Dalam percakapan tersebut, Ferry menitipkan pesan sederhana untuk anak mereka.
“Cuma sempat video call. Dia pesan ke anaknya untuk makan yang banyak karena anak saya susah makan. Itu saja,” kata Meyla dengan suara bergetar.
Ferry Irawan diketahui merupakan analis kapal pengawas pada Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sejak 2024.
Saat kejadian, ia bersama dua pegawai KKP lainnya, Deden Mulyana dan Yoga Noval selaku operator foto udara, tengah menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara.
Pesawat ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT dan nomor seri 611 itu dioperasikan oleh maskapai Indonesia Air Transport (IAT).
Armada tersebut disewa oleh PSDKP KKP untuk mendukung misi pengawasan udara.
Pesawat membawa 10 orang (persons on board), terdiri atas tujuh awak dan tiga penumpang, di bawah komando pilot in command Capt Andy Dahananto.
Penerbangan dilakukan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta (JOG) menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar (UPG) dengan kondisi cuaca dilaporkan berawan dan jarak pandang normal sejauh delapan kilometer.
Berdasarkan informasi otoritas penerbangan, pesawat dinyatakan hilang kontak saat akan melakukan pendaratan di Makassar.
Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) awalnya mengarahkan pesawat untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21.

