Sulawesipos.com – Koordinator Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar, Jamroni, menyampaikan bahwa hilal sebagai penanda awal bulan dalam kalender Hijriah belum dapat teramati di langit Makassar, Sulawesi Selatan.
“Tidak bisa terlihat hilal, karena posisi secara perhitungan atau hisab, nilainya negatif,” kata Jamroni saat melakukan pengamatan, Selasa (17/2).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena bulan lebih dahulu terbenam dibandingkan matahari, sehingga pengamatan hilal secara visual tidak memungkinkan untuk dilakukan.
“Kita anggap nilai hilal negatif, maka tidak bisa teramati. Kita tetap melakukan pengamatan rukyah. Rukyahnya tetap kita amati tapi kemungkinan tidak mungkin karena nilainya negatif semua,” ungkapnya.
Meski hasil perhitungan menunjukkan hilal tidak terlihat, Jamroni menegaskan pihaknya belum dapat memastikan penetapan 1 Ramadhan.
Keputusan resmi masih menunggu hasil sidang Isbat yang digelar pemerintah.
“Kalau itu kita tunggu hasil sidang Isbat, kalau perhitungan (hilal) tidak (tidak terlihat). Nanti Muhammadiyah punya metode perhitungan lain tapi kita tunggu sidang Isbat. Tapi secara perhitungan atau hisab tidak terpenuhi semuanya,” katanya.
Pemerintah dijadwalkan menggelar sidang Isbat penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2/2026) di Hotel Borobudur Jakarta.
Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

