27 C
Makassar
18 January 2026, 17:44 PM WITA

9.885 Kasus TBC, Makassar Gerak Cepat dengan Strategi Ketuk Pintu untuk Skrining Warga

SulawesiPos.com – Tingginya jumlah kasus tuberkulosis (TBC) di Kota Makassar mendorong pemerintah daerah menerapkan pendekatan jemput bola dengan mendatangi langsung rumah warga untuk melakukan deteksi dini penyakit menular tersebut.

Berdasarkan data tahun 2025, tercatat sebanyak 9.885 kasus TBC di Makassar telah mendapatkan pengobatan.

Angka tersebut menempatkan Makassar sebagai salah satu wilayah prioritas nasional penanganan TBC bersama sejumlah provinsi dengan beban kasus tertinggi di Indonesia.

Kondisi tersebut menjadi dasar Pemerintah Kota Makassar mengembangkan program “Hantu Mesra” atau hunting tuberkulosis dengan metode mengetuk pintu rumah warga, sebagai upaya memutus rantai penularan di tingkat keluarga.

Melalui pendekatan ini, petugas kesehatan tidak lagi menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, tetapi aktif mendatangi rumah warga untuk melakukan skrining TBC sekaligus memberikan edukasi pencegahan penularan.

Pemerintah pusat menilai strategi kunjungan rumah menjadi penting mengingat satu kasus TBC berpotensi berkaitan dengan satu lingkungan keluarga yang harus diperiksa secara menyeluruh.

“Harapan kami, pada 2027 atau 2028 kasus TBC di Makassar sudah menurun signifikan,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Octavianus, Selasa (13/1/2026).

Baca Juga: 
Lantik 6.032 RT/RW Se-Makassar, Munafri: Fokus pada Amanah dan Pelayanan Masyarakat

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyebut pendekatan langsung ke rumah warga lahir dari kondisi sosial di lapangan, di mana masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri karena takut terhadap stigma penyakit.

“Banyak warga tidak mau diperiksa atau takut diketahui sakit. Dengan mengetuk pintu rumah warga, ini menjadi jalan keluar yang sangat efektif,” kata Munafri.

Menurut Munafri, strategi jemput bola membuka ruang interaksi yang lebih humanis antara petugas kesehatan dan masyarakat, sehingga proses pemeriksaan dapat dilakukan tanpa rasa cemas.

Ia menambahkan, seluruh puskesmas di Makassar terus didorong berinovasi agar layanan kesehatan semakin dekat dan mudah diakses warga, terutama di wilayah dengan kasus TBC tinggi.

Dengan dukungan pemerintah pusat dan kolaborasi lintas sektor, Munafri menargetkan penuntasan TBC di Kota Makassar dapat tercapai sebelum 2029.

“Support dari pak wamen luar biasa. Ini menjadi semangat bagi kami untuk menyelesaikan persoalan TBC di Kota Makassar,” ujarnya.

SulawesiPos.com – Tingginya jumlah kasus tuberkulosis (TBC) di Kota Makassar mendorong pemerintah daerah menerapkan pendekatan jemput bola dengan mendatangi langsung rumah warga untuk melakukan deteksi dini penyakit menular tersebut.

Berdasarkan data tahun 2025, tercatat sebanyak 9.885 kasus TBC di Makassar telah mendapatkan pengobatan.

Angka tersebut menempatkan Makassar sebagai salah satu wilayah prioritas nasional penanganan TBC bersama sejumlah provinsi dengan beban kasus tertinggi di Indonesia.

Kondisi tersebut menjadi dasar Pemerintah Kota Makassar mengembangkan program “Hantu Mesra” atau hunting tuberkulosis dengan metode mengetuk pintu rumah warga, sebagai upaya memutus rantai penularan di tingkat keluarga.

Melalui pendekatan ini, petugas kesehatan tidak lagi menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, tetapi aktif mendatangi rumah warga untuk melakukan skrining TBC sekaligus memberikan edukasi pencegahan penularan.

Pemerintah pusat menilai strategi kunjungan rumah menjadi penting mengingat satu kasus TBC berpotensi berkaitan dengan satu lingkungan keluarga yang harus diperiksa secara menyeluruh.

“Harapan kami, pada 2027 atau 2028 kasus TBC di Makassar sudah menurun signifikan,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Octavianus, Selasa (13/1/2026).

Baca Juga: 
Sopir Keluarga Gasak Emas Antam dan Dolar Rp 200 Juta di Makassar, Pelaku Ternyata Masih Mahasiswa

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyebut pendekatan langsung ke rumah warga lahir dari kondisi sosial di lapangan, di mana masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri karena takut terhadap stigma penyakit.

“Banyak warga tidak mau diperiksa atau takut diketahui sakit. Dengan mengetuk pintu rumah warga, ini menjadi jalan keluar yang sangat efektif,” kata Munafri.

Menurut Munafri, strategi jemput bola membuka ruang interaksi yang lebih humanis antara petugas kesehatan dan masyarakat, sehingga proses pemeriksaan dapat dilakukan tanpa rasa cemas.

Ia menambahkan, seluruh puskesmas di Makassar terus didorong berinovasi agar layanan kesehatan semakin dekat dan mudah diakses warga, terutama di wilayah dengan kasus TBC tinggi.

Dengan dukungan pemerintah pusat dan kolaborasi lintas sektor, Munafri menargetkan penuntasan TBC di Kota Makassar dapat tercapai sebelum 2029.

“Support dari pak wamen luar biasa. Ini menjadi semangat bagi kami untuk menyelesaikan persoalan TBC di Kota Makassar,” ujarnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/