Categories: Makassar

Hafal 30 Juz Al-Qur’an, Santri Asal Bone Muhammad Al Hindawi Temukan Celah Keamanan NASA

SulawesiPos.com – Muhammad Al Hindawi, santri kelahiran 2007 Bone, Sulawesi Selatan, berhasil menemukan sejumlah celah keamanan pada sistem milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Temuan tersebut membuat Dawi mendapat Letter of Recognition (LoR) dan masuk Hall of Fame NASA sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam penelitian keamanan siber.

Kemampuan itu ia kembangkan secara otodidak di tengah aktivitasnya sebagai santri sekaligus penghafal 30 juz Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar.

Al Hindawi yang akrab disapa Dawi menemukan dua kerentanan berbeda pada sistem NASA melalui program Vulnerability Disclosure Program (VDP) di platform Bugcrowd pada Mei 2026 lalu.

Salah satunya merupakan Broken Link Hijacking, sedangkan temuan lainnya berkaitan dengan SQL Injection.

Temuan Broken Link Hijacking milik Dawi tercatat dalam publikasi Bugcrowd dan dinyatakan telah diterima serta diperbaiki oleh tim NASA.

Selain NASA, Dawi juga menemukan satu kerentanan pada sistem University of Melbourne pada Agustus 2026.

“Kalau kita sudah menemukan, kita kirim ke tim mereka, terus tim mereka itu yang uji ulang apakah ini betul kerentanan bisa divalidasi atau tidak,” ujar Dawi saat mengunjungi kantor SulawesiPos.com, Rabu (16/9/2026).

Belajar Otodidak dari YouTube

Dawi mengatakan, ketertarikannya pada cybersecurity bermula dari pengalamannya sebagai web developer.

Ia membuat website untuk kebutuhan madrasah dan kemudian tertarik mempelajari bagaimana sebuah sistem dapat diamankan dari berbagai ancaman.

“Karena saya juga web developer, jadi saya juga belajar tentang bagaimana cara mengamankan website tersebut,” tutur siswa kelas 12 ini.

Ia mulai serius mendalami cybersecurity pada awal 2026. Saat itu, ia belajar secara mandiri melalui video YouTube, praktik langsung, serta membaca laporan penelitian keamanan yang dipublikasikan para peneliti di platform Bugcrowd.

Salah satu sumber belajar yang ia ikuti adalah kanal Onno Center milik pakar teknologi informasi Onno W. Purbo. Dawi juga mengikuti sejumlah sesi praktik keamanan siber yang tersedia secara daring.

Selama belajar secara otodidak, Dawi mengaku kerap menghadapi kendala dalam memahami penjelasan teknis, terutama saat mempelajari proses pengumpulan informasi dan domain.

“Bahasa yang sulit. Sebenarnya saya punya dasar bahasa Inggris, saya paham apa yang mereka sampaikan. Cuman biasanya itu, bagaimana cara mereka menjelaskan menemukan atau mengumpulkan seluruh domain sulit saya pahami,” kata Dawi.

Untuk mengatasi kesulitan tersebut, ia biasanya mencari referensi lain di YouTube yang menjelaskan materi serupa dengan bahasa yang lebih sederhana.

“Jadi kalau dia membahas ini dan bikin saya pusing, saya cari channel YouTube lain yang penjelasannya lebih sederhana,” ujarnya.

Tidak memiliki mentor khusus, Dawi mengembangkan kemampuan tersebut secara mandiri. Ia menyisihkan setidaknya sekitar 30 menit setiap hari untuk belajar, sedangkan praktik penelitian keamanan dilakukan di luar kegiatan pesantren setiap Sabtu malam.

Ia pernah menghabiskan waktu dari sekitar pukul 23.00 hingga 02.00 Wita untuk melakukan penelitian terhadap sistem yang menjadi objek pengujian.

Aktivitas tersebut tetap dijalankan dengan mempertimbangkan rutinitasnya sebagai santri. Dawi harus membagi waktu antara sekolah, kegiatan pesantren, tahfiz, dan belajar teknologi.

“Belajarnya setiap hari. Manage timing-nya itu setiap setengah jam sesudah sekolah atau dalam sehari itu minimal adalah setengah jam saya belajar,” katanya.

Terlibat Investigasi Digital

Kemampuan Dawi di bidang teknologi juga membawanya terlibat dalam sejumlah aktivitas investigasi digital bersama rekan-rekannya.

Ia mengaku pernah membantu menelusuri kasus penipuan digital, termasuk kasus yang berkaitan dengan dugaan jaringan penipuan online.

Menurut Dawi, perannya lebih banyak pada sisi penelusuran informasi digital, sementara hasil yang diperoleh kemudian dapat diserahkan kepada pihak terkait.

“Jadi kita itu pura-pura beli, tapi yang kita kirim itu link phishing. Jadi kalau dia tekan link itu, link-nya itu namanya konfirmasi pembayaran,” bebernya.

“Biasanya itu ada muncul pop-up minta kayak foto selfie, terus minta lokasi. Kalau dia oke-kan semua itu, kita dapat semua fotonya, masuk ke laptop kita,” tambah Dawi.

Dawi mengatakan, ketika tautan tersebut tidak dibuka, timnya masih dapat memperoleh informasi teknis tertentu seperti alamat IP.

Informasi itu kemudian dianalisis lebih lanjut untuk membantu mengidentifikasi perangkat dan jejak digital terkait.

Ingin Tetap Mengikuti Perkembangan Teknologi

Meski mendalami dunia cybersecurity, Dawi tetap menjalani kehidupan sebagai santri dan penghafal Al-Qur’an. Ia telah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an di tengah proses belajarnya.

Prestasinya di bidang cybersecurity sempat membuat pihak pesantren dan keluarganya terkejut. Sebab, aktivitas tersebut lebih banyak dilakukan secara mandiri menggunakan perangkat miliknya sendiri.

Setelah lulus, Dawi masih mempertimbangkan pilihan pendidikan. Ia tertarik mengambil bidang AI Engineering, tetapi orang tuanya juga menginginkan dirinya melanjutkan pendidikan di Madinah untuk mendalami Tafsir dan Qira’at.

“Saya sebenarnya mau ambil AI Engineering di China. Cuman karena orang tua juga maunya saya kuliah di Madinah ambil Tafsir dan Qira’at. Jadi lihat yang mana cepat masuk universitasnya, China atau Madinah,” ujarnya.

Dawi juga mengaku masih mengikuti sejumlah program penelitian keamanan siber. Salah satunya adalah pengujian terhadap sistem Tesla yang menurutnya menghasilkan temuan tertentu.

Namun, ia belum mempublikasikan laporan tersebut dan belum mengungkap status validasinya kepada publik.

Bagi Dawi, kemampuan teknologi seharusnya tidak menjadi sesuatu yang asing bagi santri.

“Untuk sekarang santri ini, janganlah ketinggalan tentang teknologi. Karena sekarang itu teknologi mempermudah pekerjaan manusia. Apalagi sekarang kita dibantu dengan AI,” tandas Dawi.

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: cyber security Hall of Fame NASA Muhammad Al Hindawi Pesantren Al Imam Ashim Makassar University of Melbourne