27 C
Makassar
18 January 2026, 19:06 PM WITA

Mengapa Saham Amerika Serikat Mulai Kehilangan Daya Tariknya di Panggung Global?

SulawesiPos.com – Kekhawatiran terhadap valuasi yang terlalu tinggi, meningkatnya ketidakpastian perdagangan global, serta risiko terbentuknya gelembung kecerdasan buatan mendorong investor internasional mengalihkan modal mereka dari pasar Amerika Serikat ke kawasan lain, terutama Asia.

Saham Amerika Serikat, khususnya yang tercatat di Bursa Wall Street New York, menunjukkan kinerja relatif lebih lemah dibandingkan saham internasional dengan selisih terbesar sejak krisis keuangan global 2008.

Para investor global kini secara bertahap meningkatkan porsi investasi di luar Amerika Serikat sebagai respons terhadap ketidakpastian kebijakan ekonomi, volatilitas geopolitik, dan kekhawatiran bahwa valuasi pasar Amerika telah melampaui fundamental jangka panjangnya.

Sejumlah manajer investasi menilai diversifikasi lintas kawasan sebagai strategi defensif yang rasional, baik untuk mengurangi eksposur terhadap pasar yang dinilai mahal maupun untuk menangkap peluang pertumbuhan ekonomi global yang lebih merata.

Perbandingan valuasi menunjukkan bahwa saham-saham Amerika Serikat diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pasar Eropa dan Asia, mencerminkan optimisme yang sekaligus mengandung risiko koreksi.

Baca Juga: 
HP Akan Jadi Barang Jadul, Ini Penggantinya

Indeks S&P 500 mencatat kenaikan signifikan sejak awal tahun dan diperdagangkan jauh di atas rata-rata historisnya, sementara indeks global non-Amerika menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dengan valuasi yang relatif lebih moderat.

Pada periode yang sama, indeks MSCI di luar Amerika Serikat dan pasar negara berkembang memperoleh dorongan tambahan dari pelemahan dolar AS, yang secara historis meningkatkan arus modal ke aset berisiko di luar Amerika.

Tekanan utama pasar berasal dari kombinasi valuasi tinggi sektor teknologi, ketidakpastian perdagangan akibat kebijakan tarif yang fluktuatif, serta kekhawatiran bahwa lonjakan saham berbasis kecerdasan buatan tidak sepenuhnya ditopang oleh pertumbuhan laba riil.

Kelompok saham teknologi raksasa yang dikenal sebagai “Magnificent Seven” kini menyumbang porsi yang sangat besar terhadap indeks S&P 500, sehingga setiap koreksi pada saham-saham ini berpotensi mengguncang pasar secara keseluruhan.

Dalam konteks ini, investor global mulai mencari perlindungan risiko dengan meningkatkan alokasi investasi lintas negara sebagai bentuk antisipasi jika reli kecerdasan buatan mengalami perlambatan.

Baca Juga: 
Sri Mulyani Jadi Dewan Direksi Gates Foundation, CEO Yayasan: Ia Punya Pengalaman Membentuk Ekonomi Yang Adil

SulawesiPos.com – Kekhawatiran terhadap valuasi yang terlalu tinggi, meningkatnya ketidakpastian perdagangan global, serta risiko terbentuknya gelembung kecerdasan buatan mendorong investor internasional mengalihkan modal mereka dari pasar Amerika Serikat ke kawasan lain, terutama Asia.

Saham Amerika Serikat, khususnya yang tercatat di Bursa Wall Street New York, menunjukkan kinerja relatif lebih lemah dibandingkan saham internasional dengan selisih terbesar sejak krisis keuangan global 2008.

Para investor global kini secara bertahap meningkatkan porsi investasi di luar Amerika Serikat sebagai respons terhadap ketidakpastian kebijakan ekonomi, volatilitas geopolitik, dan kekhawatiran bahwa valuasi pasar Amerika telah melampaui fundamental jangka panjangnya.

Sejumlah manajer investasi menilai diversifikasi lintas kawasan sebagai strategi defensif yang rasional, baik untuk mengurangi eksposur terhadap pasar yang dinilai mahal maupun untuk menangkap peluang pertumbuhan ekonomi global yang lebih merata.

Perbandingan valuasi menunjukkan bahwa saham-saham Amerika Serikat diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pasar Eropa dan Asia, mencerminkan optimisme yang sekaligus mengandung risiko koreksi.

Baca Juga: 
Menkeu Purbaya Dorong Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas, Perkuat Sinergi Fiskal dan Moneter

Indeks S&P 500 mencatat kenaikan signifikan sejak awal tahun dan diperdagangkan jauh di atas rata-rata historisnya, sementara indeks global non-Amerika menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dengan valuasi yang relatif lebih moderat.

Pada periode yang sama, indeks MSCI di luar Amerika Serikat dan pasar negara berkembang memperoleh dorongan tambahan dari pelemahan dolar AS, yang secara historis meningkatkan arus modal ke aset berisiko di luar Amerika.

Tekanan utama pasar berasal dari kombinasi valuasi tinggi sektor teknologi, ketidakpastian perdagangan akibat kebijakan tarif yang fluktuatif, serta kekhawatiran bahwa lonjakan saham berbasis kecerdasan buatan tidak sepenuhnya ditopang oleh pertumbuhan laba riil.

Kelompok saham teknologi raksasa yang dikenal sebagai “Magnificent Seven” kini menyumbang porsi yang sangat besar terhadap indeks S&P 500, sehingga setiap koreksi pada saham-saham ini berpotensi mengguncang pasar secara keseluruhan.

Dalam konteks ini, investor global mulai mencari perlindungan risiko dengan meningkatkan alokasi investasi lintas negara sebagai bentuk antisipasi jika reli kecerdasan buatan mengalami perlambatan.

Baca Juga: 
Hipmi Berpesan Penguatan IHSG Harus Diikuti Kebijakan Konkret

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/