Overview
- Presiden Xi Jinping secara terbuka mendorong yuan menjadi mata uang cadangan global sebagai bagian dari strategi memperluas pengaruh moneter Tiongkok.
- Langkah ini muncul di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelemahan dominasi dolar, dan menguatnya wacana sistem moneter multipolar.
- Guru Besar Unhas menilai stabilitas dolar kini tampak rapuh sehingga banyak negara mulai mencari alternatif lindung nilai.
SulawesiPos.com – Presiden Tiongkok Xi Jinping secara terbuka menyerukan agar renminbi atau yuan ditingkatkan statusnya menjadi mata uang cadangan global sebagai langkah strategis untuk memperluas peran Beijing dalam sistem moneter internasional, sebagaimana dilaporkan Financial Times pada 1 Februari 2026.
Dalam artikel komentar yang dipublikasikan di Qiushi, jurnal ideologi resmi Partai Komunis Tiongkok, Xi menegaskan pentingnya membangun “mata uang yang kuat” yang dapat digunakan luas dalam perdagangan internasional, investasi lintas batas, pasar valuta asing, hingga diakui sebagai instrumen cadangan devisa oleh bank-bank sentral dunia.
Pernyataan itu menjadi penjelasan paling terang mengenai visi jangka panjang Beijing untuk menginternasionalkan yuan setelah bertahun-tahun mendorong transaksi bilateral non-dolar dan memperluas sistem pembayaran lintas negara berbasis renminbi.
Xi menekankan bahwa fondasi menuju mata uang global mensyaratkan bank sentral yang tangguh, tata kelola moneter kredibel, lembaga keuangan kompetitif secara internasional, serta pusat keuangan yang mampu menarik arus modal dan memengaruhi pembentukan harga global.
Komentar tersebut berasal dari pidato internal yang disampaikan kepada pejabat tinggi daerah pada 2024 dan baru dirilis ke publik ketika dinamika ekonomi global menunjukkan pergeseran kekuatan yang semakin nyata.
Momentum publikasi itu bertepatan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar akibat pelemahan dolar Amerika Serikat, perubahan kepemimpinan Federal Reserve, serta tensi geopolitik dan perang dagang yang mendorong banyak bank sentral meninjau ulang ketergantungan pada aset berbasis dolar.
Ekonom Pantheon Macroeconomics, Kelvin Lam menilai langkah Beijing mencerminkan kesadaran bahwa tatanan ekonomi dunia tengah berubah cepat sehingga Tiongkok melihat peluang historis memperluas pengaruh moneter di tengah retaknya dominasi Barat.
Gubernur People’s Bank of China, Pan Gongsheng sebelumnya memprediksi lahirnya sistem moneter multipolar di mana yuan akan bersaing langsung dengan dolar dan euro sebagai mata uang utama dunia.
Direktur The Asia Group, Han Shen Lin menyatakan Beijing tidak bermaksud menggantikan dolar secara instan, tetapi ingin menjadikan yuan sebagai penyeimbang strategis yang mampu membatasi leverage finansial Amerika Serikat dalam sistem global yang terfragmentasi.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, penggunaan renminbi dalam pembiayaan perdagangan melonjak sehingga kini menjadi mata uang pembiayaan perdagangan terbesar kedua di dunia meski porsinya dalam cadangan devisa resmi masih terbatas.

