Untuk mendukung operasi, satu unit pesawat khusus telah diterbangkan dari Semarang menuju Makassar.
Modifikasi cuaca dilakukan dengan menaburkan zat tertentu, termasuk kapur, untuk mengurangi pembentukan awan hujan dan kabut yang dapat menghambat pencarian dari udara.
Kondisi medan yang sangat terjal membuat tim SAR gabungan, termasuk masyarakat setempat, harus menggunakan teknik rappeling untuk mengevakuasi korban yang ditemukan pada Minggu (18/1).
Teknik rappeling memungkinkan tim turun dari ketinggian menggunakan tali khusus dan alat pelindung diri (APD) untuk menembus medan curam.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, optimistis bahwa operasi modifikasi cuaca dapat membuka akses yang lebih luas dan mempercepat evakuasi dari udara.
“Mudah-mudahan dengan modifikasi cuaca itu dapat membuka akses yang lebih luas sehingga proses evakuasi dari udara bisa dilakukan dengan cepat dan menemukan beberapa bukti di lokasi,” ujarnya.
Dengan peringatan cuaca BMKG dan operasi modifikasi cuaca, tim SAR diharapkan dapat lebih efektif menghadapi kondisi ekstrem di Pegunungan Bulusaraung sekaligus memastikan evakuasi korban dan pencarian bangkai pesawat berlangsung secepat mungkin.

