Overview
-
Katirisala adalah kue tradisional Bugis-Makassar yang terkenal dengan kombinasi rasa manis dan gurih.
-
Kue ini memiliki dua lapisan unik, ketan di bawah dan gula merah di atas, dengan tekstur lembut dan aroma yang khas.
-
Selain menjadi camilan lezat, Katirisala juga sarat nilai budaya dan filosofi tradisi Makassar, hadir dalam berbagai perayaan adat.
SulawesiPos.com – Katirisala adalah salah satu kue tradisional khas Bugis-Makassar yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Sulawesi Selatan.
Berdasarkan WikiPangan, jejak Sejarah Katirisala dapat ditelusuri melalui berbagai literatur dan naskah lama yang menyebutkan bahwa kue ini berasal dari wilayah Ajatappareng, yang mencakup Sidrap, Parepare, dan Pinrang.
Meskipun tidak ada catatan pasti mengenai awal mula keberadaannya, diperkirakan Katirisala sudah dikenal masyarakat Bugis sejak abad ke-17.
Dalam catatan sejarah, kue ini sering hadir dalam perayaan tradisional besar, terutama yang melibatkan kalangan bangsawan dan lingkungan kerajaan.
Lebih dari sekadar camilan, Katirisala juga menjadi simbol tradisi dan kebersamaan dalam masyarakat, mencerminkan nilai budaya yang telah diwariskan lintas generasi.
Nama, Filosofi, dan Makna Simbolis
Dalam bahasa Bugis, ada penafsiran filosofis dari Katirisalah adalah “tiri” yang berarti menetes dan “sala” berarti salah atau keliru, merujuk pada susunan lapisan gula merah di bagian atas kue.
Berbeda dari kue tradisional lain yang biasanya meletakkan ketan di atas gula, Katirisala menempatkan ketan di bawah dan gula merah di atas.
Filosofi ini mengajarkan bahwa meski sesuatu tampak tidak sesuai urutan atau harapan, tetap ada nilai dan keindahan dalam ketidaksempurnaan.
Bahan, Rasa, dan Budaya
Katirisala memiliki dua lapisan yang memberikan kombinasi rasa manis-gurih yang khas.
Lapisan bawah terbuat dari beras ketan (putih atau hitam), santan, dan daun pandan, memberikan aroma harum dan tekstur kenyal.
Lapisan atas terbuat dari telur, santan, dan gula merah, menghadirkan manis. Semua adonan dikukus hingga matang, menghasilkan kue lembut namun padat yang memikat setiap gigitan.
Sejak dahulu, Katirisala dibuat untuk momen-momen istimewa seperti pesta pernikahan, pengajian, atau hari besar keagamaan.
Kini, kue ini mudah ditemui di pasar tradisional dan toko kue, khususnya selama bulan Ramadan, ketika kue-kue tradisional menjadi camilan populer untuk berbuka puasa.
Lebih dari sekadar makanan, Katirisala adalah simbol budaya Bugis-Makassar. Setiap gigitan menghadirkan rasa, aroma, dan tekstur yang unik, sekaligus menghubungkan pencinta kuliner dengan sejarah dan tradisi lokal.
Kombinasi manis-gurih dan filosofi lapisan gula membuat Katirisala tetap relevan dan disukai lintas generasi.