27 C
Makassar
18 January 2026, 17:42 PM WITA

Proyeksi Saham 2026: Menakar Peluang January Effect

“Efek ini paling sering terlihat pada saham small cap, karena likuiditasnya lebih kecil sehingga lebih sensitif terhadap arus dana masuk,” tulis BRI Danareksa dalam keterangannya, Minggu (4/1/2026) dilansir dari Kabarbursa.

Sebaliknya, saham-saham big cap diprediksi akan bergerak lebih moderat karena membutuhkan volume transaksi yang jauh lebih besar untuk mengalami lonjakan harga yang signifikan.

Meskipun secara historis sering terjadi, BRI Danareksa memberikan peringatan bahwa January effect bukanlah sebuah kepastian hukum di pasar saham.

Efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi makroekonomi global yang berkembang di awal tahun 2026 ini.

Beberapa variabel yang harus diwaspadai meliputi arah kebijakan suku bunga bank sentral, dinamika geopolitik global, serta agresivitas arus dana asing (foreign flow).

Jika tekanan eksternal dari faktor-faktor tersebut lebih dominan, maka potensi penguatan musiman ini bisa meredup atau bahkan tidak terlihat sama sekali.

Menghadapi volatilitas awal tahun, investor disarankan untuk tidak sekadar ‘ikut arus’. Fokus utama tetap harus berlandaskan pada analisis fundamental.

Investor mulai disarankan mencermati emiten yang memiliki likuiditas memadai namun valuasinya masih tergolong rendah akibat tertekan di akhir tahun lalu.

Baca Juga: 
IHSG ditutup Naik 1,17 Persen, Sejalan dengan Optimisme Pemerintah

“Kuncinya bukan sekadar ikut-ikutan, tapi memahami konteks dan memilih saham secara selektif,” pungkas BRI Danareksa.

Kedisiplinan pada manajemen risiko tetap menjadi prioritas utama guna menghadapi volatilitas yang kerap meningkat pada pembukaan perdagangan tahun baru. (amh)

“Efek ini paling sering terlihat pada saham small cap, karena likuiditasnya lebih kecil sehingga lebih sensitif terhadap arus dana masuk,” tulis BRI Danareksa dalam keterangannya, Minggu (4/1/2026) dilansir dari Kabarbursa.

Sebaliknya, saham-saham big cap diprediksi akan bergerak lebih moderat karena membutuhkan volume transaksi yang jauh lebih besar untuk mengalami lonjakan harga yang signifikan.

Meskipun secara historis sering terjadi, BRI Danareksa memberikan peringatan bahwa January effect bukanlah sebuah kepastian hukum di pasar saham.

Efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi makroekonomi global yang berkembang di awal tahun 2026 ini.

Beberapa variabel yang harus diwaspadai meliputi arah kebijakan suku bunga bank sentral, dinamika geopolitik global, serta agresivitas arus dana asing (foreign flow).

Jika tekanan eksternal dari faktor-faktor tersebut lebih dominan, maka potensi penguatan musiman ini bisa meredup atau bahkan tidak terlihat sama sekali.

Menghadapi volatilitas awal tahun, investor disarankan untuk tidak sekadar ‘ikut arus’. Fokus utama tetap harus berlandaskan pada analisis fundamental.

Investor mulai disarankan mencermati emiten yang memiliki likuiditas memadai namun valuasinya masih tergolong rendah akibat tertekan di akhir tahun lalu.

Baca Juga: 
Harga Emas Antam di Makassar Hari Ini Meroket, Naik Rp34.000 per Gram

“Kuncinya bukan sekadar ikut-ikutan, tapi memahami konteks dan memilih saham secara selektif,” pungkas BRI Danareksa.

Kedisiplinan pada manajemen risiko tetap menjadi prioritas utama guna menghadapi volatilitas yang kerap meningkat pada pembukaan perdagangan tahun baru. (amh)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/