30 C
Makassar
18 January 2026, 15:55 PM WITA

Proyeksi Saham 2026: Menakar Peluang January Effect

SulawesiPos.com – Pasar modal Indonesia kembali memasuki siklus tahunan yang dikenal dengan fenomena January effect.

BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan anomali musiman ini sebagai periode krusial bagi investor untuk menyusun ulang strategi portofolio, terutama pada segmen saham dengan kapitalisasi pasar menengah ke bawah.

January effect didefinisikan sebagai kecenderungan naiknya harga saham pada bulan pertama setiap tahunnya.

Fenomena ini bukan tanpa alasan teknis, BRI Danareksa mencatat ada perpindahan likuiditas yang cukup masif di awal tahun yang dipicu oleh perilaku investor institusi maupun ritel.

Terdapat empat faktor fundamental yang saling berkelindan di balik fenomena ini. Pertama adalah tax-loss selling, sebuah strategi di mana investor melepas saham yang mengalami penurunan harga pada akhir Desember untuk efisiensi pajak, lalu membelinya kembali pada Januari.

Kedua, awal tahun sering kali menjadi periode masuknya “fresh money” atau dana segar yang bersumber dari bonus tahunan karyawan, tabungan baru, hingga alokasi investasi tahunan yang baru dimulai.

Ketiga, faktor rebalancing portofolio. Manajer investasi biasanya melakukan penyelarasan aset setelah melakukan tutup buku pada akhir tahun.

Baca Juga: 
Kaleidoskop Perekonomian Nasional 2025

Terakhir adalah faktor psikologis, di mana awal tahun sering kali membawa sentimen “lembaran baru” yang meningkatkan optimisme pasar secara kolektif.

Satu catatan penting bagi para pelaku pasar adalah perbedaan dampak antara saham berkapitalisasi besar (blue chip) dan saham lapis kedua (small-cap).

Menurut analisis BRI Danareksa, saham small-cap cenderung jauh lebih responsif terhadap January effect.

SulawesiPos.com – Pasar modal Indonesia kembali memasuki siklus tahunan yang dikenal dengan fenomena January effect.

BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan anomali musiman ini sebagai periode krusial bagi investor untuk menyusun ulang strategi portofolio, terutama pada segmen saham dengan kapitalisasi pasar menengah ke bawah.

January effect didefinisikan sebagai kecenderungan naiknya harga saham pada bulan pertama setiap tahunnya.

Fenomena ini bukan tanpa alasan teknis, BRI Danareksa mencatat ada perpindahan likuiditas yang cukup masif di awal tahun yang dipicu oleh perilaku investor institusi maupun ritel.

Terdapat empat faktor fundamental yang saling berkelindan di balik fenomena ini. Pertama adalah tax-loss selling, sebuah strategi di mana investor melepas saham yang mengalami penurunan harga pada akhir Desember untuk efisiensi pajak, lalu membelinya kembali pada Januari.

Kedua, awal tahun sering kali menjadi periode masuknya “fresh money” atau dana segar yang bersumber dari bonus tahunan karyawan, tabungan baru, hingga alokasi investasi tahunan yang baru dimulai.

Ketiga, faktor rebalancing portofolio. Manajer investasi biasanya melakukan penyelarasan aset setelah melakukan tutup buku pada akhir tahun.

Baca Juga: 
Kaleidoskop Perekonomian Nasional 2025

Terakhir adalah faktor psikologis, di mana awal tahun sering kali membawa sentimen “lembaran baru” yang meningkatkan optimisme pasar secara kolektif.

Satu catatan penting bagi para pelaku pasar adalah perbedaan dampak antara saham berkapitalisasi besar (blue chip) dan saham lapis kedua (small-cap).

Menurut analisis BRI Danareksa, saham small-cap cenderung jauh lebih responsif terhadap January effect.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/