24 C
Makassar
3 February 2026, 5:02 AM WITA

IHSG Anjlok ke 7.887 Pada Sesi I, Pelaku Pasar Cermati Risiko MSCI dan Respons Pemerintah

Overview:

  • IHSG ambruk 5,31% pada perdagangan sesi I Senin (2/2/2026), terseret tekanan jual masif dan sentimen negatif pasar.

  • Kekhawatiran terhadap risiko penurunan status Indonesia di indeks MSCI serta mundurnya sejumlah pejabat OJK dan BEI membebani kepercayaan investor.

  • Di tengah tekanan, peluang rebound tetap terbuka seiring masuknya likuiditas domestik dan rencana pertemuan pemerintah dengan MSCI.

SulawesiPos.com – Sesi I perdagangan saham di pasar modal pada Senin (2/2/2026), terpuruk hingga anjlok pada 5,31%.

Sejak dibuka, tren pasar modal menunjukkan koreksi dalam hingga turun ke 7.887,16 poin atau turun 442,44 poin dari penutupan perdagangan pekan lalu.

Beberapa indeks juga terpengaruh seperti LQ45 yang turun 3,98% menjadi 800,37 dan JII yang turun 7,64% menjadi 515,64 poin.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim menilai pelaku pasar masih bersikap hati-hati dan terus memantau dinamika terbaru di pasar modal domestik.

Sikap tersebut muncul menyusul mundurnya sejumlah pejabat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), yang dinilai turut memengaruhi sentimen investor dalam jangka pendek.

Baca Juga: 
Awal 2026 Harga Emas dan Perak Mulai Stabil Usai Tekanan Akhir Tahun

Selain itu, menurut laporan MNC Sekuritas yang disajikan dalam “Indonesia’s wake up call: pricing the cost of credibility,” menjelaskan beberapa ancaman dan peluang dari kejadian ini.

Tekanan tajam di pasar saham Indonesia berawal dari meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap risiko penurunan status Indonesia di indeks MSCI.

Pembekuan penilaian terkait aspek foreign investor friendly (FIF) serta minimnya kejelasan arah kebijakan memicu aksi de-risking besar-besaran, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi, melainkan akibat risiko struktural indeks.

Peluang Rebound

Di tengah tekanan tersebut, penopang likuiditas domestik mulai terlihat.

Danantara menargetkan penyaluran investasi hingga USD14 miliar pada FY26, dengan sekitar separuhnya dialokasikan ke saham publik, khususnya saham-saham LQ45, dan telah aktif melakukan pembelian sejak akhir 2025.

Overview:

  • IHSG ambruk 5,31% pada perdagangan sesi I Senin (2/2/2026), terseret tekanan jual masif dan sentimen negatif pasar.

  • Kekhawatiran terhadap risiko penurunan status Indonesia di indeks MSCI serta mundurnya sejumlah pejabat OJK dan BEI membebani kepercayaan investor.

  • Di tengah tekanan, peluang rebound tetap terbuka seiring masuknya likuiditas domestik dan rencana pertemuan pemerintah dengan MSCI.

SulawesiPos.com – Sesi I perdagangan saham di pasar modal pada Senin (2/2/2026), terpuruk hingga anjlok pada 5,31%.

Sejak dibuka, tren pasar modal menunjukkan koreksi dalam hingga turun ke 7.887,16 poin atau turun 442,44 poin dari penutupan perdagangan pekan lalu.

Beberapa indeks juga terpengaruh seperti LQ45 yang turun 3,98% menjadi 800,37 dan JII yang turun 7,64% menjadi 515,64 poin.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim menilai pelaku pasar masih bersikap hati-hati dan terus memantau dinamika terbaru di pasar modal domestik.

Sikap tersebut muncul menyusul mundurnya sejumlah pejabat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), yang dinilai turut memengaruhi sentimen investor dalam jangka pendek.

Baca Juga: 
IHSG Kembali Pecahkan Rekor ATH di Level 8.933

Selain itu, menurut laporan MNC Sekuritas yang disajikan dalam “Indonesia’s wake up call: pricing the cost of credibility,” menjelaskan beberapa ancaman dan peluang dari kejadian ini.

Tekanan tajam di pasar saham Indonesia berawal dari meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap risiko penurunan status Indonesia di indeks MSCI.

Pembekuan penilaian terkait aspek foreign investor friendly (FIF) serta minimnya kejelasan arah kebijakan memicu aksi de-risking besar-besaran, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi, melainkan akibat risiko struktural indeks.

Peluang Rebound

Di tengah tekanan tersebut, penopang likuiditas domestik mulai terlihat.

Danantara menargetkan penyaluran investasi hingga USD14 miliar pada FY26, dengan sekitar separuhnya dialokasikan ke saham publik, khususnya saham-saham LQ45, dan telah aktif melakukan pembelian sejak akhir 2025.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/