El Niño Ancam Pasokan Gula Dunia, Harga Bisa Melonjak hingga US$800 per Ton

SulawesiPos.com – Fenomena El Niño diperkirakan akan memicu lonjakan harga gula dunia setelah produksi gula India, salah satu produsen dan eksportir terbesar global, terancam turun 3 hingga 8 juta ton per tahun, sementara pembatasan ekspor dari New Delhi dan keterbatasan kapasitas pengolahan di Brasil dinilai akan mempersempit pasokan internasional.

Analisis itu disampaikan Direktur Center for International Agribusiness and Food Security di Presidential Academy Rusia, Anatoly Tikhonov, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 26 Juni 2026. Menurut dia, apabila cuaca terus memburuk dan India menghentikan ekspor sepenuhnya, harga gula dunia berpotensi naik ke kisaran US$750 hingga US$800 per ton.

Tikhonov menilai pasar gula internasional saat ini menghadapi tekanan dari kombinasi perubahan iklim dan kebijakan perdagangan negara-negara produsen utama. Dalam struktur pasar global, India dan Brasil memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan pasokan gula internasional.

Jika India menghentikan ekspor secara penuh, pasar akan kehilangan salah satu sumber pasokan terbesar. Di sisi lain, Brasil sebagai produsen gula terbesar dunia tidak dapat menaikkan pasokan secara cepat karena kapasitas pengolahan tebu domestiknya terbatas dan sebagian bahan baku juga dialokasikan untuk bioetanol.

BACA JUGA:  Bulog Guyur 4.100 Ton Beras ke Papua, 838 Ribu Keluarga Jadi Sasaran Bantuan Pangan

Pasar dinilai telah mulai merespons ancaman tersebut bahkan sebelum musim panen berlangsung. Pada awal Juni 2026, harga kontrak berjangka gula putih di Bursa London telah menembus US$660 per ton, didorong meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak El Niño pada produksi pertanian India.

India hadapi risiko penurunan produksi besar

India merupakan produsen gula terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Produksi gula negara itu sangat bergantung pada curah hujan musiman yang dibawa angin monsun barat daya, sedangkan El Niño dikenal kerap mengganggu pola monsun di Asia Selatan.

Gangguan tersebut membuat curah hujan berkurang di sejumlah wilayah pertanian utama India. Daerah penghasil tebu seperti Maharashtra, Karnataka, dan Tamil Nadu disebut mulai mengalami kekurangan cadangan air, padahal wilayah-wilayah itu selama ini menjadi tulang punggung produksi gula nasional India.

Menurut para ahli pertanian, tanaman tebu membutuhkan pasokan air yang stabil sepanjang masa pertumbuhannya. Jika pasokan air terganggu, kadar gula dalam batang tebu akan menurun dan volume hasil panen ikut tertekan.

BACA JUGA:  Hadapi Tantangan Iklim, Kementan Andalkan Pompanisasi untuk Kejar Tanam di Sukoharjo

Penurunan produksi sebesar 3 hingga 8 juta ton per tahun dinilai cukup besar untuk mengguncang keseimbangan perdagangan gula dunia. Karena itu, keputusan pemerintah India menghentikan ekspor gula hingga 30 September 2026 dipandang sebagai langkah untuk menjaga kecukupan pasokan dalam negeri dan menahan tekanan inflasi pangan.

Negara berkembang diperkirakan paling rentan

Tikhonov memperingatkan lonjakan harga gula tidak hanya berdampak pada pasar komoditas, tetapi juga terhadap biaya pangan di negara berkembang. Ia memperkirakan kenaikan harga tersebut dapat meningkatkan biaya keranjang pangan di sejumlah negara Afrika dan Asia Selatan sekitar 10 hingga 15 persen.

Negara-negara yang bergantung pada impor gula diperkirakan menjadi pihak paling rentan. Kenaikan biaya impor akan memperbesar tekanan inflasi pangan, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah yang sebagian besar penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari.

Dampak lain juga berpotensi menjalar ke industri makanan dan minuman. Sebab, gula tidak hanya menjadi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga bahan baku utama untuk minuman ringan, makanan olahan, produk susu, farmasi, hingga bioetanol.

BACA JUGA:  Antisipasi Kemarau Lebih Awal, Kementan Dorong Pemanfaatan Varietas Padi Adaptif

Jika harga bahan baku terus meningkat, perusahaan kemungkinan akan menyesuaikan harga jual produk kepada konsumen. Kondisi tersebut dapat memicu efek berantai terhadap laju inflasi di banyak negara, terutama yang daya tahannya terhadap gejolak pangan masih terbatas.

Indonesia perlu memperkuat ketahanan gula nasional

Bagi Indonesia, perkembangan pasar gula internasional menjadi sinyal penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Sebagai salah satu pengimpor gula dalam jumlah besar, terutama untuk kebutuhan industri makanan dan minuman, Indonesia berisiko menghadapi kenaikan biaya impor jika tren harga global bertahan tinggi.

Situasi itu dapat memengaruhi harga berbagai produk olahan di dalam negeri. Karena itu, penguatan produktivitas tebu nasional, modernisasi irigasi, penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, serta peningkatan efisiensi pabrik gula dinilai semakin mendesak.

Di tengah meningkatnya ancaman cuaca ekstrem, pengembangan varietas tebu yang lebih tahan kekeringan dan diversifikasi sumber pemanis alami juga mulai relevan untuk mengurangi ketergantungan terhadap gula konvensional. Fenomena El Niño kali ini kembali menegaskan bahwa perubahan iklim kini menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan dunia. (Ali)

SulawesiPos.com – Fenomena El Niño diperkirakan akan memicu lonjakan harga gula dunia setelah produksi gula India, salah satu produsen dan eksportir terbesar global, terancam turun 3 hingga 8 juta ton per tahun, sementara pembatasan ekspor dari New Delhi dan keterbatasan kapasitas pengolahan di Brasil dinilai akan mempersempit pasokan internasional.

Analisis itu disampaikan Direktur Center for International Agribusiness and Food Security di Presidential Academy Rusia, Anatoly Tikhonov, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 26 Juni 2026. Menurut dia, apabila cuaca terus memburuk dan India menghentikan ekspor sepenuhnya, harga gula dunia berpotensi naik ke kisaran US$750 hingga US$800 per ton.

Tikhonov menilai pasar gula internasional saat ini menghadapi tekanan dari kombinasi perubahan iklim dan kebijakan perdagangan negara-negara produsen utama. Dalam struktur pasar global, India dan Brasil memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan pasokan gula internasional.

Jika India menghentikan ekspor secara penuh, pasar akan kehilangan salah satu sumber pasokan terbesar. Di sisi lain, Brasil sebagai produsen gula terbesar dunia tidak dapat menaikkan pasokan secara cepat karena kapasitas pengolahan tebu domestiknya terbatas dan sebagian bahan baku juga dialokasikan untuk bioetanol.

BACA JUGA:  Mentan Amran Ajak Lulusan ITS Jadi Penggerak Inovasi Ketahanan Pangan Global

Pasar dinilai telah mulai merespons ancaman tersebut bahkan sebelum musim panen berlangsung. Pada awal Juni 2026, harga kontrak berjangka gula putih di Bursa London telah menembus US$660 per ton, didorong meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak El Niño pada produksi pertanian India.

India hadapi risiko penurunan produksi besar

India merupakan produsen gula terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Produksi gula negara itu sangat bergantung pada curah hujan musiman yang dibawa angin monsun barat daya, sedangkan El Niño dikenal kerap mengganggu pola monsun di Asia Selatan.

Gangguan tersebut membuat curah hujan berkurang di sejumlah wilayah pertanian utama India. Daerah penghasil tebu seperti Maharashtra, Karnataka, dan Tamil Nadu disebut mulai mengalami kekurangan cadangan air, padahal wilayah-wilayah itu selama ini menjadi tulang punggung produksi gula nasional India.

Menurut para ahli pertanian, tanaman tebu membutuhkan pasokan air yang stabil sepanjang masa pertumbuhannya. Jika pasokan air terganggu, kadar gula dalam batang tebu akan menurun dan volume hasil panen ikut tertekan.

BACA JUGA:  Antisipasi Kemarau Lebih Awal, Kementan Dorong Pemanfaatan Varietas Padi Adaptif

Penurunan produksi sebesar 3 hingga 8 juta ton per tahun dinilai cukup besar untuk mengguncang keseimbangan perdagangan gula dunia. Karena itu, keputusan pemerintah India menghentikan ekspor gula hingga 30 September 2026 dipandang sebagai langkah untuk menjaga kecukupan pasokan dalam negeri dan menahan tekanan inflasi pangan.

Negara berkembang diperkirakan paling rentan

Tikhonov memperingatkan lonjakan harga gula tidak hanya berdampak pada pasar komoditas, tetapi juga terhadap biaya pangan di negara berkembang. Ia memperkirakan kenaikan harga tersebut dapat meningkatkan biaya keranjang pangan di sejumlah negara Afrika dan Asia Selatan sekitar 10 hingga 15 persen.

Negara-negara yang bergantung pada impor gula diperkirakan menjadi pihak paling rentan. Kenaikan biaya impor akan memperbesar tekanan inflasi pangan, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah yang sebagian besar penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari.

Dampak lain juga berpotensi menjalar ke industri makanan dan minuman. Sebab, gula tidak hanya menjadi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga bahan baku utama untuk minuman ringan, makanan olahan, produk susu, farmasi, hingga bioetanol.

BACA JUGA:  Mentan Andi Amran Sulaiman Pastikan Stok Beras Aman hingga April 2026, RI Tahan Ancaman Kekeringan dan Gejolak Global

Jika harga bahan baku terus meningkat, perusahaan kemungkinan akan menyesuaikan harga jual produk kepada konsumen. Kondisi tersebut dapat memicu efek berantai terhadap laju inflasi di banyak negara, terutama yang daya tahannya terhadap gejolak pangan masih terbatas.

Indonesia perlu memperkuat ketahanan gula nasional

Bagi Indonesia, perkembangan pasar gula internasional menjadi sinyal penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Sebagai salah satu pengimpor gula dalam jumlah besar, terutama untuk kebutuhan industri makanan dan minuman, Indonesia berisiko menghadapi kenaikan biaya impor jika tren harga global bertahan tinggi.

Situasi itu dapat memengaruhi harga berbagai produk olahan di dalam negeri. Karena itu, penguatan produktivitas tebu nasional, modernisasi irigasi, penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, serta peningkatan efisiensi pabrik gula dinilai semakin mendesak.

Di tengah meningkatnya ancaman cuaca ekstrem, pengembangan varietas tebu yang lebih tahan kekeringan dan diversifikasi sumber pemanis alami juga mulai relevan untuk mengurangi ketergantungan terhadap gula konvensional. Fenomena El Niño kali ini kembali menegaskan bahwa perubahan iklim kini menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan dunia. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru