Jalan Monginsidi
SulawesiPos.com – Di salah satu ruas jalan Kota Makassar, nama Wolter Monginsidi terus hidup di tengah aktivitas masyarakat.
Jalan yang panjangnya sekitar 1 kilometer itu kini dipenuhi aktivitas pendidikan, usaha, dan kuliner.
Namun, nama yang tertera di jalan tersebut berasal dari seorang pemuda yang menghabiskan masa mudanya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Robert Wolter Mongisidi atau Robert Wolter Monginsidi lahir di Malalayang, yang kini menjadi bagian dari Kota Manado, pada 14 Februari 1925.
Ia kemudian datang ke Makassar setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan terlibat dalam perlawanan terhadap kembalinya kekuasaan Belanda melalui NICA.
Di Makassar, Wolter Monginsidi menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan perlawanan pemuda.
Arsip Nasional Republik Indonesia mencatatnya sebagai Sekretaris Jenderal Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), organisasi yang menghimpun berbagai kelompok kelaskaran di Sulawesi Selatan.
Perjuangannya berakhir di depan regu tembak pada 5 September 1949. Usianya ketika itu baru 24 tahun.
Meski telah puluhan tahun berlalu, namanya kemudian diabadikan di berbagai tempat, termasuk salah satu ruas jalan di Makassar.
Wolter Monginsidi lahir dari pasangan Petrus Mongisidi dan Lina Suawa. Di lingkungan keluarga, ia akrab dipanggil Bote.
Ia menempuh pendidikan dasar di Hollands Inlandsche School (HIS), kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Frater Don Bosco, Manado.
Ketika pendudukan Jepang berlangsung, Monginsidi mempelajari bahasa Jepang di sekolah keguruan di Tomohon.
Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, ia sempat mengajar bahasa Jepang di Liwutung, Minahasa, dan Luwuk.
Pendidikan dan pengalamannya kemudian menjadi bekal ketika ia memilih terlibat dalam perjuangan.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, situasi di Indonesia belum sepenuhnya terbebas dari ancaman kembalinya pemerintahan kolonial.
Di Makassar, pasukan Belanda bersama NICA berusaha mengambil kembali kendali pemerintahan.
Wolter Monginsidi yang berada di Makassar menolak keadaan tersebut. Ia kemudian bergabung dengan kelompok-kelompok pemuda yang melakukan perlawanan terhadap NICA.
Perlawanan di Makassar pada masa itu berlangsung secara gerilya. Ia dikenal aktif dalam serangan terhadap pos dan patroli Belanda, termasuk dalam upaya merampas persenjataan.
Ensiklopedia resmi Kementerian Kebudayaan mencatat bahwa ia merupakan salah satu penggerak serangan terhadap polisi dan tentara NICA di Makassar.
Ia juga terlibat dalam kelompok Harimau Indonesia, salah satu unsur dalam LAPRIS.
Pada 17 Juli 1946, sejumlah kelompok perjuangan di Sulawesi Selatan membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS).
Organisasi ini merupakan hasil penggabungan berbagai organisasi kelaskaran dan memiliki anggota yang tersebar di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan. Wolter Monginsidi dipercaya menduduki posisi sekretaris.
Aktivitasnya dalam menyerang pos-pos dan patroli NICA serta mengumpulkan persenjataan untuk kelompok perjuangan.
Keberaniannya membuat Wolter Monginsidi menjadi salah satu tokoh yang diburu Belanda. Pada 28 Februari 1947, ia akhirnya ditangkap dan ditahan.
Namun, penahanan tersebut tidak berlangsung lama.
Pada 27 Oktober 1947, Wolter Monginsidi berhasil melarikan diri dari tahanan. Kebebasan itu kembali membawanya ke dalam perjuangan, tetapi Belanda akhirnya berhasil menangkapnya untuk kedua kalinya.
Kali ini, ia tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri.
Setelah kembali ditangkap, Wolter Monginsidi menjalani proses hukum dan akhirnya dijatuhi hukuman mati pada 5 September 1949.
Ia dieksekusi oleh regu tembak Belanda di kawasan Tello, Makassar, ketika usianya baru 24 tahun.
Kisah mengenai sikap Wolter Monginsidi pada saat-saat terakhir kemudian menjadi bagian yang paling dikenang dari perjalanan hidupnya.
Ia disebut menolak matanya ditutup dan menggenggam Kitab Injil ketika menghadapi regu tembak.
Sebuah tulisan tangan yang disebut ditemukan dalam Injil yang dibawanya berbunyi, “Setia hingga terakhir dalam keyakinan.”
Ada pula kesaksian yang menyebut Wolter Monginsidi meneriakkan “Merdeka!” sebelum ditembak.
Jenazah Wolter Monginsidi awalnya dimakamkan di sekitar lokasi eksekusi di Pacinang. Setahun kemudian, pada 10 November 1950, makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.
Pengorbanannya kemudian mendapatkan pengakuan negara. Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1973.
Beberapa hari kemudian, pada 10 November 1973, ia juga dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana. Penghargaan tersebut diterima oleh ayahnya, Petrus Mongisid yang saat itu berusia 80 tahun.
Namanya kemudian digunakan untuk berbagai fasilitas dan sarana publik. Di Sulawesi Tenggara, Bandara Wolter Monginsidi di Kendari pernah menggunakan namanya sebelum kemudian berganti menjadi Bandar Udara Haluoleo.
Namanya juga digunakan untuk KRI Monginsidi, salah satu kapal perang TNI Angkatan Laut, serta Rumah Sakit TNI AD Robert Wolter Monginsidi di Manado.
Di Makassar, penghormatan terhadapnya hadir melalui nama jalan.
Menariknya, dalam penulisan nama tokoh, sumber resmi kebudayaan dan arsip banyak menggunakan bentuk Wolter Mongisidi, sementara masyarakat lebih sering mengenalnya dengan ejaan Wolter Monginsidi.
Nama Wolter Monginsidi kini menjadi bagian dari keseharian warga Makassar melalui Jalan Monginsidi.
Ruas jalan ini membentang sekitar 1 kilometer dan menjadi salah satu kawasan yang diisi berbagai aktivitas masyarakat.
Jejak namanya bahkan melekat pada sejumlah institusi pendidikan, SD Negeri Mongisidi.
Tidak jauh dari sana terdapat SMK Negeri 8 Makassar di Jalan Monginsidi Nomor 17, Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar.
Sekolah tersebut merupakan satuan pendidikan negeri yang kini memiliki berbagai program keahlian.
Wajah kawasan Jalan Monginsidi juga berkembang mengikuti gaya hidup masyarakat kota.
Salah satunya terlihat dari keberadaan Kedai Lawas Monginsidi di Jalan Monginsidi.
Tempat ini mengusung konsep warung kopi bernuansa nostalgia dan menawarkan sejumlah menu, termasuk minuman serta makanan yang akrab dengan selera lokal.
Di tempat seperti itu, anak-anak muda Makassar kini bisa menikmati kopi atau sarabba, sementara nama seorang pemuda yang gugur pada usia 24 tahun tetap terpampang di alamat jalan yang mereka lewati.