Prof Muhammad Niswar (kanan) menerima kode etik anggota Dewan Professor usai dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Teknik Unhas di Ruang Senat Lantai 2 Gedung Rektorat Unhas, Senin (17/02). Prof Niswar meraih penghargaan Suguri Yamaguchi.
SulawesiPos.com – Prof Dr Eng Ir Muhammad Niswar ST MInfoTech meraih Suguru Yamaguchi Memorial Award 2026 atas pengabdiannya membangun infrastruktur internet, pendidikan teknologi informasi, dan jejaring akademik Asia-Pasifik. Penghargaan diterimanya dalam pertemuan ke-62 sekaligus peringatan 30 tahun School on Internet Asia di Institut Teknologi Bandung, Rabu (2/9/2026) lalu.
Penghargaan itu menandai perjalanan 24 tahun Guru Besar Ilmu Rekayasa Internet dan Komputasi Ubiquitous Universitas Hasanuddin tersebut, sejak menjadi operator jaringan pertama SOI Asia di Unhas pada 2002, hingga memimpin Lembaga Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial Unhas, serta mengembangkan riset AIoT dan ketahanan siber.
Suguru Yamaguchi Memorial Award diabadikan dari nama Dr Suguru Yamaguchi, ilmuwan komputer Jepang, pelopor keamanan siber, dan anggota Internet Hall of Fame yang berkontribusi besar terhadap perkembangan internet serta pendidikan berbasis jaringan di Asia.
Bagi Niswar, penghargaan tersebut tidak berhenti sebagai pengakuan terhadap perjalanan akademik dan profesional, tetapi menjadi amanah untuk melanjutkan visi Yamaguchi dalam memperluas akses pengetahuan bagi negara-negara berkembang.
“Menerima Suguru Yamaguchi Memorial Award merupakan bentuk dedikasi dalam mengembangkan infrastruktur internet dan jaringan teknologi untuk mendukung kemajuan pendidikan lintas negara,” jelas Prof Niswar.
Niswar adalah putra sulung dari Prof dr Syarifuddin Wahid PhD SpPA(K) SpF DFM, ahli bedah forensil yang mantan PR III Universitas Hasanuddin yang pernah menjadi Direktur Utama RS Ibnu Sina dan kini menjabat Direktur Utama RS PKU Universitas Muhammadiyah Makassar.
Rekam akademik publik menempatkan Niswar di Departemen Teknik Informatika Fakultas Teknik Unhas dengan bidang keahlian utama jaringan komputer, komputasi ubiquitous, dan Internet of Things.
Komputasi ubiquitous merupakan gagasan menghadirkan kemampuan komputasi ke berbagai perangkat dan lingkungan sehari-hari agar teknologi dapat bekerja secara terhubung, terus-menerus, dan tidak terasa membatasi interaksi penggunanya.
Bidang itu kemudian menjadi benang merah pendidikan, penelitian, dan karier Niswar ketika internet berkembang dari jaringan yang hanya diakses melalui komputer menjadi penghubung sensor, perangkat bergerak, sistem kesehatan, pertanian, dan layanan publik.
Pada Februari 2025, Niswar dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Rekayasa Internet dan Komputasi Ubiquitous Unhas bersama tiga profesor lain dari Fakultas Teknik.
Pidato pengukuhannya berjudul “Komputasi Ubiquitous dan Internet: Memperluas Konektivitas dan Interaksi Tanpa Batas di Era Digital”, tema yang merangkum bidang yang telah lama ditekuninya.
Profil riset nasional mencatat tiga bidang utama Niswar, yakni jaringan komputer, komputasi ubiquitous, dan Internet of Things, dengan H-index Scopus 10 serta H-index Google Scholar 13 (data ditelusuri pada September 2026).
Karya ilmiahnya bergerak pada persoalan terapan, antara lain jaringan sensor nirkabel, perangkat medis yang dapat dikenakan, pemantauan kualitas air untuk budidaya kepiting, pengelolaan sampah cerdas, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk membaca kematangan cabai dan sistem rumah sakit setelah bencana.
Karier kelembagaannya kemudian membawanya menjadi Ketua Lembaga Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial Unhas, posisi yang menempatkannya dalam pengembangan infrastruktur digital, layanan data, pembelajaran, talenta digital, dan pemanfaatan AI di lingkungan kampus.
Pengalaman yang membentuk perjalanan Niswar bermula pada 2002, ketika akses internet berkecepatan memadai belum mudah diperoleh di banyak wilayah Indonesia Timur.
Saat itu ia dipercaya menjadi operator jaringan pertama SOI Asia di Unhas dan terlibat langsung menyiapkan, mengonfigurasi, serta memelihara koneksi internet berbasis satelit.
Pekerjaan teknis tersebut membuka hubungan antara Unhas, kawasan Indonesia Timur, dan jaringan pendidikan global sehingga mahasiswa serta dosen dapat mengikuti pembelajaran, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi riset lintas negara.
Pengalaman mengurus perangkat dan sambungan satelit itu menjadi titik awal perubahan peran Niswar dari penjaga infrastruktur menjadi pendidik yang ikut menyiapkan manusia di balik teknologi.
Ia kemudian dipercaya sebagai anggota pengajar dalam program Asia Pacific Internet Engineering atau APIE, terlibat menyusun kurikulum regional serta melatih generasi baru insinyur internet dari berbagai negara.
Jejaring SOI Asia juga membuka jalan bagi keterlibatannya dalam beragam riset terapan berbasis Internet of Things dan kecerdasan buatan, dua bidang yang kemudian bertemu dalam Artificial Intelligence of Things atau AIoT.
AIoT memungkinkan perangkat yang saling terhubung tidak sekadar mengirim data, tetapi juga mengolah informasi dan menghasilkan respons berbasis kecerdasan artifisial untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Niswar kini membawa pengalaman dari era satelit tersebut ke agenda penguatan AIoT, ketahanan siber, kompetensi mahasiswa, dan kolaborasi riset internasional bagi Unhas serta perguruan tinggi di Indonesia Timur.
“Kontribusi ke depan dalam SOI Asia berfokus pada pengembangan riset berbasis AIoT dan ketahanan siber untuk memecahkan tantangan riil, serta memperluas program APIE guna membekali mahasiswa dengan keahlian internet engineering modern skala global,” tambah Prof Niswar.
Penghargaan di Bandung itu mempertemukan dua fase perjalanan Niswar: membangun jalur akses internet melalui satelit pada 2002 dan menyiapkan teknologi terhubung yang mampu berpikir serta bertahan menghadapi ancaman siber pada 2026.*