Hasan Pinang juga menegaskan bahwa momentum Ramadhan harus dimaknai sebagai kebangkitan spiritual sekaligus kebangkitan intelektual, dengan menjadikan masjid sebagai pusat diskusi, pusat kajian, dan pusat produksi gagasan yang mencerahkan masyarakat luas.
Sebagai ikon arsitektur dan pusat kegiatan keislaman terbesar di Sulawesi Selatan, Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf selama ini memainkan peran sentral.
Yakni sebagai simpul dakwah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, dan pengembangan literasi melalui perpustakaan, forum diskusi publik, serta kegiatan keagamaan yang terbuka lintas generasi.
Secara filosofis, masjid dalam tradisi Islam adalah institusi sosial yang memadukan dimensi spiritual dan intelektual, di mana ilmu diposisikan sebagai cahaya yang menerangi peradaban.
Dengan demikian, kegiatan literasi di ruang masjid bukanlah inovasi baru, melainkan revitalisasi fungsi klasik yang telah mengakar sejak masa awal Islam.
Puncak acara menghadirkan penulis best seller Ahmad Rifa’i Rif’an yang membagikan pengalaman kreatif melahirkan buku-buku populer, membangun disiplin menulis, serta menjaga konsistensi membaca di tengah tantangan era digital yang sarat distraksi.

Dalam sesi bedah buku interaktif, peserta berdialog langsung, mengajukan pertanyaan kritis, serta memperoleh panduan praktis membangun kebiasaan membaca berkelanjutan yang oleh berbagai studi pendidikan global diakui sebagai indikator penting peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Panitia berharap kegiatan ini menjadi gerakan berkelanjutan yang menghubungkan pesantren, sekolah, komunitas, dan keluarga dalam satu arus besar penguatan budaya baca berbasis masjid di Kota Makassar.
Dengan semangat kolaborasi lintas lembaga dan dukungan berbagai pemangku kepentingan, “Ngaji Literasi” di Al-Markaz Makassar menjadi simbol bahwa kebangkitan peradaban dapat dimulai dari saf-saf masjid yang hidup oleh ilmu, diskusi, dan tradisi membaca yang menyala menjelang Ramadhan 1447 Hijriah. (Ali)

