Overview:
Sektor ekonomi kreatif menyumbang kontribusi signifikan sebesar Rp24,46 triliun terhadap PDB nasional selama periode libur Nataru 2025/2026.
Subsektor kuliner menjadi penopang utama dengan nilai transaksi Rp19,9 triliun, disusul oleh fesyen dan kriya yang juga mencatat kenaikan keuntungan pada lebih dari 70% pelaku usaha.
Menteri Ekraf menegaskan bahwa potensi ini akan dikelola secara sistematis melalui integrasi ekosistem guna memperkuat daya saing jenama lokal secara berkelanjutan.
SulawesiPos.com – Sektor ekonomi kreatif (Ekraf) terbukti menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional selama momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
Data terbaru dari Direktorat Kajian Manajemen Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa sektor ini berhasil menyumbang Rp24,46 triliun, atau lebih dari separuh total tambahan PDB nasional yang mencapai Rp48,56 triliun.
Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa pencapaian ini membuktikan besarnya potensi strategis ekraf jika dikelola secara berkelanjutan dan tidak hanya dipandang sebagai tren sesaat.
“Data ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif bukan hanya ikut terdorong oleh momentum libur panjang, tetapi mampu menjadi tulang punggung perputaran ekonomi jika dirancang sebagai strategi tahunan yang terintegrasi,” ujar Teuku Riefky dalam keterangan persnya, Minggu (11/01/2026).
Berdasarkan data kementerian, subsektor kuliner masih menjadi primadona dengan kontribusi langsung sebesar Rp19,9 triliun.
Posisi berikutnya ditempati oleh subsektor fesyen dengan nilai Rp3,9 triliun, dan kriya sebesar Rp0,24 triliun.
Kajian perilaku konsumen juga menunjukkan bahwa rata-rata wisatawan menghabiskan sekitar Rp858 ribu per orang khusus untuk produk kreatif seperti makanan dan cinderamata.
Hal ini mencerminkan ruang besar bagi produk lokal untuk terus diperkuat dalam rantai konsumsi wisata nasional.
Menteri Teuku Riefky menekankan pentingnya penguatan rantai pasok dan akses pembiayaan agar pelaku ekraf dapat merespons lonjakan permintaan serupa di masa depan secara optimal.
Pemerintah berencana mengintegrasikan ekosistem ekraf melalui platform seperti Pasar Ekraf untuk memperkuat daya saing produk dalam negeri.
“Jika momentum seperti Nataru dikelola secara sistematis melalui Pasar Ekraf dan integrasi ekosistem, maka dampaknya tidak hanya mendorong PDB, tetapi juga memperkuat daya saing jenama lokal secara berkelanjutan,” tutup Teuku Riefky.