31 C
Makassar
2 March 2026, 16:22 PM WITA

Aksi Tembak-tembakan Omega di Makassar Ganggu Ketertiban, Wali Kota Appi: Ini Tak Boleh Dibiarkan

SulawesiPos.com – Aksi saling tembak menggunakan senjata mainan jenis “omega” dengan amunisi peluru plastik hingga jeli semakin sering ditemukan di Makassar selama bulan suci Ramadan.

Aktivitas yang semula dipandang sebagai permainan anak-anak itu kini memicu keresahan publik karena dinilai berisiko membahayakan keselamatan warga serta mengganggu ketertiban umum.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menanggapi fenomena tersebut dengan serius. Ia menegaskan bahwa praktik tersebut tidak bisa dianggap sepele dan perlu penanganan tegas.

“Yaa, ini tidak boleh dibiarkan, permainan tembak-tembak tersebut harus ditangani secara serius oleh seluruh pihak,” jelas Munafri kepada awak media di Kantor Balai Kota Makassar, Senin (2/3/2026).

“Penaganan dan pengawasan bersama, mulai dari Pihak Kepolisian, pemerintah kecamatan hingga lingkungan keluarga RT/RW bertindak,” sambung Munafri.

Senjata mainan “mega” sendiri merujuk pada mainan tembak populer yang menggunakan peluru berukuran besar berbahan busa, awalnya dirancang untuk permainan aman anak-anak dengan jangkauan tembak tertentu.

Namun, dalam praktiknya di Makassar, permainan ini banyak melibatkan anak-anak di bawah umur hingga pelajar yang beraksi pada malam hari selama Ramadan, khususnya setelah salat tarawih.

Tak jarang, aksi saling tembak tersebut dilakukan di jalan umum, bahkan sambil mengendarai sepeda motor, sehingga dinilai sangat mengganggu suasana Ramadan dan membahayakan pengguna jalan lain.

Munafri menilai penggunaan senjata mainan tersebut telah melampaui batas kewajaran, terlebih ketika dilakukan sambil berkendara dan menembak dari atas motor.

“Persoalan ini tidak bisa dibiarkan. Semua pihak harus mampu mengatasi dan mengawasi. Jangan dianggap main-main, karena mengganggu ketertiban umum, suasana Ramadan,” tegas Munafri.

Pria yang akrab disapa Appi itu menekankan bahwa meskipun hanya berupa permainan, tembak-tembakan dengan peluru plastik maupun jeli tetap berpotensi melukai orang lain serta menimbulkan keresahan sosial.

Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu konflik di tengah masyarakat.

“Jad, bukan cuma sekadar mainan. Kalau mencelakakan orang lain dan mengganggu ketertiban umum, tentu harus ada langkah tegas pihak kemanaan,” imbuhnya.

Pemerintah Kota Makassar menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama Ramadan agar masyarakat dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk tanpa gangguan aktivitas berisiko.

Lebih lanjut, Munafri mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Kapolrestabes Makassar guna menindaklanjuti persoalan tersebut.

Ia berharap sinergi antara aparat keamanan, pemerintah kota hingga tingkat RT dan RW dapat diperkuat untuk melakukan pengawasan lebih intensif selama bulan Ramadan.

Selain itu, para orang tua juga diimbau meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak, terutama pada malam hari selepas salat tarawih.

“Peran keluarga sangat penting dalam mencegah anak-anak terlibat dalam permainan yang berisiko tersebut,” demikian penegasan Munafri.

SulawesiPos.com – Aksi saling tembak menggunakan senjata mainan jenis “omega” dengan amunisi peluru plastik hingga jeli semakin sering ditemukan di Makassar selama bulan suci Ramadan.

Aktivitas yang semula dipandang sebagai permainan anak-anak itu kini memicu keresahan publik karena dinilai berisiko membahayakan keselamatan warga serta mengganggu ketertiban umum.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menanggapi fenomena tersebut dengan serius. Ia menegaskan bahwa praktik tersebut tidak bisa dianggap sepele dan perlu penanganan tegas.

“Yaa, ini tidak boleh dibiarkan, permainan tembak-tembak tersebut harus ditangani secara serius oleh seluruh pihak,” jelas Munafri kepada awak media di Kantor Balai Kota Makassar, Senin (2/3/2026).

“Penaganan dan pengawasan bersama, mulai dari Pihak Kepolisian, pemerintah kecamatan hingga lingkungan keluarga RT/RW bertindak,” sambung Munafri.

Senjata mainan “mega” sendiri merujuk pada mainan tembak populer yang menggunakan peluru berukuran besar berbahan busa, awalnya dirancang untuk permainan aman anak-anak dengan jangkauan tembak tertentu.

Namun, dalam praktiknya di Makassar, permainan ini banyak melibatkan anak-anak di bawah umur hingga pelajar yang beraksi pada malam hari selama Ramadan, khususnya setelah salat tarawih.

Tak jarang, aksi saling tembak tersebut dilakukan di jalan umum, bahkan sambil mengendarai sepeda motor, sehingga dinilai sangat mengganggu suasana Ramadan dan membahayakan pengguna jalan lain.

Munafri menilai penggunaan senjata mainan tersebut telah melampaui batas kewajaran, terlebih ketika dilakukan sambil berkendara dan menembak dari atas motor.

“Persoalan ini tidak bisa dibiarkan. Semua pihak harus mampu mengatasi dan mengawasi. Jangan dianggap main-main, karena mengganggu ketertiban umum, suasana Ramadan,” tegas Munafri.

Pria yang akrab disapa Appi itu menekankan bahwa meskipun hanya berupa permainan, tembak-tembakan dengan peluru plastik maupun jeli tetap berpotensi melukai orang lain serta menimbulkan keresahan sosial.

Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu konflik di tengah masyarakat.

“Jad, bukan cuma sekadar mainan. Kalau mencelakakan orang lain dan mengganggu ketertiban umum, tentu harus ada langkah tegas pihak kemanaan,” imbuhnya.

Pemerintah Kota Makassar menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama Ramadan agar masyarakat dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk tanpa gangguan aktivitas berisiko.

Lebih lanjut, Munafri mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Kapolrestabes Makassar guna menindaklanjuti persoalan tersebut.

Ia berharap sinergi antara aparat keamanan, pemerintah kota hingga tingkat RT dan RW dapat diperkuat untuk melakukan pengawasan lebih intensif selama bulan Ramadan.

Selain itu, para orang tua juga diimbau meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak, terutama pada malam hari selepas salat tarawih.

“Peran keluarga sangat penting dalam mencegah anak-anak terlibat dalam permainan yang berisiko tersebut,” demikian penegasan Munafri.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/