27 C
Makassar
18 January 2026, 19:12 PM WITA

2026 dan Jam Berdetak Dunia: Ketika AI Perlahan Menggeser Manusia dari Meja Kerja

 SulawesiPos –<span;> Perkembangan kecerdasan buatan melaju terlalu cepat untuk dikejar banyak orang, meninggalkan kegelisahan sunyi tentang nasib pekerjaan manusia di masa depan.

<span;>Di balik janji efisiensi, otomatisasi, dan inovasi tanpa henti, muncul satu pertanyaan yang semakin sulit dihindari: masihkah manusia dibutuhkan di dunia kerja esok hari?

<span;>Menjelang 2026, kegelisahan itu tidak lagi sekadar bisikan kecemasan, melainkan mulai terlihat dalam angka, keputusan korporasi, dan arah investasi global.

<span;>Sebuah studi dari Massachusetts Institute of Technology yang terbit pada November lalu menunjukkan sekitar 11,7 persen pekerjaan memiliki potensi besar untuk diotomatisasi dengan bantuan AI.

<span;>Angka tersebut bukan ramalan spekulatif, melainkan cermin dari perubahan yang sudah mulai berlangsung di ruang-ruang kantor dan laporan keuangan perusahaan.

<span;>Berbagai survei memperlihatkan bahwa perusahaan kini memangkas pekerjaan level awal, dan dalam banyak kasus, kecerdasan buatan disebut sebagai alasan yang sahih sekaligus praktis.

<span;>Seiring meluasnya adopsi AI, perusahaan mulai menghitung ulang satu hal mendasar: berapa banyak manusia yang benar-benar mereka perlukan untuk tetap berjalan.

Baca Juga: 
Kementan Siapkan Rp1,49 T dan Ajukan Tambahan Rp5,1 T untuk Pulihkan Pertanian Sumatera Pasca Bencana

<span;>Dalam survei TechCrunch terhadap para investor modal ventura, tanpa dorongan pertanyaan khusus, AI justru muncul sebagai topik utama yang dikaitkan langsung dengan masa depan tenaga kerja.

<span;>Bagi Eric Bahn dari Hustle Fund, tahun 2026 akan menjadi titik balik yang besar, meski bentuk akhirnya masih diselimuti ketidakpastian.

<span;>Ia mempertanyakan apakah otomatisasi hanya akan menyentuh pekerjaan repetitif, atau justru merambat ke tugas-tugas kompleks yang selama ini dianggap wilayah eksklusif manusia.

<span;>Menurut Bahn, belum ada jawaban pasti, tetapi satu hal jelas: perubahan besar sedang bergerak pelan namun pasti menuju 2026.

<span;>Nada serupa disampaikan Marle Evans dari Exceptional Capital yang melihat anggaran perusahaan akan bergeser drastis dari manusia ke mesin.

<span;>Ia memperkirakan peningkatan belanja AI akan diikuti pengurangan perekrutan dan PHK berkelanjutan yang berdampak langsung pada tingkat ketenagakerjaan.

<span;>Rajeev Dham dari Sapphire Ventures bahkan menilai bahwa pada 2026, keputusan anggaran akan menjadi cermin jelas dari prioritas baru korporasi: teknologi lebih penting daripada tenaga kerja.

Baca Juga: 
Tabrak Aturan Kuota Haji 50:50, Mantan Menag Yaqut dan Stafsus Jadi Tersangka KPK

<span;>Sementara itu, Jason Mendel dari Battery Ventures melihat 2026 sebagai fase ketika AI tidak lagi sekadar mempercepat kerja manusia, tetapi mulai menggantikan pekerjaan itu sendiri.

<span;>Menurutnya, era AI agents akan menggeser perangkat lunak dari alat bantu menjadi aktor utama yang menjalankan tugas tanpa campur tangan manusia.

<span;>Namun, tidak semua suara datang dengan optimisme teknologi.

<span;>Antonia Dean dari Black Operator Ventures mengingatkan bahwa AI juga bisa menjadi dalih yang nyaman bagi manajemen yang ingin memangkas biaya.

<span;>Menurutnya, bahkan perusahaan yang belum siap secara teknologi dapat menggunakan narasi investasi AI untuk membenarkan pengurangan tenaga kerja.

<span;>Dalam situasi ini, AI berisiko berubah fungsi dari inovasi menjadi kambing hitam yang menutupi kegagalan strategi bisnis masa lalu.

<span;>Di sisi lain, perusahaan pengembang AI terus menegaskan bahwa teknologi mereka tidak menghapus pekerjaan, melainkan membantu manusia naik ke peran yang lebih bermakna.

<span;>Namun, bagi banyak pekerja, janji itu terdengar semakin abstrak di tengah gelombang PHK yang nyata.

Baca Juga: 
Dampak Gugatan Perdata, Denada Digugat Rp7 Miliar oleh Pria yang Klaim Anak Kandung

<span;>Dan jika mencermati pandangan para investor ini, satu kesimpulan sulit disangkal: kecemasan dunia kerja tidak akan reda pada 2026, melainkan justru memasuki fase paling nyata dan menentukan.<span;>(ali)

 SulawesiPos –<span;> Perkembangan kecerdasan buatan melaju terlalu cepat untuk dikejar banyak orang, meninggalkan kegelisahan sunyi tentang nasib pekerjaan manusia di masa depan.

<span;>Di balik janji efisiensi, otomatisasi, dan inovasi tanpa henti, muncul satu pertanyaan yang semakin sulit dihindari: masihkah manusia dibutuhkan di dunia kerja esok hari?

<span;>Menjelang 2026, kegelisahan itu tidak lagi sekadar bisikan kecemasan, melainkan mulai terlihat dalam angka, keputusan korporasi, dan arah investasi global.

<span;>Sebuah studi dari Massachusetts Institute of Technology yang terbit pada November lalu menunjukkan sekitar 11,7 persen pekerjaan memiliki potensi besar untuk diotomatisasi dengan bantuan AI.

<span;>Angka tersebut bukan ramalan spekulatif, melainkan cermin dari perubahan yang sudah mulai berlangsung di ruang-ruang kantor dan laporan keuangan perusahaan.

<span;>Berbagai survei memperlihatkan bahwa perusahaan kini memangkas pekerjaan level awal, dan dalam banyak kasus, kecerdasan buatan disebut sebagai alasan yang sahih sekaligus praktis.

<span;>Seiring meluasnya adopsi AI, perusahaan mulai menghitung ulang satu hal mendasar: berapa banyak manusia yang benar-benar mereka perlukan untuk tetap berjalan.

Baca Juga: 
Menkeu Purbaya Sidak Danantara: "Saya ke Sini, Kabur Dia ke Luar Negeri"

<span;>Dalam survei TechCrunch terhadap para investor modal ventura, tanpa dorongan pertanyaan khusus, AI justru muncul sebagai topik utama yang dikaitkan langsung dengan masa depan tenaga kerja.

<span;>Bagi Eric Bahn dari Hustle Fund, tahun 2026 akan menjadi titik balik yang besar, meski bentuk akhirnya masih diselimuti ketidakpastian.

<span;>Ia mempertanyakan apakah otomatisasi hanya akan menyentuh pekerjaan repetitif, atau justru merambat ke tugas-tugas kompleks yang selama ini dianggap wilayah eksklusif manusia.

<span;>Menurut Bahn, belum ada jawaban pasti, tetapi satu hal jelas: perubahan besar sedang bergerak pelan namun pasti menuju 2026.

<span;>Nada serupa disampaikan Marle Evans dari Exceptional Capital yang melihat anggaran perusahaan akan bergeser drastis dari manusia ke mesin.

<span;>Ia memperkirakan peningkatan belanja AI akan diikuti pengurangan perekrutan dan PHK berkelanjutan yang berdampak langsung pada tingkat ketenagakerjaan.

<span;>Rajeev Dham dari Sapphire Ventures bahkan menilai bahwa pada 2026, keputusan anggaran akan menjadi cermin jelas dari prioritas baru korporasi: teknologi lebih penting daripada tenaga kerja.

Baca Juga: 
Dampak Gugatan Perdata, Denada Digugat Rp7 Miliar oleh Pria yang Klaim Anak Kandung

<span;>Sementara itu, Jason Mendel dari Battery Ventures melihat 2026 sebagai fase ketika AI tidak lagi sekadar mempercepat kerja manusia, tetapi mulai menggantikan pekerjaan itu sendiri.

<span;>Menurutnya, era AI agents akan menggeser perangkat lunak dari alat bantu menjadi aktor utama yang menjalankan tugas tanpa campur tangan manusia.

<span;>Namun, tidak semua suara datang dengan optimisme teknologi.

<span;>Antonia Dean dari Black Operator Ventures mengingatkan bahwa AI juga bisa menjadi dalih yang nyaman bagi manajemen yang ingin memangkas biaya.

<span;>Menurutnya, bahkan perusahaan yang belum siap secara teknologi dapat menggunakan narasi investasi AI untuk membenarkan pengurangan tenaga kerja.

<span;>Dalam situasi ini, AI berisiko berubah fungsi dari inovasi menjadi kambing hitam yang menutupi kegagalan strategi bisnis masa lalu.

<span;>Di sisi lain, perusahaan pengembang AI terus menegaskan bahwa teknologi mereka tidak menghapus pekerjaan, melainkan membantu manusia naik ke peran yang lebih bermakna.

<span;>Namun, bagi banyak pekerja, janji itu terdengar semakin abstrak di tengah gelombang PHK yang nyata.

Baca Juga: 
Pemerintah Siapkan Perpres Penggunaan AI dalam Proses BAP

<span;>Dan jika mencermati pandangan para investor ini, satu kesimpulan sulit disangkal: kecemasan dunia kerja tidak akan reda pada 2026, melainkan justru memasuki fase paling nyata dan menentukan.<span;>(ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/