Senjata Replika dan Atribut Kekerasan
Dalam perkembangannya, Densus 88 menemukan sebagian anak telah membeli replika senjata.
“Ada replika senjata api dan busur dengan ciri khas mereka menulis pahamnya, tokoh-tokohnya, dan beberapa narasi yang menurut mereka ini memiliki arti dan simbol di dalam replika senjatanya. Juga pisau sebagai alat kekerasan,” rincinya.
“Kemudian atribut yang berbau militer yang memang kerap juga terkait dengan simbol-simbol yang telah disampaikan sebelumnya. Dan juga ada komponen elektro, bahkan bahan peledak,yang teridentifikasi berbahaya. Dan tentunya ada atribut, buku, dan beberapa konten-konten yang bermuatan ideologis,” sambung Mayndra.
Aksi Kekerasan di Luar Negeri Ikut Terinspirasi
Densus 88 juga menyoroti keterkaitan komunitas tersebut dengan aksi kekerasan di luar negeri.
Mayndra menyebut, penikaman di sebuah sekolah di Moskow, Rusia, terinspirasi dari insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta.
“Di dalam gagang senjata, pelaku penusukan di Moskow, Rusia, ini, kita bisa lihat bahwa dia menuliskan ada ‘Jakarta Bombing’ ya di situ. Dituliskan bahwa ‘Jakarta Bombing 2025’,” ungkap Mayndra.
“(Foto itu) diambil oleh yang bersangkutan kemudian di-upload di dalam komunitas ini. Nah, diduga ini terinspirasi adanya insiden bom SMAN 72 di Jakarta,” lanjut dia.
Densus 88 menegaskan upaya pencegahan dan pendampingan akan terus diperkuat untuk memutus penyebaran ideologi kekerasan ekstrem di kalangan anak dan remaja.

