26 C
Makassar
4 February 2026, 19:37 PM WITA

DLH Bone Cat Ulang Patung Arung Palakka Setelah 15 Tahun, Taman Kini Lebih Hidup

Overview

  • Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone melakukan pengecatan ulang Patung Arung Palakka di Lapangan Merdeka setelah 15 tahun tidak tersentuh perawatan.
  • Pengecatan dilakukan secara bertahap dengan empat hingga lima lapisan, mulai dari cat dasar hingga rekonstruksi warna hitam.
  • Proses ini merupakan bagian dari revitalisasi Taman Arung Palakka, kawasan hijau di depan Rumah Jabatan Bupati Bone.

SulawesiPos.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bone melakukan pengecatan ulang Patung Arung Palakka di Kompleks Lapangan Merdeka Kota Watampone.

Pengecatan ini dilakukan setelah 15 tahun patung tersebut tidak tersentuh perawatan.

Pantauan di lapangan, terdapat tiga pekerja yang menangani pengecatan, satu membersihkan bagian kepala, satu fokus pada bagian betis, dan satunya lagi sebagai penyapu.

Pengecatan dilakukan atas perintah Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman.

Kepala DLH Bone, Dray Vibrianto, menyebut pengecatan ini bagian dari proyek revitalisasi Taman Arung Palakka, kawasan hijau di depan Rumah Jabatan Bupati.

“Pengecatan tidak langsung jadi. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, mulai dari cat dasar, rekonstruksi warna hitam, hingga lapisan berikutnya dengan sistem layer. Totalnya bisa mencapai empat sampai lima lapisan,” jelas Dray.

Baca Juga: 
Dosen Bergelar Doktor di Bone Terjerat Narkoba, Polisi Sita 0,73 Gram Sabu

Sejarah Patung Arung Palakka

Patung Arung Palakka awalnya dibuat oleh pematung nasional Dicky Chandra, yang juga mengajar di Universitas Negeri Makassar juga sebagai dosen terbang di beberapa universitas seni di Indonesia, termasuk ASRI Jogjakarta.

Dicky yang memiliki keturunan Belanda dan campuran beberapa suku dari Jawa, Makassar, Manado, dan Bugis Bone, mendapat petunjuk pembuatan patung melalui mimpi.

Sejarah proyek patung Arung Pallakka dimuat pemerhati Budaya Bugis  A Amir Wija To Bone pada laman Facebook-nya.

Dalam tulisannya tersebut, pengurus KKSS Bontang, Kalimantan Timur ini, menulis sekelumit para pekerja patung ini.

Overview

  • Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone melakukan pengecatan ulang Patung Arung Palakka di Lapangan Merdeka setelah 15 tahun tidak tersentuh perawatan.
  • Pengecatan dilakukan secara bertahap dengan empat hingga lima lapisan, mulai dari cat dasar hingga rekonstruksi warna hitam.
  • Proses ini merupakan bagian dari revitalisasi Taman Arung Palakka, kawasan hijau di depan Rumah Jabatan Bupati Bone.

SulawesiPos.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bone melakukan pengecatan ulang Patung Arung Palakka di Kompleks Lapangan Merdeka Kota Watampone.

Pengecatan ini dilakukan setelah 15 tahun patung tersebut tidak tersentuh perawatan.

Pantauan di lapangan, terdapat tiga pekerja yang menangani pengecatan, satu membersihkan bagian kepala, satu fokus pada bagian betis, dan satunya lagi sebagai penyapu.

Pengecatan dilakukan atas perintah Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman.

Kepala DLH Bone, Dray Vibrianto, menyebut pengecatan ini bagian dari proyek revitalisasi Taman Arung Palakka, kawasan hijau di depan Rumah Jabatan Bupati.

“Pengecatan tidak langsung jadi. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, mulai dari cat dasar, rekonstruksi warna hitam, hingga lapisan berikutnya dengan sistem layer. Totalnya bisa mencapai empat sampai lima lapisan,” jelas Dray.

Baca Juga: 
Isu “Uang Tebusan” Mencuat, Polisi di Bantaeng Bantah Empat Terduga Dilepas dalam Kasus Sabu

Sejarah Patung Arung Palakka

Patung Arung Palakka awalnya dibuat oleh pematung nasional Dicky Chandra, yang juga mengajar di Universitas Negeri Makassar juga sebagai dosen terbang di beberapa universitas seni di Indonesia, termasuk ASRI Jogjakarta.

Dicky yang memiliki keturunan Belanda dan campuran beberapa suku dari Jawa, Makassar, Manado, dan Bugis Bone, mendapat petunjuk pembuatan patung melalui mimpi.

Sejarah proyek patung Arung Pallakka dimuat pemerhati Budaya Bugis  A Amir Wija To Bone pada laman Facebook-nya.

Dalam tulisannya tersebut, pengurus KKSS Bontang, Kalimantan Timur ini, menulis sekelumit para pekerja patung ini.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/