Mentan Amran Sulaiman bersama putranya dan Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa di acara PKKMB Unhas (YouTube UnhasTV)
SulawesiPos.com – Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman memperkenalkan putranya, Andi Anugrah Sulaiman, di hadapan ribuan mahasiswa baru Universitas Hasanuddin dalam Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru jenjang sarjana dan vokasi di GOR JK Arenatorium, Makassar, Selasa, 11 Agustus 2026, sambil mengungkap bahwa sang anak sudah belajar bisnis dari jualan ayam dan telur sejak masih SMA.
Momen itu muncul di tengah orasi motivasi Amran dalam tema “Inovasi Menuju Swasembada dan Kedaulatan Pangan, Peran Generasi Muda dalam Membangun Pertanian Indonesia”, saat ia menekankan pentingnya kemandirian, daya juang, dan keberanian belajar dari lapangan.
Sebelum masuk ke kisah keluarganya, Amran lebih dulu memanggil 10 mahasiswa baru berstatus yatim piatu yang tinggal di rumah kos dan menyerahkan bantuan dana pendidikan di depan peserta PKKMB.
“Sesama anak kos harus saling membantu,” tutur Amran.
Suasana lalu mencair ketika Amran memanggil Andi Anugrah Sulaiman, mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas, ke depan panggung.
Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa ikut melempar candaan yang langsung disambut tawa peserta. Prof Jamal juga menyebut akan memberi hadiah 20 PR untuk Anugrah yang disambut tepuk tangan peserta PKKMB Unhas.
“Anugrah ini anak kos juga, tapi kosnya di tempatnya Pak Amran,” kelakar Jamaluddin.
Amran kemudian menegaskan bahwa putranya tidak dibesarkan dengan perlakuan istimewa, tetapi justru didorong belajar mandiri sejak dini.
“Ini juga anak kos. Dia anak saya, masih single. Dia pengusaha, salah satu direktur perusahaan. Sejak SMA belajar berbisnis, jual ayam dan telur. Dia tidak pernah memperkenalkan diri bahwa dia anak menteri,” ungkap Amran.
Kisah yang paling menyita perhatian peserta datang saat Amran menceritakan pengalaman Anugrah ketika merintis jualan telur di kawasan Perumahan Dosen Unhas.
Menurut Amran, putranya sempat dimarahi salah satu pelanggan karena terlambat mengantar pesanan.
Keesokan harinya, karena terburu-buru agar tidak telat lagi, Anugrah justru memakai mobil Hummer milik ayahnya untuk mengantar telur.
“Besoknya saat mengantar telur lagi, karena buru-buru, dia pakai mobil saya pergi jual telur. Dia pakai Hummer. Akhirnya ditanya sama dosen ‘kamu anak siapa?’. Ia disuruh masuk, dikasih teh dan kopi, lalu dibilang ‘ini anakku mau belajar jualan telur juga’,” kenang Amran.
Di depan peserta PKKMB, Amran juga memberi pesan langsung kepada putranya agar tidak merasa berbeda dengan mahasiswa lain di lingkungan kampus.
“Di sini tidak ada anak menteri. Saya kasih tahu, kamu harus berbaur, tidak ada bedanya dengan yang lain, karena kamu harus kerja keras juga. PR-mu ditambah 20,” tegas Amran kepada Anugrah.
Di bagian akhir orasinya, Amran mengaitkan kisah itu dengan pandangannya tentang proses panjang menuju sukses.
Ia mengatakan keberhasilan tidak datang seketika, melainkan lahir dari ketekunan dan kesiapan menghadapi kegagalan dalam waktu yang tidak sebentar.
“Orang berproses pasti sukses. Kalau mau berhasil, harus siap gagal 5 sampai 10 tahun. Tapi kalau anak sekarang, 5 tahun gagal itu sudah cukup. Kegagalan adalah fondasi untuk melompat. Gagal dan sukses itu seperti satu keping uang logam; kirinya gagal, kanannya sukses,” papar Amran.
Menurut dia, dunia kampus umumnya banyak mengajarkan cara menghitung keuntungan, sedangkan pelajaran menghadapi kerugian justru lebih banyak ditemukan dalam praktik nyata.
“Yang sulit terkadang yang dipelajari di kampus adalah untungnya saja, ruginya tidak. Ruginya dipelajari pada saat di lapangan. Saya membangun racun tikus Tiran butuh waktu 13 tahun baru tembus.”
“Begitu tembus, sampai hari ini hasilnya dinikmati. Royaltinya mencapai Rp250 miliar per tahun. Padahal waktu itu saya masih ABG,” pungkasnya.