SulawesiPos.com – Pagi hari pekan pertama tahun 2026 seharusnya menjadi penanda awal yang tenang bagi sistem peradilan Israel, namun justru berubah menjadi kabar duka yang mengguncang nurani publik ketika seorang hakim kunci dalam perkara korupsi paling sensitif negeri itu meregang nyawa di jalan tol utama negara tersebut.
Hakim Benny Sagi, Ketua Pengadilan Distrik Beersheba sekaligus figur sentral dalam cabang penting Kasus 3000, tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di Jalan Tol Nomor 6, jalur vital yang membentang dari utara ke selatan Israel pada 4 Januari 2026.
Kematian mendadak itu segera memantik kegelisahan luas karena terjadi di tengah penanganan perkara korupsi besar yang menyeret lingkaran terdekat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Menurut laporan The Times of Israel edisi 5 Januari 2026, Sagi tengah mengendarai sepeda motor ketika sebuah kendaraan tiba-tiba memasuki jalan tol dari jalur tanah di dekat Kibbutz Kfar Menachem, kawasan timur Ashdod yang dikenal memiliki titik pandang terbatas.
Tabrakan keras tak terhindarkan, dan tim medis Magen David Adom yang tiba di lokasi menggambarkan situasi tersebut sebagai “mengejutkan”, dengan Sagi ditemukan tergeletak di aspal dalam kondisi luka parah sebelum akhirnya dinyatakan meninggal di tempat kejadian.
Secara resmi, kepolisian Israel mengklasifikasikan peristiwa itu sebagai kecelakaan lalu lintas murni dengan dugaan awal bahwa pengemudi kendaraan yang menabrak Sagi mengemudi secara ugal-ugalan dan berada di bawah pengaruh narkotika.
Namun, di tengah konteks perkara besar yang sedang ditanganinya, penjelasan teknis tersebut belum sepenuhnya meredam pertanyaan dan kecurigaan publik.
Kepergian Sagi terasa semakin memilukan karena ia sedang berada di puncak pengabdian dalam dunia peradilan Israel.
Ia baru diangkat sebagai presiden tetap Pengadilan Distrik Beersheba pada April 2025 setelah sebelumnya menjabat secara sementara selama setahun.
Lahir pada 1971, Sagi menapaki karier hukum dengan disiplin panjang, mulai dari dinas militer pada 1989–1993 hingga bertugas di Kantor Kejaksaan Negara Distrik Pusat pada awal 2000-an.
Selama hampir dua dekade, ia mengabdikan diri sebagai hakim di berbagai tingkat peradilan dengan reputasi profesional yang kuat.
Dalam lintasan kariernya, Sagi dikenal bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pendidik dan dosen hukum.
Ia kemudian dipercaya menempati posisi strategis di Pengadilan Magistrat dan Pengadilan Distrik Tel Aviv.
Reputasinya sebagai hakim yang tegas, bersih, dan menjunjung tinggi mediasi membuatnya dihormati lintas spektrum politik dan profesi hukum.
Namun, namanya belakangan melekat erat pada Kasus 3000, skandal pengadaan kapal selam dan kapal perang dari Jerman bernilai miliaran dolar.
Perkara tersebut selama bertahun-tahun menjadi simbol krisis integritas negara hukum Israel.
Dalam kasus itu, Sagi menangani berkas yang berkaitan dengan Tzachi Liver, figur kunci yang menyeret mantan pejabat pertahanan, perantara bisnis, serta individu-individu dekat pusat kekuasaan.
Waktu kematiannya menjadi sumber kecurigaan pertama di mata publik dan pengamat hukum.
Sagi wafat tepat setelah rangkaian pemeriksaan selesai dan ketika putusan akhir disebut-sebut hanya tinggal menunggu waktu.
Putusan tersebut berpotensi menentukan nasib para terdakwa utama serta figur-figur strategis yang selama ini dianggap sebagai penyangga politik Netanyahu.
Sebagaimana dicatat The Jerusalem Post pada 6 Januari 2026, wafatnya Sagi secara otomatis menghentikan jalannya persidangan Kasus 3000.
Dalam sistem hukum Israel, penanganan perkara kompleks oleh hakim baru mengharuskan penelaahan ulang ribuan halaman dokumen.
Proses tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan dan membuka ruang penundaan yang panjang.
Menurut para pengamat hukum, penundaan semacam ini hampir selalu menguntungkan pihak terdakwa dalam kasus korupsi besar yang sensitif secara politik.
Keraguan publik juga dipicu oleh pola kecelakaan itu sendiri.
Dalam sejarah panjang konflik politik dan keamanan Israel, kecelakaan lalu lintas di titik-titik rawan kerap melahirkan spekulasi.
Spekulasi tersebut semakin menguat ketika kecelakaan melibatkan figur negara yang memegang peran strategis.
Sejumlah analis bahkan mengaitkannya dengan preseden kasus-kasus politik sebelumnya, termasuk skandal yang populer disebut “Qatargate”.
Skandal tersebut pernah menunjukkan bagaimana aparat keamanan dituding disalahgunakan untuk kepentingan politik internal.
Di tengah suasana duka, penghormatan terhadap Sagi mengalir dari berbagai penjuru dunia hukum dan politik Israel.
Presiden Israel Isaac Herzog menyebut Sagi sebagai hakim brilian dan tajam dengan integritas tinggi.
Ketua Mahkamah Agung Israel, Isaac Amit, menggambarkannya sebagai pemimpin karismatik sekaligus sahabat yang hangat.
Menteri Kehakiman Yariv Levin menegaskan bahwa sejak awal masa jabatannya, Sagi berhasil membangun pengadilan yang dipercaya publik.
Otoritas Kehakiman Israel dalam pernyataan resmi menyebut kematian Sagi sebagai kehilangan besar bagi sistem hukum nasional.
Pernyataan tersebut menekankan bahwa Sagi adalah hakim berbakat yang telah mencapai prestasi luar biasa di usia relatif muda.
Di balik jabatan dan reputasinya, Sagi adalah seorang suami dan ayah.
Ia meninggalkan seorang istri, seorang putri, dan dua putra.
Keluarga yang ditinggalkannya kini harus menerima kenyataan pahit bahwa pengabdian pada keadilan kerap menuntut harga yang sangat mahal.
Hingga awal 2026, media-media Israel melaporkan belum ada kejelasan mengenai siapa hakim pengganti yang akan melanjutkan penanganan Kasus 3000.
Ketidakpastian ini menambah daftar panjang kegelisahan publik tentang masa depan supremasi hukum di Israel.
Kegelisahan tersebut semakin kuat karena Netanyahu sendiri masih menghadapi berbagai perkara hukum lain.
Oposisi dan organisasi masyarakat sipil menuding adanya upaya menunda atau melemahkan proses peradilan melalui manuver politik dan tekanan institusional.
Lebih luas lagi, wafatnya Benny Sagi menjadi pengingat getir bagi dunia bahwa demokrasi, keamanan, dan perdamaian tidak dapat dipisahkan dari perlindungan terhadap independensi peradilan.
Ketika seorang hakim sebagai penjaga terakhir keadilan pergi secara mendadak, yang terancam bukan hanya satu perkara.
Yang turut terancam adalah kepercayaan masyarakat terhadap hukum itu sendiri.
Dalam dunia yang kian dipenuhi konflik, kepentingan ekonomi, dan tarik-menarik kekuasaan politik, kematian seorang hakim bukan sekadar tragedi personal.
Peristiwa ini menjadi cermin rapuhnya tatanan hukum yang seharusnya menjadi fondasi bagi kehidupan bersama yang adil, transparan, dan bermartabat. (ali)