27 C
Makassar
18 January 2026, 19:11 PM WITA

Mengapa Saham Amerika Serikat Mulai Kehilangan Daya Tariknya di Panggung Global?

Isu ini tidak semata menyangkut risiko gelembung, tetapi juga pergeseran pusat inovasi global ke Asia, di mana perusahaan teknologi Tiongkok dan Asia Timur mulai muncul sebagai pesaing serius bagi dominasi perusahaan Amerika.

Kawasan Asia mencatatkan kinerja pasar yang menonjol, dengan indeks saham utama di Tiongkok dan Hong Kong menunjukkan pemulihan kuat seiring dukungan kebijakan industri, teknologi, dan stabilisasi ekonomi domestik.

Berbagai pengujian independen menunjukkan bahwa model kecerdasan buatan dan teknologi digital buatan Asia, khususnya Tiongkok, telah mencapai tingkat daya saing global yang setara dengan produk Amerika Serikat.

Fokus negara-negara Asia pada penguatan rantai pasok teknologi, kemandirian inovasi, serta kebijakan fiskal dan moneter yang pro-pertumbuhan dinilai berpotensi meningkatkan profitabilitas korporasi dalam jangka menengah.

Sejumlah lembaga keuangan internasional pun mulai menyesuaikan strategi portofolio mereka dengan meningkatkan bobot saham Asia dan pasar berkembang sebagai respons terhadap perubahan lanskap ekonomi global.

Pertanyaan utama yang kini dihadapi pasar adalah apakah keunggulan saham internasional akan berlanjut dalam jangka panjang, atau justru raksasa teknologi Amerika kembali menarik arus modal global jika pertumbuhan kecerdasan buatan mampu bertransformasi menjadi laba yang berkelanjutan.(ali)

Baca Juga: 
Proyeksi Saham 2026: Menakar Peluang January Effect

Isu ini tidak semata menyangkut risiko gelembung, tetapi juga pergeseran pusat inovasi global ke Asia, di mana perusahaan teknologi Tiongkok dan Asia Timur mulai muncul sebagai pesaing serius bagi dominasi perusahaan Amerika.

Kawasan Asia mencatatkan kinerja pasar yang menonjol, dengan indeks saham utama di Tiongkok dan Hong Kong menunjukkan pemulihan kuat seiring dukungan kebijakan industri, teknologi, dan stabilisasi ekonomi domestik.

Berbagai pengujian independen menunjukkan bahwa model kecerdasan buatan dan teknologi digital buatan Asia, khususnya Tiongkok, telah mencapai tingkat daya saing global yang setara dengan produk Amerika Serikat.

Fokus negara-negara Asia pada penguatan rantai pasok teknologi, kemandirian inovasi, serta kebijakan fiskal dan moneter yang pro-pertumbuhan dinilai berpotensi meningkatkan profitabilitas korporasi dalam jangka menengah.

Sejumlah lembaga keuangan internasional pun mulai menyesuaikan strategi portofolio mereka dengan meningkatkan bobot saham Asia dan pasar berkembang sebagai respons terhadap perubahan lanskap ekonomi global.

Pertanyaan utama yang kini dihadapi pasar adalah apakah keunggulan saham internasional akan berlanjut dalam jangka panjang, atau justru raksasa teknologi Amerika kembali menarik arus modal global jika pertumbuhan kecerdasan buatan mampu bertransformasi menjadi laba yang berkelanjutan.(ali)

Baca Juga: 
Menkeu Purbaya Dorong Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas, Perkuat Sinergi Fiskal dan Moneter

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/