28 C
Makassar
6 February 2026, 11:48 AM WITA

Pavel Durov Ungkit Pesan Lawas Mark Zuckerberg saat Meta Platforms Digugat soal Privasi WhatsApp

Overview

  • Pavel Durov mengungkit kembali pesan lawas Mark Zuckerberg sebagai kritik simbolik terhadap praktik pengelolaan data Meta di tengah gugatan privasi WhatsApp.
  • Gugatan hukum terhadap Meta menyoroti klaim enkripsi end-to-end WhatsApp yang dinilai menyesatkan karena masih memungkinkan pengumpulan dan analisis metadata pengguna.
  • Polemik ini menegaskan krisis kepercayaan publik terhadap raksasa teknologi, di mana privasi digital diperdebatkan sebagai komoditas dalam ekonomi data global.

SulawesiPos.com – Pendiri Telegram Pavel Durov kembali memicu perdebatan global tentang privasi digital setelah membagikan ulang tangkapan layar percakapan lama yang dikaitkan dengan CEO Meta Mark Zuckerberg, sebagaimana dilaporkan media bisnis teknologi Benzinga pada 3 Februari 2026.

Dalam unggahan di platform X, Durov menampilkan percakapan tahun 2004 melalui AOL Instant Messenger yang memperlihatkan Zuckerberg remaja diduga mengejek pengguna awal Facebook karena secara sukarela menyerahkan email dan foto pribadi mereka.

Percakapan yang pertama kali muncul bertahun-tahun lalu dalam arsip media teknologi Amerika itu memperlihatkan bagaimana kepercayaan pengguna diperlakukan sebagai sesuatu yang mudah dieksploitasi, sehingga kini kembali dipakai Durov sebagai kritik simbolik terhadap praktik pengelolaan data raksasa teknologi.

Baca Juga: 
Jelang Ramadan dan Idulfitri, Pemerintah Pastikan Kejahatan Pangan Ditindak Tegas

Durov menyatakan bahwa satu-satunya hal yang berubah sejak percakapan itu hanyalah skalanya, karena jika dahulu hanya ribuan orang mempercayakan data mereka, kini miliaran pengguna WhatsApp berada dalam posisi serupa.

Ia menuding perusahaan induk WhatsApp memanfaatkan kepercayaan publik dengan menjual citra keamanan total, meski berbagai kontroversi menunjukkan adanya celah dalam tata kelola privasi dan transparansi data.

Komentar tersebut muncul bersamaan dengan gugatan hukum terhadap Meta di Pengadilan Distrik Amerika Serikat di San Francisco oleh kelompok penggugat internasional yang menuduh perusahaan menyesatkan pengguna melalui klaim enkripsi menyeluruh.

Gugatan itu menyebut WhatsApp dipasarkan sebagai sepenuhnya terenkripsi end-to-end, namun perusahaan masih memiliki kemampuan menyimpan, menganalisis, atau mengakses metadata komunikasi dalam jumlah besar, termasuk waktu, pola interaksi, serta jejaring relasi pengguna.

Meta membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa protokol enkripsi berbasis Signal mencegah perusahaan membaca isi pesan pribadi, sementara Kepala WhatsApp Will Cathcart menyatakan kunci enkripsi sepenuhnya berada di perangkat pengguna.

Kontroversi kian meluas setelah Elon Musk ikut berkomentar dengan menyebut WhatsApp “tidak aman”, memicu perdebatan terbuka antartokoh teknologi yang saling mempertanyakan standar keamanan kompetitor mereka.

Baca Juga: 
Aduan Lapor Pak Amran, 133 Ton Bawang Bombay Diamankan Polrestabes Semarang

Dalam pembelaannya, WhatsApp juga menyinggung bahwa firma hukum penggugat pernah mewakili NSO Group, pembuat spyware Pegasus yang dituduh menargetkan jurnalis dan pejabat pemerintah di berbagai negara.

Overview

  • Pavel Durov mengungkit kembali pesan lawas Mark Zuckerberg sebagai kritik simbolik terhadap praktik pengelolaan data Meta di tengah gugatan privasi WhatsApp.
  • Gugatan hukum terhadap Meta menyoroti klaim enkripsi end-to-end WhatsApp yang dinilai menyesatkan karena masih memungkinkan pengumpulan dan analisis metadata pengguna.
  • Polemik ini menegaskan krisis kepercayaan publik terhadap raksasa teknologi, di mana privasi digital diperdebatkan sebagai komoditas dalam ekonomi data global.

SulawesiPos.com – Pendiri Telegram Pavel Durov kembali memicu perdebatan global tentang privasi digital setelah membagikan ulang tangkapan layar percakapan lama yang dikaitkan dengan CEO Meta Mark Zuckerberg, sebagaimana dilaporkan media bisnis teknologi Benzinga pada 3 Februari 2026.

Dalam unggahan di platform X, Durov menampilkan percakapan tahun 2004 melalui AOL Instant Messenger yang memperlihatkan Zuckerberg remaja diduga mengejek pengguna awal Facebook karena secara sukarela menyerahkan email dan foto pribadi mereka.

Percakapan yang pertama kali muncul bertahun-tahun lalu dalam arsip media teknologi Amerika itu memperlihatkan bagaimana kepercayaan pengguna diperlakukan sebagai sesuatu yang mudah dieksploitasi, sehingga kini kembali dipakai Durov sebagai kritik simbolik terhadap praktik pengelolaan data raksasa teknologi.

Baca Juga: 
Daftar Kosmetik Berbahaya BPOM: 26 Produk Mengandung Merkuri hingga Steroid Masih Beredar

Durov menyatakan bahwa satu-satunya hal yang berubah sejak percakapan itu hanyalah skalanya, karena jika dahulu hanya ribuan orang mempercayakan data mereka, kini miliaran pengguna WhatsApp berada dalam posisi serupa.

Ia menuding perusahaan induk WhatsApp memanfaatkan kepercayaan publik dengan menjual citra keamanan total, meski berbagai kontroversi menunjukkan adanya celah dalam tata kelola privasi dan transparansi data.

Komentar tersebut muncul bersamaan dengan gugatan hukum terhadap Meta di Pengadilan Distrik Amerika Serikat di San Francisco oleh kelompok penggugat internasional yang menuduh perusahaan menyesatkan pengguna melalui klaim enkripsi menyeluruh.

Gugatan itu menyebut WhatsApp dipasarkan sebagai sepenuhnya terenkripsi end-to-end, namun perusahaan masih memiliki kemampuan menyimpan, menganalisis, atau mengakses metadata komunikasi dalam jumlah besar, termasuk waktu, pola interaksi, serta jejaring relasi pengguna.

Meta membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa protokol enkripsi berbasis Signal mencegah perusahaan membaca isi pesan pribadi, sementara Kepala WhatsApp Will Cathcart menyatakan kunci enkripsi sepenuhnya berada di perangkat pengguna.

Kontroversi kian meluas setelah Elon Musk ikut berkomentar dengan menyebut WhatsApp “tidak aman”, memicu perdebatan terbuka antartokoh teknologi yang saling mempertanyakan standar keamanan kompetitor mereka.

Baca Juga: 
Jelang Ramadan dan Idulfitri, Pemerintah Pastikan Kejahatan Pangan Ditindak Tegas

Dalam pembelaannya, WhatsApp juga menyinggung bahwa firma hukum penggugat pernah mewakili NSO Group, pembuat spyware Pegasus yang dituduh menargetkan jurnalis dan pejabat pemerintah di berbagai negara.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/