Galian pipa PDAM yang bocor di Jalan Daeng Tata, Makassar, yang menyebabkan penghentian aliran di sejumlah kecamatan yang terkait.
SulawesiPos.com — Perumda Air Minum (PDAM) Kota Makassar menyampaikan perkembangan terbaru mengenai kondisi distribusi air bersih di kota tersebut sekaligus menjelaskan sejumlah tantangan infrastruktur perpipaan yang tengah dihadapi di lapangan.
Plt Dirut PDAM Makassar, Andi Syahrum Makkuradde, menegaskan bahwa indikator pasokan air bersih kini menunjukkan tren perbaikan yang signifikan. Salah satu penanda utamanya adalah tidak adanya lagi antrean mobil tangki pengangkut air.
Di samping itu, aliran air baku menuju Instalasi Pengolahan Air (IPA) Panaikang dari jalur Sungai Deng Tata terpantau kembali bergerak mengalir lancar.
“Saya selalu berbicara fakta dan kenyataan yang kita lihat. Indikatornya tidak ada mobil tangki antre di bawah, artinya lancar mi air masuk ke kerannya warga,” ujar Andi Syahrum Makkuradde, Rabu (30/9/2026).
Sebagai langkah nyata penanganan di wilayah yang masih terkendala, PDAM menyiapkan armada mobil operasional berukuran kecil yang dilengkapi tandon air. Armada ini difokuskan untuk masuk ke area pemukiman padat dan lorong-lorong sempit di seluruh wilayah operasional yang terbagi dalam enam wilayah.
Layanan air bersih dari armada kecil ini disalurkan secara gratis, baik kepada pelanggan maupun masyarakat nonpelanggan. Bagi warga nonpelanggan, penyaluran air dilakukan berdasarkan surat permohonan tertulis demi transparansi pertanggungjawaban operasional dan keuangan perusahaan.
“Setetes air pun itu harus kita pertanggungjawabkan ke mana uangnya. Bantuan ke warga, baik pelanggan maupun yang tidak pelanggan. Kalau tidak pelanggan, tentu ada suratnya masuk,” tegas Andi Syahrum.
Selain armada pemukiman, PDAM Makassar juga mengalokasikan program bantuan air gratis melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) sesuai Surat Keputusan Kebencanaan Kekeringan. Bantuan ini disalurkan bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, dan Polri dengan estimasi nilai bantuan mencapai hampir Rp200 juta.
Mengenai keluhan warga terkait air yang sempat berwarna hitam atau keruh, Andi Syahrum menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi akibat efek pengerjaan teknis pada jaringan pipa yang sempat kosong. Ketika pasokan air mulai dialirkan kembali, arus air membawa sisa ampas atau endapan yang melekat di dalam dinding pipa lama.
“Ah, yang hitam airnya itu, itulah tadi pergantian pipa. Jadi pada saat pipa kosong, kemudian air mengalir, nah tentu membawa beberapa ampas-ampas di situ,” ungkapnya.
Selain itu, PDAM Makassar mengungkapkan sejumlah hambatan teknis utama dalam pembenahan jaringan bawah tanah. Jaringan pipa lama memiliki struktur yang sangat rumit dan saling tumpang tindih menyerupai sarang laba-laba, sehingga petugas kesulitan menentukan posisi pangkal dan ujung jalur pipa.
Posisi pipa utama di beberapa ruas jalan protokol, seperti kawasan Perintis Kemerdekaan dan Urip Sumohardjo, juga berada sangat dalam hingga tertimbun sekitar dua meter di bawah permukaan jalan.
Di sisi lain, proses penggalian di jalan nasional memerlukan izin dari Balai Pengelola Jalan yang mensyaratkan uang jaminan. PDAM saat ini belum dapat memenuhi syarat jaminan tersebut karena belum tersedianya regulasi atau nomenklatur anggaran yang menaunginya.
“Pipa kita di bawah ini laba-laba mi, tidak ditahu mi mana ujungnya, mana pangkalnya. Minta izin ke Balai itu harus ada jaminan, kita PDAM belum ada nomenklaturnya kalau harus bayar jaminan,” pungkas Andi Syahrum.