SulawesiPos.com – Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran memicu guncangan pasokan minyak harian terbesar dalam sejarah industri energi dunia dengan kehilangan pasokan mencapai lebih dari 14 juta barel per hari atau sekitar 13,6 persen dari kebutuhan minyak global, namun secara akumulatif krisis energi akibat Revolusi Iran 1979 masih menjadi yang paling besar karena menghilangkan sekitar 4,3 miliar barel minyak dari pasar selama tiga tahun, demikian hasil analisis Reuters yang dipublikasikan 3 Juli 2026, berdasarkan perhitungan dari data International Energy Agency (IEA), OPEC, dan Departemen Energi Amerika Serikat.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 itu tidak hanya mengganggu pasokan minyak mentah, tetapi juga gas alam, bahan bakar hasil kilang, serta pupuk sehingga menciptakan tekanan serentak terhadap sistem energi dan rantai pasok global.
Reuters (3/7) mencatat bahwa krisis kali ini memperlihatkan betapa rentannya sistem energi dunia setelah puluhan tahun ditandai oleh meningkatnya konsumsi energi, globalisasi perdagangan, serta semakin dominannya kawasan Teluk sebagai pemasok utama berbagai produk energi jadi.
Berbeda dengan krisis energi pada dekade 1970-an yang terutama mengguncang pasar minyak mentah, perang terbaru memberikan dampak simultan terhadap berbagai komoditas energi sehingga konsekuensinya jauh lebih kompleks terhadap industri, transportasi, pertanian, hingga logistik internasional.
IEA merespons situasi tersebut dengan melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis negara-negara anggotanya, jumlah terbesar sepanjang sejarah lembaga itu, sebagai upaya menahan lonjakan harga dan menjaga stabilitas pasokan dunia.
Puncak gangguan pasokan yang mencapai lebih dari 14 juta barel per hari jauh melampaui embargo minyak Arab 1973–1974 yang hanya sekitar 4,5 juta barel per hari, Revolusi Iran 1979 sekitar 5,6 juta barel per hari, maupun Perang Teluk 1991 sekitar 4,3 juta barel per hari.
Dampak Meluas ke Pasar Gas dan Pupuk Dunia
Gangguan tersebut juga merambat ke pasar gas alam cair (LNG) setelah sekitar seperlima produksi LNG Qatar sempat terganggu bersamaan dengan terhambatnya operasional sejumlah kilang di kawasan Teluk yang memasok diesel dan bahan bakar pesawat.
Lembaga pemantau energi Argus Media memperkirakan sekitar 24 juta ton pasokan LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab terdampak, setara sekitar 5,6 persen perdagangan LNG global berdasarkan volume perdagangan tahun 2025 yang mencapai sekitar 428 juta ton.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa konflik geopolitik modern tidak lagi hanya memengaruhi harga minyak, melainkan juga keamanan pasokan gas, pupuk berbasis amonia, hingga biaya produksi pangan dunia.
IEA sebelumnya melaporkan pada 13 Mei 2026 bahwa akumulasi kehilangan produksi dari negara-negara Teluk telah melampaui 1 miliar barel.
Berdasarkan perhitungan Reuters terhadap kehilangan sekitar 14 juta barel per hari selama 35 hari hingga tercapainya kesepakatan sementara pada 17 Juni 2026, total minyak yang hilang dari pasar diperkirakan mendekati 1,5 miliar barel.
Meski telah tercapai kesepakatan sementara, Reuters memperkirakan gangguan pada sektor gas alam masih dapat berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun karena proses pemulihan fasilitas produksi dan infrastruktur energi membutuhkan waktu yang panjang.
Krisis 1979 Masih Menjadi Tolok Ukur Sejarah
Departemen Energi Amerika Serikat memperkirakan produksi minyak Iran turun sekitar 3,9 juta barel per hari selama periode 1978–1981 sehingga secara kumulatif menghilangkan sekitar 4,3 miliar barel minyak dari pasar dunia, angka yang hingga kini belum terlampaui oleh konflik mana pun.
Sebagai perbandingan, embargo minyak Arab pada 1973–1974 diperkirakan mengurangi pasokan sekitar 530–650 juta barel, sedangkan Perang Teluk 1991 menyebabkan kehilangan kumulatif sekitar 516 juta barel, keduanya masih jauh di bawah dampak Revolusi Iran.
Analisis MD Signal Editorial yang juga dipublikasikan pada 3 Juli 2026 menyimpulkan bahwa perang AS–Iran saat ini memang menghasilkan gangguan harian terbesar dalam sejarah, tetapi Revolusi Iran tetap menjadi krisis energi paling berat apabila diukur berdasarkan total kehilangan produksi selama berlangsungnya krisis.
Sementara itu, analisis Kiplinger Personal Finance yang diterbitkan 22 April 2026 menunjukkan bahwa lonjakan harga energi akibat konflik Iran kembali memunculkan pola ekonomi yang mengingatkan pada dekade 1970-an, ditandai kenaikan harga bahan bakar, biaya listrik, inflasi, serta meningkatnya beban biaya transportasi, pangan, dan perumahan.
Para ekonom menilai pengalaman dari krisis minyak 1973 dan 1979 mendorong banyak negara membangun cadangan energi strategis, mempercepat diversifikasi sumber energi, mengembangkan energi terbarukan, meningkatkan efisiensi konsumsi, serta memperkuat sistem peringatan dini terhadap gangguan geopolitik agar ketahanan energi global tidak terlalu bergantung pada satu kawasan produksi.
Perkembangan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa stabilitas politik di kawasan penghasil energi utama tetap merupakan salah satu faktor paling menentukan bagi keamanan energi, stabilitas ekonomi, dan keberlanjutan pembangunan dunia. (Ali)


