SulawesiPos.com – Wartawan senior sekaligus entrepreneur Dr. Hendra Noor Saleh, SE., M.Si., DBA menyampaikan pandangannya mengenai masa depan bisnis media saat menjadi pembicara dalam acara buka puasa bersama yang digelar SulawesiPos.com bersama Dewan Pembaca di Kedai Ayah UQ, Jumat (13/3/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Hendra membahas bagaimana media saat ini perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman, terutama dalam mengelola bisnis tanpa meninggalkan idealisme jurnalistik.
Hendra, yang dikenal memiliki pengalaman panjang di dunia media, mengatakan bahwa profesi wartawan sejatinya adalah panggilan hidup yang tidak mengenal batas waktu.
“Wartawan itu profesi seumur hidup,” ujarnya di hadapan peserta yang hadir dalam forum silaturahmi tersebut.
Ia juga mengungkapkan pengalamannya memimpin berbagai perusahaan media di Indonesia. Menurutnya, sepanjang kariernya ia pernah memimpin hingga sepuluh media berbeda.
“Saya mungkin satu-satunya di Indonesia yang pernah memimpin 10 media berbeda,” kata Hendra.
Pengalaman tersebut, lanjutnya, membentuk cara pandangnya yang selalu berusaha berpikir berbeda dalam mengembangkan bisnis media.
Ia mencontohkan bagaimana sebuah majalah yang pernah ia pimpin mampu mengalami peningkatan signifikan setelah dilakukan perubahan strategi bisnis.
“Saya berani berpikir berbeda, dan saya berhasil mengantar eksamplar majalah ini naik hingga 300 persen,” jelasnya.
Media dan Event Tidak Bisa Dipisahkan
Dalam paparannya, Hendra juga menyoroti perubahan lanskap industri media. Menurutnya, media saat ini tidak lagi bisa hanya mengandalkan pendapatan dari iklan atau penjualan konten.
Ia menilai bahwa media dan industri event kini sudah menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan.
“Media dan event adalah satu kesatuan, tidak bisa lagi dipisah-pisah,” ujarnya.
Hendra mengakui bahwa dulu banyak wartawan yang menganggap kegiatan event tidak sejalan dengan idealisme jurnalistik.
Namun menurutnya, pola pikir tersebut sudah tidak relevan dengan kondisi industri saat ini.
“Dulu kita berpikir, saya wartawan, saya idealisme, saya tidak mau mengurus event. Menurut saya itu sudah menjadi fosil masa lalu,” tegasnya.
Idealisme dan Bisnis Harus Berjalan Bersama
Menurut Hendra, idealisme dalam jurnalisme tetap menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Namun di sisi lain, media juga harus mampu bertahan secara ekonomi.
Ia menegaskan bahwa bisnis yang sehat justru menjadi penopang agar media tetap dapat menjalankan fungsi jurnalistiknya dengan baik.
“Idealisme dalam jurnalisme adalah keniscayaan. Tapi yang membuat bisnis ini untung, menggaji kita semua, menggaji karyawan, itu juga sebuah keniscayaan,” ungkapnya.
Karena itu, menurutnya, media perlu menemukan keseimbangan antara idealisme dan keberlanjutan bisnis.
Mendorong Literasi di Daerah Perbatasan
Selain membahas bisnis media, Hendra juga menyinggung pentingnya peran media dalam meningkatkan literasi masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa masih banyak sekolah di daerah perbatasan Indonesia yang belum memiliki fasilitas perpustakaan.
“Ada sekitar 70.000 sekolah di pulau-pulau perbatasan yang tidak memiliki perpustakaan. Jangankan mendapatkan bacaan berkualitas, bacaan gratis saja mereka tidak punya,” jelasnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat siswa di daerah terpencil sulit bersaing dengan sekolah lain yang memiliki akses literasi lebih baik.
Untuk mengatasi hal itu, Hendra mengaku pernah menggagas kerja sama antara media dan perusahaan untuk mendukung penyediaan bahan bacaan bagi sekolah.
Ia menjelaskan bahwa meskipun perusahaan tidak diperbolehkan masuk langsung ke sekolah, tetap ada cara kreatif untuk membantu meningkatkan literasi.
“Perusahaan memang tidak boleh langsung masuk ke sekolah. Tapi bukan berarti kita berhenti berpikir. Saya kemudian menggandeng perusahaan-perusahaan untuk masuk melalui media,” pungkas Hendra.

