27 C
Makassar
18 January 2026, 17:32 PM WITA

IHSG Terpeleset dari Level 9.000: Panic Selling Melanda di Tengah Gejolak Global

Overview:

  • IHSG ditutup melemah 0,58% ke 8.884,72, gagal bertahan di level psikologis 9.000 akibat aksi panic selling.
  • Sentimen negatif datang dari pelemahan Rupiah (Rp16.855) serta ketidakpastian politik di AS terkait penyelidikan terhadap Jerome Powell.
  • Rekomendasi saham untuk Selasa (13/01/2026) mencakup TLKM, KLBF, ASII, BTPS, dan MBMA.

SulawesiPos.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan posisinya di atas level psikologis 9.000 pada penutupan perdagangan Senin (12/01/2026).

Indeks berakhir merosot 0,58% ke posisi 8.884,72, setelah sempat mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level terendah intraday di 8.715.

Penurunan ini menandai berakhirnya tren penguatan indeks yang sebelumnya didorong oleh saham-saham konglomerasi.

Tim riset Phintraco Sekuritas mencatat bahwa tekanan jual yang awalnya berupa aksi ambil untung (profit taking) berubah menjadi aksi jual panik (panic selling).

Secara teknikal, pergerakan IHSG saat ini berada di bawah rata-rata pergerakan lima hari (MA5). Indikator MACD dan Stochastic RSI menunjukkan sinyal koreksi lanjutan yang didukung oleh tingginya volume jual.

Baca Juga: 
Proyeksi Saham 2026: Menakar Peluang January Effect

“Aksi profit taking berkembang menjadi panic selling. Pelaku pasar juga tengah mengantisipasi pengumuman kebijakan baru perhitungan free float oleh MSCI pada akhir Januari nanti,” ujar tim riset Phintraco Sekuritas, dilansir dari Bloomberg.

Meski data ekonomi domestik menunjukkan performa positif, sentimen ini tertutup oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang parkir di level Rp16.855 per dolar AS.

Pasar saham tidak hanya tertekan oleh faktor internal, tetapi juga gelombang ketidakpastian dari luar negeri.

Eskalasi Geopolitik konflik di Iran dan pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana intervensi memicu kekhawatiran pasar global.

Selain itu, investigasi yang dilakukan Departemen Kehakiman membuka penyelidikan kriminal terhadap Chairman The Fed, Jerome Powell.

Overview:

  • IHSG ditutup melemah 0,58% ke 8.884,72, gagal bertahan di level psikologis 9.000 akibat aksi panic selling.
  • Sentimen negatif datang dari pelemahan Rupiah (Rp16.855) serta ketidakpastian politik di AS terkait penyelidikan terhadap Jerome Powell.
  • Rekomendasi saham untuk Selasa (13/01/2026) mencakup TLKM, KLBF, ASII, BTPS, dan MBMA.

SulawesiPos.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan posisinya di atas level psikologis 9.000 pada penutupan perdagangan Senin (12/01/2026).

Indeks berakhir merosot 0,58% ke posisi 8.884,72, setelah sempat mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level terendah intraday di 8.715.

Penurunan ini menandai berakhirnya tren penguatan indeks yang sebelumnya didorong oleh saham-saham konglomerasi.

Tim riset Phintraco Sekuritas mencatat bahwa tekanan jual yang awalnya berupa aksi ambil untung (profit taking) berubah menjadi aksi jual panik (panic selling).

Secara teknikal, pergerakan IHSG saat ini berada di bawah rata-rata pergerakan lima hari (MA5). Indikator MACD dan Stochastic RSI menunjukkan sinyal koreksi lanjutan yang didukung oleh tingginya volume jual.

Baca Juga: 
IHSG Menguat, OJK Optimis Sentimen Positif Bagi Investasi

“Aksi profit taking berkembang menjadi panic selling. Pelaku pasar juga tengah mengantisipasi pengumuman kebijakan baru perhitungan free float oleh MSCI pada akhir Januari nanti,” ujar tim riset Phintraco Sekuritas, dilansir dari Bloomberg.

Meski data ekonomi domestik menunjukkan performa positif, sentimen ini tertutup oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang parkir di level Rp16.855 per dolar AS.

Pasar saham tidak hanya tertekan oleh faktor internal, tetapi juga gelombang ketidakpastian dari luar negeri.

Eskalasi Geopolitik konflik di Iran dan pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana intervensi memicu kekhawatiran pasar global.

Selain itu, investigasi yang dilakukan Departemen Kehakiman membuka penyelidikan kriminal terhadap Chairman The Fed, Jerome Powell.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/