaman hanyalah salah satu dari sekian banyak persoalan, karena perbedaan pandangan juga muncul di wilayah lain seperti Sudan dan Somalia, sementara Riyadh pada saat yang sama memperbarui aliansi dan kemitraannya dengan Qatar yang sebelumnya merupakan musuh bebuyutan.
Kebijakan menyeluruh yang ditandai oleh semakin jauhnya jarak antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kini telah terwujud di lapangan dan memengaruhi konflik bersenjata di kawasan, dengan kemungkinan munculnya lebih banyak kejutan sepanjang tahun ini.
Sementara itu, krisis baru membayangi Yaman setelah International Rescue Committee (IRC) melaporkan situasi kemanusiaan yang sangat buruk, yang diperparah oleh ketegangan dan bentrokan terbaru sehingga banyak warga kini mengalami kelaparan dalam keheningan.
Yaman disebut memasuki fase baru yang berbahaya dalam ketahanan pangan, dengan lebih dari separuh populasi atau sekitar 18 juta orang berpotensi menghadapi tingkat kerawanan pangan yang semakin parah pada awal 2026.
Proyeksi terbaru dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC: Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu) memperingatkan bahwa tambahan satu juta orang kini berada pada risiko kelaparan yang mengancam nyawa pada kategori IPC Fase 3 atau lebih tinggi.
Direktur IRC untuk Yaman, Caroline Sekyewa, menyatakan bahwa rakyat Yaman masih mengingat masa ketika mereka tidak mengetahui dari mana makanan berikutnya akan datang dan ia khawatir negara itu kembali memasuki babak kelam yang sama.
Ia menegaskan bahwa yang membedakan kemerosotan saat ini adalah kecepatan dan arah perburukannya, karena kerawanan pangan di Yaman kini bukan lagi risiko yang mengintai, melainkan kenyataan harian yang memaksa para orang tua menghadapi pilihan-pilihan yang nyaris mustahil. (ali)

