Papan Jalan Ince Nurdin di Kota Makassar yang namanya diambil dari tokoh intelektual dan budayawan Ince Nuruddin Daeng Magassing. dok/ekispos
SulawesiPos.com – Nama Jalan Ince Nurdin merupakan salah satu nama jalan yang cukup dikenal di pusat Kota Makassar.
Jalan ini berada tidak jauh dari kawasan Lapangan Karebosi dan terhubung dengan sejumlah ruas jalan utama di pusat kota.
Namun, di balik nama tersebut terdapat sosok Ince Nuruddin Daeng Magassing (1870–1943), seorang intelektual, pendidik, budayawan, sekaligus tokoh yang memiliki peran dalam perkembangan kajian kebudayaan Sulawesi Selatan pada masa kolonial.
Nama “Ince” sendiri berkaitan dengan komunitas keturunan Melayu yang telah lama bermukim di Makassar.
Sementara itu, Ince Nurdin dikenal memiliki perhatian besar terhadap bahasa, adat-istiadat, dan kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan.
Dalam catatan sejarah yang merujuk karya Abdurrazak Daeng Patunru, Ince Nurdin disebut pernah menjadi guru bahasa Bugis-Makassar di OSVIA (Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren), sekolah yang mendidik calon pegawai pemerintahan pribumi pada masa Hindia Belanda.
Patunru mencatat Ince Nurdin sebagai:
“Pensiunan Leeraar Bahasa Bugis-Makasar pada Osvia (Sekolah Pamongpraja) dan menjadi Penasihat Gubernur di bidang adat-istiadat di Makasar.”
Catatan tersebut menunjukkan bahwa kiprah Ince Nurdin tidak hanya berkaitan dengan dunia pendidikan.
Pengetahuannya mengenai bahasa dan adat masyarakat setempat juga membuatnya dipercaya membantu pemerintahan kolonial dalam urusan yang berkaitan dengan adat-istiadat.
Setelah pensiun, Ince Nurdin tetap aktif dalam kegiatan intelektual dan kebudayaan.
Dalam catatan sejarah yang merujuk Bingkisan Patunru: Sejarah Lokal Sulawesi Selatan, Ince Nurdin disebut tetap memberikan tenaga dan pikirannya untuk menggali kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Ia juga disebut memiliki hubungan dengan Prof. Dr. Cense, seorang ahli bahasa dan kebudayaan yang banyak melakukan penelitian mengenai masyarakat Sulawesi Selatan.
Dalam catatan tersebut, Ince Nurdin bahkan disebut sebagai:
“Pembantu utama dari Prof. Dr. Cense yang memimpin yayasan tersebut.”
Keterangan itu memperlihatkan bahwa Ince Nurdin memiliki posisi penting dalam lingkungan penelitian dan dokumentasi kebudayaan Sulawesi Selatan pada zamannya.
Nama Ince Nurdin juga muncul dalam pembahasan mengenai sejarah penggunaan gelar “Andi” di Sulawesi Selatan.
Sejumlah kajian sejarah mencatat bahwa Ince Nurdin menjadi salah satu tokoh yang memberikan penjelasan mengenai asal-usul dan penggunaan gelar tersebut dalam lingkungan masyarakat bangsawan Sulawesi Selatan.
Pembahasan mengenai gelar Andi sendiri tidak sederhana karena berkaitan dengan perubahan struktur sosial dan pemerintahan pada masa kolonial.
Karena itu, sosok Ince Nurdin menarik bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai orang yang ikut menyaksikan dan mendokumentasikan perubahan sosial masyarakat Sulawesi Selatan.
Ince Nurdin wafat di Makassar pada Desember 1943 dalam usia sekitar 73 tahun.
Puluhan tahun setelah masa hidupnya, namanya tetap dikenang melalui penamaan salah satu ruas jalan di Kota Makassar.
Jalan Ince Nurdin kini menjadi bagian dari kawasan perkotaan yang ramai dengan aktivitas masyarakat.
Di sepanjang kawasan tersebut juga masih dapat ditemukan bangunan-bangunan lama yang menjadi bagian dari jejak sejarah perkembangan Kota Makassar.
Salah satunya adalah bangunan di Jalan Ince Nurdin Nomor 37, yang memiliki karakter arsitektur kolonial dan diperkirakan dibangun sekitar dekade 1930–1940.
Keberadaan jalan tersebut membuat nama Ince Nurdin tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari warga Makassar.
Bukan sekadar nama jalan, Ince Nurdin merupakan bagian dari sejarah intelektual Makassar, seorang pendidik dan budayawan yang ikut mencatat bahasa, adat, serta kebudayaan Sulawesi Selatan pada masa yang penuh perubahan.
Dengan demikian, ketika warga melintasi Jalan Ince Nurdin, nama yang terlihat di papan jalan itu sesungguhnya membawa kisah tentang seorang tokoh yang pernah mendedikasikan pengetahuan dan pemikirannya untuk memahami serta mendokumentasikan kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan.