Sosok Sawerigading.
SulawesiPos.com – Nama Sawerigading tidak asing bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Namanya diabadikan menjadi nama jalan sekaligus kelurahan di Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar.
Di balik nama tersebut terdapat sosok legendaris dalam kebudayaan Bugis yang kisahnya dikenal melalui epos I La Galigo.
Sawerigading digambarkan sebagai tokoh besar yang memiliki kisah pengembaraan panjang dan menjadi bagian penting dari khazanah sastra Nusantara.
Dalam buku Sawerigading di Tanah Asing: Mitos I La Galigo di Sulawesi Tengah karya Jennifer W. Nourse, Sawerigading disebut sebagai “Odysseus-nya orang Bugis”.
Pengembaraannya tergambar dalam I La Galigo, yang disebut sebagai salah satu karya sastra paling terkemuka di Indonesia.
Kisah Sawerigading bahkan tidak hanya hidup di tengah masyarakat Bugis.
Cerita mengenai tokoh tersebut turut menyebar ke berbagai wilayah Sulawesi dan sekitarnya.
Di banyak tempat, Sawerigading dikenal sebagai tokoh dan pahlawan agung dari tanah Bugis.
Namun, penelitian Nourse memperlihatkan sisi lain dari sosok Sawerigading.
Di kalangan masyarakat Laujé di Sulawesi Tengah, khususnya yang bermukim di Kecamatan Tinombo, Teluk Tomini, Sawerigading justru diyakini bukan sebagai tokoh Bugis, melainkan putera asli Laujé.
Dalam tradisi Laujé yang dikaji Nourse, kisah Sawerigading bermula dari sosok yang disebut Si Anak Rakus atau To Modoko’.
Dikisahkan, pasangan suami istri pertama di Laujé yang telah lanjut usia belum memiliki anak. Mereka kemudian berdoa agar dikaruniai seorang putera.
Doa tersebut terkabul, tetapi anak yang lahir memiliki tubuh besar, kekuatan luar biasa dan nafsu makan yang sangat besar.
Ia bahkan disebut mampu menghabiskan tujuh bakul nasi dalam sehari.
Kekuatan fisiknya juga digambarkan luar biasa. Ia mampu menebang pohon di tujuh sisi gunung dan mengangkat batu maupun batang pohon dalam jumlah besar.
Karena tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan makan anaknya, sang ayah berniat membunuhnya.
Berbagai cara dilakukan, termasuk menyuruhnya mengambil batu besar di jurang dan mencari kayu bakar di tempat tertentu.
Namun, setiap kali sang ayah berusaha mencelakainya, Si Anak Rakus justru berhasil kembali dengan selamat.
Akhirnya, ia menyadari bahwa kedua orang tuanya tidak lagi menginginkannya dan memilih meninggalkan rumah.
Sebelum pergi, ibunya menyiapkan bekal perjalanan, sementara sang ayah memberikan sebilah pedang ajaib yang terbuat dari Batu Bertulis.
Benda tersebut dipercaya menandai pusat bumi dan tempat segala sesuatu, termasuk manusia dan hewan, bersumber.
Setelah berjalan selama tujuh hari, Si Anak Rakus tiba di sebuah kampung tak berpenghuni di Tanah Cina.
Di sana ia menemukan seorang gadis yang bersembunyi di dalam tong.
Gadis tersebut kemudian meminta perlindungan karena kampung itu diteror burung raksasa yang telah membunuh seluruh penduduk.
Si Anak Rakus berhasil membunuh burung tersebut menggunakan pedang ajaibnya dan menghidupkan kembali penduduk kampung.
Ia kemudian menikahi gadis tersebut. Dari perkawinan itu lahirlah putera pertama mereka yang bernama Sawerigading.
Kisah tersebut menarik karena menempatkan Sawerigading sebagai keturunan seorang laki-laki Laujé dan perempuan dari Tanah Cina.
Nourse kemudian mencatat bahwa “Cina” yang dimaksud dalam cerita tersebut ternyata merupakan nama kuno Pammana di Wajo, Sulawesi Selatan.
Dengan demikian, cerita tersebut dapat dipahami sebagai kisah pertemuan antara seorang laki-laki asli Laujé dengan perempuan dari wilayah Bugis.
Dalam versi tersebut, garis asal-usul Sawerigading sebagai tokoh Bugis menjadi berbeda.
Ia justru ditempatkan sebagai keturunan dari seorang pria Laujé yang menikahi perempuan dari luar komunitasnya.
Bagi masyarakat Laujé, kisah itu juga memiliki makna mengenai hubungan antara penduduk asli dan kelompok pendatang.
Keturunan Si Anak Rakus dari berbagai perkawinan kemudian dipandang sebagai bagian dari kelompok yang disebut sebagai “saudara tua”.
Karena itu, Sawerigading tidak hanya dipandang sebagai tokoh dalam sebuah cerita masa lalu.
Ia menjadi bagian dari cara masyarakat Laujé memahami hubungan kekerabatan, identitas, kekuasaan dan kedudukan kelompok pendatang.
Dalam kisah selanjutnya, Sawerigading digambarkan mewarisi benda-benda dan pengetahuan ritual dari ayahnya yang berasal dari Laujé.
Setelah melakukan perjalanan dan menikah dengan perempuan dari berbagai negeri, Sawerigading disebut kembali ke tanah Laujé sebagai seorang sando atau dukun ritual yang memiliki kesaktian luar biasa.
Namun, kepulangannya mempertemukannya dengan tokoh lain yang juga memiliki kesaktian, yakni Nabi Muhammad yang dalam cerita tersebut disebut sebagai “saudara muda dari Mekah”.
Keduanya kemudian beradu kesaktian dengan menyusun telur burung maleo sebanyak tujuh tingkat.
Sawerigading berhasil menyusun tujuh tingkat telur, tetapi Nabi Muhammad menyusunnya dengan memberikan ruang di antara setiap lapisan.
Nabi Muhammad kemudian dinyatakan sebagai pemenang. Sawerigading dan kesaktiannya disebut lenyap ditelan laut, sementara Muhammad menjadi penguasa di muka bumi.
Cerita ini kemudian dapat dimaknai sebagai gambaran hubungan antara adat dan agama. Sawerigading merepresentasikan adat dan kekuatan ritual, sedangkan Nabi Muhammad merepresentasikan agama Islam yang kemudian hadir sebagai kekuatan baru.
Menariknya, penelitian mengenai Sawerigading menunjukkan bahwa satu tokoh dapat memiliki tafsir berbeda di tengah masyarakat.
Di Sulawesi Selatan ia kuat dikenal sebagai tokoh dalam tradisi Bugis, sementara masyarakat Laujé di Sulawesi Tengah memiliki versi yang menempatkannya sebagai keturunan asli Laujé.
Perbedaan tersebut justru memperlihatkan betapa luasnya pengaruh cerita Sawerigading dan I La Galigo dalam membentuk ingatan budaya masyarakat di Sulawesi.