31 C
Makassar
2 March 2026, 16:13 PM WITA

Timur Tengah Bergejolak, BEI Imbau Investor Tetap Rasional dalam Berinvestasi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

 

SulawesiPos.com – Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, mengimbau para investor untuk tetap rasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).

“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Ia juga mengingatkan agar strategi investasi disesuaikan dengan profil dan toleransi risiko masing-masing investor.

Pada perdagangan Senin (2/3/2026) pagi, Indeks Harga Saham Gabungan dibuka melemah 23,95 poin atau 0,29 persen ke posisi 8.211,31. Sejumlah bursa Asia turut terkoreksi.

Bursa Kuwait bahkan sempat menghentikan perdagangan, sementara pasar saham di Uni Emirat Arab (UEA) ditutup pada Senin dan Selasa.

Tekanan pasar terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap target strategis Iran dalam operasi militer bertajuk Operation Epic Fury.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara yang menjadi basis pasukan AS atau sekutunya di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan UEA.

Eskalasi konflik turut meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang menjadi rute transit sekitar 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia setiap hari.

Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasar energi global, memicu lonjakan harga minyak, gangguan rantai pasok energi, serta kenaikan biaya asuransi pengiriman.

Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar volatilitas pasar keuangan global, termasuk di Indonesia.

 

SulawesiPos.com – Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, mengimbau para investor untuk tetap rasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).

“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Ia juga mengingatkan agar strategi investasi disesuaikan dengan profil dan toleransi risiko masing-masing investor.

Pada perdagangan Senin (2/3/2026) pagi, Indeks Harga Saham Gabungan dibuka melemah 23,95 poin atau 0,29 persen ke posisi 8.211,31. Sejumlah bursa Asia turut terkoreksi.

Bursa Kuwait bahkan sempat menghentikan perdagangan, sementara pasar saham di Uni Emirat Arab (UEA) ditutup pada Senin dan Selasa.

Tekanan pasar terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap target strategis Iran dalam operasi militer bertajuk Operation Epic Fury.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara yang menjadi basis pasukan AS atau sekutunya di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan UEA.

Eskalasi konflik turut meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang menjadi rute transit sekitar 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia setiap hari.

Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasar energi global, memicu lonjakan harga minyak, gangguan rantai pasok energi, serta kenaikan biaya asuransi pengiriman.

Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar volatilitas pasar keuangan global, termasuk di Indonesia.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/