Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan pada Rabu (14/01/2026) bahwa kehadiran pasukan internasional ini merupakan langkah darurat yang bersifat sementara.
Beliau menekankan bahwa tujuan akhir Indonesia tetap tidak berubah, yakni pencapaian kedaulatan penuh melalui Solusi Dua Negara (Two-State Solution).
Kehadiran pasukan stabilitas ini dipandang sebagai instrumen vital untuk membuka jalan bagi bantuan kemanusiaan dan pembangunan berkelanjutan.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, keterlibatan TNI dalam misi ini diharapkan membawa pendekatan yang lebih empatik dan dapat diterima oleh warga lokal.
Tantangan di Meja Perundingan
Meski angin optimisme mulai berembus, jalan menuju implementasi penuh di lapangan masih menghadapi tantangan diplomatik yang terjal.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, sempat melontarkan keraguan mengenai efektivitas rencana ini akibat dinamika politik antara Israel dan Hamas.
Hingga saat ini, komunitas internasional masih merumuskan mekanisme pengerahan ribuan pasukan agar tidak memicu eskalasi baru di zona konflik.
Aspek pendanaan dan alokasi anggaran jangka panjang dari negara-negara donor juga menjadi poin krusial yang sedang difinalisasi.
Penyelarasan kepentingan antarnegara tetangga di Timur Tengah tetap menjadi kunci utama agar misi ini mendapatkan dukungan regional yang solid.

