24 C
Makassar
3 February 2026, 6:34 AM WITA

Retaknya Poros Arab Saudi-Uni Emirat Arab di Tanah Yaman

Para pengamat menilai bahwa Yaman kini telah menjadi titik api perselisihan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, memicu konfrontasi yang berjalan paralel dengan perjuangan kedaulatan antara pemerintah Yaman dan gerakan Ansar Allah yang memegang kendali atas ibu kota Sana’a serta wilayah utara guna mempertahankan tanah air.

Sebuah kajian mendalam yang diterbitkan World Politics Review menjelaskan bahwa menjelang akhir 2025, ketegangan senyap yang selama ini bergejolak di bawah permukaan antara Riyadh dan Abu Dhabi yang sebelumnya merupakan sekutu—tiba-tiba meledak menjadi bentrokan terbuka yang sangat mencolok di ruang publik.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa perpecahan itu telah tumbuh selama bertahun-tahun di balik layar sebelum akhirnya mencuat ke publik, sekaligus memunculkan kekhawatiran besar mengingat pentingnya hubungan tersebut bagi geopolitik regional dan global.

Berbagai perbedaan kepentingan itu ternyata melampaui isu Yaman semata, ketika kebijakan yang sebelumnya berlangsung di balik layar meningkat menjadi ancaman terbuka pada 30 Desember, saat Arab Saudi memberi ultimatum 24 jam kepada Uni Emirat Arab untuk menarik pasukannya dari Yaman dan menghentikan dukungan terhadap Dewan Transisi Selatan.

Baca Juga: 
Penemuan Mumi Macan Tutul Langka di Arab Saudi

Dewan Transisi Selatan, yang menentang baik kelompok Ansar Allah di utara maupun Arab Saudi di selatan, berupaya membentuk negara Yaman Selatan, sementara Riyadh justru mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam upaya mengembalikan kendali atas Yaman yang bersatu.

Konflik antara Kerajaan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang sama-sama kaya sumber daya dan memiliki persenjataan kuat, membawa implikasi besar bagi kawasan dari Teluk hingga Afrika Timur, serta menyentuh kepentingan strategis Amerika Serikat dan komunitas internasional.

Meningkatnya ketegangan ini dinilai mengejutkan mengingat sejarah kedekatan antara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed.

Mohammed bin Zayed bahkan pernah dipandang sebagai mentor Mohammed bin Salman setelah membantu memperkenalkannya di panggung internasional dan mengamankan dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada masa jabatan pertamanya di Gedung Putih.

Arab Saudi dikenal memiliki wilayah yang jauh lebih luas, cadangan minyak yang lebih besar, kekuatan militer yang lebih kuat, serta pengaruh luas di dunia Arab dan Muslim, sementara Uni Emirat Arab memiliki ekonomi yang lebih maju dan terintegrasi secara global serta jaringan diplomatik yang sangat kuat.

Baca Juga: 
SulawesiPos.com dan Kabarika.id Sponsori Liga Domino Unhas di Warkop Pegasus, Perkuat Kolaborasi Alumni dan Rektorat

Kedua negara tersebut sebelumnya saling melengkapi hingga perubahan mulai terjadi ketika kedua pemimpin mengembangkan visi dan perspektif yang berbeda, kepentingan nasional mulai menyimpang, dan perselisihan terus bertambah, tulis World Politics Review.

Para pengamat menilai bahwa Yaman kini telah menjadi titik api perselisihan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, memicu konfrontasi yang berjalan paralel dengan perjuangan kedaulatan antara pemerintah Yaman dan gerakan Ansar Allah yang memegang kendali atas ibu kota Sana’a serta wilayah utara guna mempertahankan tanah air.

Sebuah kajian mendalam yang diterbitkan World Politics Review menjelaskan bahwa menjelang akhir 2025, ketegangan senyap yang selama ini bergejolak di bawah permukaan antara Riyadh dan Abu Dhabi yang sebelumnya merupakan sekutu—tiba-tiba meledak menjadi bentrokan terbuka yang sangat mencolok di ruang publik.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa perpecahan itu telah tumbuh selama bertahun-tahun di balik layar sebelum akhirnya mencuat ke publik, sekaligus memunculkan kekhawatiran besar mengingat pentingnya hubungan tersebut bagi geopolitik regional dan global.

Berbagai perbedaan kepentingan itu ternyata melampaui isu Yaman semata, ketika kebijakan yang sebelumnya berlangsung di balik layar meningkat menjadi ancaman terbuka pada 30 Desember, saat Arab Saudi memberi ultimatum 24 jam kepada Uni Emirat Arab untuk menarik pasukannya dari Yaman dan menghentikan dukungan terhadap Dewan Transisi Selatan.

Baca Juga: 
Penemuan Mumi Macan Tutul Langka di Arab Saudi

Dewan Transisi Selatan, yang menentang baik kelompok Ansar Allah di utara maupun Arab Saudi di selatan, berupaya membentuk negara Yaman Selatan, sementara Riyadh justru mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam upaya mengembalikan kendali atas Yaman yang bersatu.

Konflik antara Kerajaan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang sama-sama kaya sumber daya dan memiliki persenjataan kuat, membawa implikasi besar bagi kawasan dari Teluk hingga Afrika Timur, serta menyentuh kepentingan strategis Amerika Serikat dan komunitas internasional.

Meningkatnya ketegangan ini dinilai mengejutkan mengingat sejarah kedekatan antara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed.

Mohammed bin Zayed bahkan pernah dipandang sebagai mentor Mohammed bin Salman setelah membantu memperkenalkannya di panggung internasional dan mengamankan dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada masa jabatan pertamanya di Gedung Putih.

Arab Saudi dikenal memiliki wilayah yang jauh lebih luas, cadangan minyak yang lebih besar, kekuatan militer yang lebih kuat, serta pengaruh luas di dunia Arab dan Muslim, sementara Uni Emirat Arab memiliki ekonomi yang lebih maju dan terintegrasi secara global serta jaringan diplomatik yang sangat kuat.

Baca Juga: 
Raksasa Tambang Ma'aden Temukan Cadangan Emas Masif di Jantung Arab Saudi

Kedua negara tersebut sebelumnya saling melengkapi hingga perubahan mulai terjadi ketika kedua pemimpin mengembangkan visi dan perspektif yang berbeda, kepentingan nasional mulai menyimpang, dan perselisihan terus bertambah, tulis World Politics Review.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/