Categories: Ekonomi

Proyeksi Saham 2026: Menakar Peluang January Effect

SulawesiPos.com – Pasar modal Indonesia kembali memasuki siklus tahunan yang dikenal dengan fenomena January effect.

BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan anomali musiman ini sebagai periode krusial bagi investor untuk menyusun ulang strategi portofolio, terutama pada segmen saham dengan kapitalisasi pasar menengah ke bawah.

January effect didefinisikan sebagai kecenderungan naiknya harga saham pada bulan pertama setiap tahunnya.

Fenomena ini bukan tanpa alasan teknis, BRI Danareksa mencatat ada perpindahan likuiditas yang cukup masif di awal tahun yang dipicu oleh perilaku investor institusi maupun ritel.

Terdapat empat faktor fundamental yang saling berkelindan di balik fenomena ini. Pertama adalah tax-loss selling, sebuah strategi di mana investor melepas saham yang mengalami penurunan harga pada akhir Desember untuk efisiensi pajak, lalu membelinya kembali pada Januari.

Kedua, awal tahun sering kali menjadi periode masuknya “fresh money” atau dana segar yang bersumber dari bonus tahunan karyawan, tabungan baru, hingga alokasi investasi tahunan yang baru dimulai.

Ketiga, faktor rebalancing portofolio. Manajer investasi biasanya melakukan penyelarasan aset setelah melakukan tutup buku pada akhir tahun.

Terakhir adalah faktor psikologis, di mana awal tahun sering kali membawa sentimen “lembaran baru” yang meningkatkan optimisme pasar secara kolektif.

Satu catatan penting bagi para pelaku pasar adalah perbedaan dampak antara saham berkapitalisasi besar (blue chip) dan saham lapis kedua (small-cap).

Menurut analisis BRI Danareksa, saham small-cap cenderung jauh lebih responsif terhadap January effect.

“Efek ini paling sering terlihat pada saham small cap, karena likuiditasnya lebih kecil sehingga lebih sensitif terhadap arus dana masuk,” tulis BRI Danareksa dalam keterangannya, Minggu (4/1/2026) dilansir dari Kabarbursa.

Sebaliknya, saham-saham big cap diprediksi akan bergerak lebih moderat karena membutuhkan volume transaksi yang jauh lebih besar untuk mengalami lonjakan harga yang signifikan.

Meskipun secara historis sering terjadi, BRI Danareksa memberikan peringatan bahwa January effect bukanlah sebuah kepastian hukum di pasar saham.

Efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi makroekonomi global yang berkembang di awal tahun 2026 ini.

Beberapa variabel yang harus diwaspadai meliputi arah kebijakan suku bunga bank sentral, dinamika geopolitik global, serta agresivitas arus dana asing (foreign flow).

Jika tekanan eksternal dari faktor-faktor tersebut lebih dominan, maka potensi penguatan musiman ini bisa meredup atau bahkan tidak terlihat sama sekali.

Menghadapi volatilitas awal tahun, investor disarankan untuk tidak sekadar ‘ikut arus’. Fokus utama tetap harus berlandaskan pada analisis fundamental.

Investor mulai disarankan mencermati emiten yang memiliki likuiditas memadai namun valuasinya masih tergolong rendah akibat tertekan di akhir tahun lalu.

“Kuncinya bukan sekadar ikut-ikutan, tapi memahami konteks dan memilih saham secara selektif,” pungkas BRI Danareksa.

Kedisiplinan pada manajemen risiko tetap menjadi prioritas utama guna menghadapi volatilitas yang kerap meningkat pada pembukaan perdagangan tahun baru. (amh)

Admin

Share
Published by
Admin
Tags: BRI Danareksa Bursa efek January Effect Saham