26.6 C
Makassar
19 January 2026, 20:18 PM WITA

Ke’te Kesu, Desa Toraja yang Menjadikan Tradisi sebagai Nafas Kehidupan

Di kawasan ini terdapat delapan Tongkonan yang tersusun berhadap-hadapan, lengkap dengan lumbung padi yang berdiri sejajar di depannya.

Dinding Tongkonan dihiasi ukiran khas Toraja serta tanduk kerbau yang disusun bertingkat sebagai penanda status sosial pemilik rumah.

Dalam tradisi Toraja, hanya keluarga berdarah bangsawan yang berhak membangun Tongkonan, sementara masyarakat biasa tinggal di rumah dengan bentuk yang lebih sederhana.

Atapnya yang melengkung menyerupai perahu menjadi ciri arsitektur yang sarat makna simbolik.

Pembangunan Tongkonan melibatkan seluruh anggota keluarga dan memerlukan proses panjang, karena rumah adat ini dipandang sebagai pusat kehidupan adat, bukan sekadar tempat bernaung.

Kematian yang Dimuliakan, Bukan Ditakuti

Daya tarik utama Ke’te Kesu terletak pada cara masyarakatnya memaknai kematian sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Pandangan ini tergambar jelas di kompleks pemakaman kuno Bukit Buntu Ke’su yang telah berusia sekitar 700 tahun.

Di sepanjang jalur berbatu menuju bukit, tengkorak dan tulang manusia tampak tersusun dalam bejana besar berbentuk perahu.

Pada tebing batu, liang-liang makam dipahat langsung, dengan posisi penguburan mencerminkan strata sosial semasa hidup.

Baca Juga: 
Kasus Pemerkosaan Pelayan Warung di Makassar, Pasutri Terancam 12 Tahun Penjara

Di kawasan ini terdapat delapan Tongkonan yang tersusun berhadap-hadapan, lengkap dengan lumbung padi yang berdiri sejajar di depannya.

Dinding Tongkonan dihiasi ukiran khas Toraja serta tanduk kerbau yang disusun bertingkat sebagai penanda status sosial pemilik rumah.

Dalam tradisi Toraja, hanya keluarga berdarah bangsawan yang berhak membangun Tongkonan, sementara masyarakat biasa tinggal di rumah dengan bentuk yang lebih sederhana.

Atapnya yang melengkung menyerupai perahu menjadi ciri arsitektur yang sarat makna simbolik.

Pembangunan Tongkonan melibatkan seluruh anggota keluarga dan memerlukan proses panjang, karena rumah adat ini dipandang sebagai pusat kehidupan adat, bukan sekadar tempat bernaung.

Kematian yang Dimuliakan, Bukan Ditakuti

Daya tarik utama Ke’te Kesu terletak pada cara masyarakatnya memaknai kematian sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Pandangan ini tergambar jelas di kompleks pemakaman kuno Bukit Buntu Ke’su yang telah berusia sekitar 700 tahun.

Di sepanjang jalur berbatu menuju bukit, tengkorak dan tulang manusia tampak tersusun dalam bejana besar berbentuk perahu.

Pada tebing batu, liang-liang makam dipahat langsung, dengan posisi penguburan mencerminkan strata sosial semasa hidup.

Baca Juga: 
SulawesiPos.com dan Kabarika.id Sponsori Grand Final Domino IKA Unhas di Warkop Enreco

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/