Categories: Makassar

Jalan Datu Museng, Kisah Pejuang dan Cinta Tragis “Romeo-Juliet” Makassar

SulawesiPos.com – Jalan Datu Museng di Kelurahan Maloku, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, bukan sekadar nama ruas jalan di kawasan pusat kota.

Jalan yang berada tidak jauh dari Pantai Losari itu menyimpan nama seorang tokoh yang kisah hidupnya telah melebur dengan cerita kepahlawanan, cinta, dan tradisi lisan masyarakat Makassar.

Datu Museng dikenal pula dengan nama I Baso Mallarangang Datu Busing. Dalam catatan Sistem Informasi Cagar Budaya Kota Makassar, ia digambarkan sebagai tokoh yang memiliki latar belakang bangsawan Makassar dan kemudian tumbuh di Sumbawa.

Kisahnya dengan Maipa Deapati berkembang sebagai cerita tutur kepahlawanan yang dipenuhi unsur asmara, kesetiaan dan pengorbanan.

Nama Datu Museng dan Maipa Deapati kemudian tidak hanya hidup dalam cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Keduanya juga diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Kota Makassar, membuat kisah tersebut tetap hadir di tengah kehidupan masyarakat hingga sekarang.

Datu Museng, Pemuda Makassar Tumbuh di Sumbawa

Dalam catatan Pemkot Makassar, Datu Museng pada masa mudanya dikenal dengan nama I Baso Mallarangang Datu Busing.

Ia disebut memiliki hubungan dengan lingkungan bangsawan Gowa dan sejak kecil meninggalkan tanah asalnya bersama sang kakek, Addengareng.

Kepergian tersebut dikaitkan dengan situasi politik setelah Gowa-Tallo jatuh ke tangan VOC.

Datu Museng dan kakeknya kemudian menyeberang ke Sumbawa untuk mencari perlindungan. Di wilayah tersebut, Datu Museng menghabiskan masa kecil hingga dewasa.

Di Sumbawa pula perjalanan hidupnya bertemu dengan sosok yang kemudian membuat namanya dikenal luas dalam tradisi sastra Makassar, yakni Maipa Deapati.

Maipa Deapati disebut sebagai putri Datu Taliwang, Sultan Sumbawa pada era 1700-an. Dalam cerita yang berkembang, pertemuan keduanya terjadi ketika mereka sama-sama menempuh pendidikan agama.

Dari pertemuan tersebut tumbuh hubungan yang kemudian menjadi inti kisah Datu Museng dan Maipa Deapati.

Namun, cerita tersebut tidak berhenti sebagai kisah cinta dua anak bangsawan.

Cinta Datu Museng dan Maipa Deapati Penuh Halangan

Kisah Datu Museng dan Maipa Deapati berkembang dalam tradisi sinrilik, salah satu bentuk sastra lisan masyarakat Makassar.

Penelitian Balai Bahasa Sulawesi Selatan menyebut cerita Datu Museng dan Maipa Deapati sebagai cerita rakyat yang mengandung berbagai unsur budaya, termasuk religi, mitos, hukum, dan adat istiadat.

Dalam versi yang dicatat Pemkot Makassar, hubungan keduanya menghadapi persoalan karena Maipa Deapati telah dijodohkan dengan Pangeran Mangngalasa, putra mahkota Kerajaan Lombok.

Datu Museng kemudian disebut pergi ke Mekkah dan Madinah untuk berguru. Setelah kembali, ia membantu menyembuhkan Maipa Deapati yang jatuh sakit.

Hubungan keduanya akhirnya mendapat persetujuan Sultan Sumbawa. Maipa Deapati dan Datu Museng menikah, sementara Datu Museng kemudian dipercaya menjadi panglima perang Kerajaan Sumbawa.

Cerita tersebut kemudian berkembang menjadi kisah cinta sekaligus kepahlawanan. Konflik semakin besar ketika Datu Museng dan Maipa Deapati kembali ke Makassar.

Pulang ke Makassar dan Berhadapan dengan Belanda

Dalam kisah yang diwariskan melalui sinrilik, Datu Museng kembali ke Makassar setelah mendapat perintah untuk membantu Kerajaan Gowa yang berada dalam situasi konflik dengan Belanda.

Kedatangan Maipa Deapati bersama suaminya kemudian memunculkan persoalan baru. Kecantikan Maipa Deapati disebut menarik perhatian Tumalompoa, tokoh yang dalam cerita digambarkan memiliki hubungan dengan kekuasaan Belanda di Makassar.

Konflik pun berkembang menjadi perlawanan.

Datu Museng digambarkan menghadapi sejumlah pasukan dan tubarani yang berada di pihak lawan. Dalam cerita tersebut, ia menggunakan badik yang disebut Matatarampa’na dan berhasil menghadapi sejumlah tokoh yang menjadi lawannya.

Kisah Datu Museng merupakan bagian dari tradisi tutur yang kemudian dibukukan dan dikembangkan dalam berbagai bentuk sastra.

Sistem Informasi Cagar Budaya Kota Makassar mencatat bahwa kisah tersebut mulai berkembang sejak 1765 dan kemudian disadur dalam bentuk tulisan oleh misionaris Belanda Benjamin Matthes pada 1852, dengan hasil saduran mencapai sekitar 1.150 baris.

Karena itu, kisah pertempuran Datu Museng tidak seluruhnya dapat diperlakukan seperti laporan sejarah faktual. Sebagian merupakan bagian dari narasi sinrilik yang diwariskan masyarakat.

Akhir Kisah Datu Museng dan Maipa Deapati

Bagian paling terkenal dari kisah ini adalah akhir perjalanan Datu Museng dan Maipa Deapati.

Dalam cerita yang berkembang, Maipa Deapati menghadapi situasi ketika dirinya terancam jatuh ke tangan pihak lawan.

Ia kemudian memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri melalui tangan orang yang paling dicintainya.

Film Datu Museng dan Maipa yang tayang pada 2018

Datu Museng disebut memenuhi permintaan tersebut dan berjanji akan menyusul setelah menyelesaikan pertempuran.

Setelah Maipa Deapati meninggal, Datu Museng kembali menghadapi pasukan lawan. Menjelang Magrib, ia kemudian menyerahkan diri pada takdir sesuai janji kepada istrinya.

Dalam versi cerita tersebut, Datu Museng meminta Karaeng Galesong mengakhiri hidupnya.

Akhir tragis itulah yang membuat Datu Museng dan Maipa Deapati kerap disebut sebagai “Romeo dan Juliet dari Makassar”, merujuk pada kisah cinta dua tokoh yang berakhir dengan kematian dan kemudian dikenang sebagai simbol kesetiaan serta pengorbanan.

Kisah mereka diangkat ke dalam sebuah film produksi Rere Art2tonic yang pertama kali rilis pada 2018. Film ini tayang di bioskop Makassar pada 7 November 2024, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Makassar yang ke-417.

Makam Datu Museng di Jalan yang Menyandang Namanya

Jejak cerita tersebut masih dapat ditemukan secara fisik di Makassar.

Makam Datu Museng berada di Jalan Datu Museng, Kelurahan Maloku, Kecamatan Ujung Pandang. Sistem Informasi Cagar Budaya Kota Makassar mencatat lokasi tersebut sebagai struktur makam dengan nama lain I Baso Mallarangang Datu Busing.

Makam Datu Museng

Makam Datu Museng berada di ujung Jalan Datu Museng, tepat di seberang Rumah Sakit Stella Maris. Sementara Jalan Maipa, yang menggunakan nama Maipa Deapati, berada bersebelahan dengan Jalan Datu Museng.

Kedekatan kedua ruas jalan tersebut menjadi sesuatu yang menarik. Dua nama yang dalam cerita dikenal sebagai pasangan yang mengalami kisah cinta tragis kini berdampingan dalam ruang kota Makassar.

Jalan Datu Museng sendiri merupakan salah satu ruas di pusat Kota Makassar yang menghubungkan kawasan Jalan Penghibur dekat Pantai Losari ke arah timur menuju kawasan persimpangan Jalan Somba Opu dan Jalan Lamaddukelleng.

Panjangnya sekitar 300 meter dan ruasnya menerapkan sistem satu arah.

Bagi masyarakat yang menuju Instalasi Gawat Darurat maupun gedung poliklinik Rumah Sakit Stella Maris, Jalan Datu Museng juga menjadi salah satu akses yang digunakan.

Namun, suasana jalan itu kini tentu jauh berbeda dari gambaran Makassar dalam cerita Datu Museng.

Seafood dan Aktivitas Kota di Jalan Datu Museng

Berada di sekitar Pantai Losari membuat Jalan Datu Museng juga bersinggungan dengan aktivitas kuliner yang menjadi salah satu daya tarik kawasan pusat kota Makassar.

Jalan Datu Museng

Di sepanjang ruas tersebut terdapat sejumlah pilihan makanan, terutama kuliner seafood. Letaknya yang berdekatan dengan kawasan pesisir membuat aktivitas kuliner menjadi bagian dari wajah Jalan Datu Museng saat ini.

Kawasan ini juga berada dekat dengan berbagai tujuan wisata dan kuliner di sekitar Pantai Losari.

Orang yang datang ke kawasan tersebut tidak hanya mencari jejak cerita Datu Museng dan Maipa Deapati, tetapi juga menikmati suasana pusat kota, kuliner laut, dan aktivitas masyarakat.

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: Nama Jalan Makassar Datu Museng Maipa Deapati Romeo Juliet