Membumikan Nilai 400 Tahun Syekh Yusuf, Kaum Muda Sulsel Diajak Kedepankan Meritokrasi dan Spiritualitas Politik

SulawesiPos.com – Laboratorium Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar bekerja sama dengan Dewan Pengurus Daerah (DPD) KNPI Sulawesi Selatan menggelar diskusi Coffee Morning dan Bincang Pagi bertajuk “400 Tahun Syekh Yusuf: Jejak Tasawuf, Politik, dan Relevansinya bagi Pemuda Sulsel”.

Kegiatan tersebut berlangsung di Warkop Daeng Anas, Jalan RSI Faisal, Makassar, Jumat (22/5/2026).

Diskusi yang dipandu oleh Ketua Harian DPD KNPI Sulsel, Dr. M. Syaiful, sebagai moderator ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin, Syahrir Karim, Ph.D., serta Ketua Umum Angkatan Muda Syekh Yusuf yang juga Wakil Ketua Umum DPP AMPI, Dr. drg. Arief Rosyid Hasan.

Inspirasi Spiritual dalam Realitas Politik

Dalam penyampaiannya, Syahrir Karim, Ph.D. menekankan bahwa rekam jejak para tokoh masa lalu, khususnya ulama dan sufi seperti Syekh Yusuf Al-Makassari, harus menjadi kompas moral bagi generasi muda dalam melihat realitas sosial dan politik hari ini.

BACA JUGA: 
Ziarah Makam Syekh Yusuf di Gowa, Destinasi Religi Ramai Dikunjungi Saat Ramadan

Menurut Syahrir, pemuda masa kini membutuhkan asupan spiritualitas agar tidak terjebak dalam pragmatisme politik.

Syekh Yusuf, lanjutnya, adalah figur muda pada zamannya yang berkeliling dunia dan kenyang akan pengalaman politik serta sosial.

“Pikiran-pikiran beliau harus membumi bagi anak-anak muda di Makassar. Kaum muda hari ini harus mendapat siraman rohani dan spiritualitas dalam memaknai politik, menjadikan nilai-nilai perjuangan tokoh masa lalu sebagai inspirasi untuk menyikapi kondisi pemilu dan sosial-politik saat ini,” ujar Syahrir.

Melawan Penjajahan Baru dan Mendorong Meritokrasi

Sementara itu, Dr. Arief Rosyid Hasan menyoroti pengakuan global terhadap Syekh Yusuf yang telah diakui oleh UNESCO dalam peringatan 400 tahunnya.

Ia mengingatkan agar generasi muda Sulawesi Selatan tidak “kufur nikmat” dengan mengabaikan warisan intelektual dan spiritual sang pahlawan nasional, sementara bangsa lain seperti Belanda dan Jerman justru mempelajarinya.

Arief menjelaskan, daya dobrak pemikiran Syekh Yusuf dalam melawan kolonialisme melintasi zaman, bahkan menginspirasi Dasasila Bandung 1955, perjuangan Nelson Mandela di Afrika Selatan, hingga relevan dengan gerakan geopolitik modern seperti BRICS dalam membendung hegemoni global.

BACA JUGA: 
Prof Munawir: Andi Amran Sulaiman, Ketegasan yang Berakar, Kepedulian yang Berbuah

Lebih lanjut, Arief mengkritik fenomena sosial di Sulsel saat ini yang dinilainya masih kerap terjebak pada sentimen latar belakang keluarga atau dinasti (nama belakang), ketimbang mengedepankan kualitas individu.

Ia merefleksikan bagaimana Syekh Yusuf lahir di Makassar yang kala itu merupakan pelabuhan dunia, tumbuh dengan pemikiran terbuka, dan berinteraksi global tanpa sekat.

“DNA Sulsel yang terbuka dan mendunia itu harus dimunculkan kembali. Sekarang ini sering mengemuka soal siapa nama belakang seseorang. Seharusnya kita sudah bicara meritokrasi. Melalui momentum bincang Syekh Yusuf ini, anak muda Sulsel harus sadar bahwa walau tidak punya nama belakang yang besar, yang terpenting adalah memiliki iman, ilmu, dan amal yang konsisten,” tegas Arief.

Diskusi yang dikemas santai ini diakhiri dengan sesi tanya jawab, memantik antusiasme para aktivis pemuda, mahasiswa, dan akademisi yang hadir untuk kembali mengkaji kitab-kitab peninggalan Syekh Yusuf yang kaya akan nilai tasawuf dan kemanusiaan. (mn abdurrahman)

BACA JUGA: 
400 Tahun Syekh Yusuf: AMSY Dorong Film Layar Lebar untuk Menyapa Generasi Muda

SulawesiPos.com – Laboratorium Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar bekerja sama dengan Dewan Pengurus Daerah (DPD) KNPI Sulawesi Selatan menggelar diskusi Coffee Morning dan Bincang Pagi bertajuk “400 Tahun Syekh Yusuf: Jejak Tasawuf, Politik, dan Relevansinya bagi Pemuda Sulsel”.

Kegiatan tersebut berlangsung di Warkop Daeng Anas, Jalan RSI Faisal, Makassar, Jumat (22/5/2026).

Diskusi yang dipandu oleh Ketua Harian DPD KNPI Sulsel, Dr. M. Syaiful, sebagai moderator ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin, Syahrir Karim, Ph.D., serta Ketua Umum Angkatan Muda Syekh Yusuf yang juga Wakil Ketua Umum DPP AMPI, Dr. drg. Arief Rosyid Hasan.

Inspirasi Spiritual dalam Realitas Politik

Dalam penyampaiannya, Syahrir Karim, Ph.D. menekankan bahwa rekam jejak para tokoh masa lalu, khususnya ulama dan sufi seperti Syekh Yusuf Al-Makassari, harus menjadi kompas moral bagi generasi muda dalam melihat realitas sosial dan politik hari ini.

BACA JUGA: 
Prof Munawir: Andi Amran Sulaiman, Ketegasan yang Berakar, Kepedulian yang Berbuah

Menurut Syahrir, pemuda masa kini membutuhkan asupan spiritualitas agar tidak terjebak dalam pragmatisme politik.

Syekh Yusuf, lanjutnya, adalah figur muda pada zamannya yang berkeliling dunia dan kenyang akan pengalaman politik serta sosial.

“Pikiran-pikiran beliau harus membumi bagi anak-anak muda di Makassar. Kaum muda hari ini harus mendapat siraman rohani dan spiritualitas dalam memaknai politik, menjadikan nilai-nilai perjuangan tokoh masa lalu sebagai inspirasi untuk menyikapi kondisi pemilu dan sosial-politik saat ini,” ujar Syahrir.

Melawan Penjajahan Baru dan Mendorong Meritokrasi

Sementara itu, Dr. Arief Rosyid Hasan menyoroti pengakuan global terhadap Syekh Yusuf yang telah diakui oleh UNESCO dalam peringatan 400 tahunnya.

Ia mengingatkan agar generasi muda Sulawesi Selatan tidak “kufur nikmat” dengan mengabaikan warisan intelektual dan spiritual sang pahlawan nasional, sementara bangsa lain seperti Belanda dan Jerman justru mempelajarinya.

Arief menjelaskan, daya dobrak pemikiran Syekh Yusuf dalam melawan kolonialisme melintasi zaman, bahkan menginspirasi Dasasila Bandung 1955, perjuangan Nelson Mandela di Afrika Selatan, hingga relevan dengan gerakan geopolitik modern seperti BRICS dalam membendung hegemoni global.

BACA JUGA: 
400 Tahun Syekh Yusuf: AMSY Dorong Film Layar Lebar untuk Menyapa Generasi Muda

Lebih lanjut, Arief mengkritik fenomena sosial di Sulsel saat ini yang dinilainya masih kerap terjebak pada sentimen latar belakang keluarga atau dinasti (nama belakang), ketimbang mengedepankan kualitas individu.

Ia merefleksikan bagaimana Syekh Yusuf lahir di Makassar yang kala itu merupakan pelabuhan dunia, tumbuh dengan pemikiran terbuka, dan berinteraksi global tanpa sekat.

“DNA Sulsel yang terbuka dan mendunia itu harus dimunculkan kembali. Sekarang ini sering mengemuka soal siapa nama belakang seseorang. Seharusnya kita sudah bicara meritokrasi. Melalui momentum bincang Syekh Yusuf ini, anak muda Sulsel harus sadar bahwa walau tidak punya nama belakang yang besar, yang terpenting adalah memiliki iman, ilmu, dan amal yang konsisten,” tegas Arief.

Diskusi yang dikemas santai ini diakhiri dengan sesi tanya jawab, memantik antusiasme para aktivis pemuda, mahasiswa, dan akademisi yang hadir untuk kembali mengkaji kitab-kitab peninggalan Syekh Yusuf yang kaya akan nilai tasawuf dan kemanusiaan. (mn abdurrahman)

BACA JUGA: 
Ziarah Makam Syekh Yusuf di Gowa, Destinasi Religi Ramai Dikunjungi Saat Ramadan

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru