24 C
Makassar
3 February 2026, 3:14 AM WITA

Gelembung AI Semakin Kuat

SulawesiPos.com – Pendiri Microsoft Bill Gates memperingatkan bahwa euforia kecerdasan buatan bisa membuat pasar teknologi menjadi terlalu panas karena banyak saham perusahaan AI dinilai terlalu tinggi dibanding kekuatan bisnisnya yang sebenarnya.

Peringatan itu disampaikan saat pertemuan World Economic Forum di Davos, ketika diskusi global bergeser dari pertanyaan apakah AI berbahaya menjadi seberapa cepat teknologi ini akan mengubah pekerjaan dan investasi dunia.

Media ekonomi Maaal edisi Riyadh pada akhir Januari 2026 menulis bahwa tidak semua perusahaan yang ikut gelombang AI akan bertahan lama, meskipun teknologi AI sendiri hampir pasti akan dipakai luas di berbagai sektor kehidupan.

Prof Indrabayu: AI Seperti Listrik, Tapi Tidak Semua “Pembangkit” Selamat

Dalam wawancara dengan jurnalis Sulawesi Pos pada Sabtu (31/1/2026), Prof. Dr. Ir. Indrabayu, ST., MT., M.Bus.Sys., IPM, ASEAN. Eng, pakar Kecerdasan Buatan , Data Mining, Multimedia Analitic dari Universitas Hasanuddin menjelaskan peringatan Gates dengan bahasa sederhana melalui metafora bahwa AI itu seperti listrik yang akan dipakai semua orang, tetapi tidak semua perusahaan pembangkitnya akan bertahan.

Baca Juga: 
KPK Selidiki BPKH Terkait Dugaan Korupsi Dana Haji dan Layanan di Bawah Standar
Prof Bayu, pakar kecerdasan buatan, menegaskan bahwa euforia pasar terhadap AI perlu diimbangi kewarasan investasi, karena masa depan teknologi ditentukan oleh kualitas penerapan, bukan sekadar hype.
Prof Bayu, pakar kecerdasan buatan, menegaskan bahwa euforia pasar terhadap AI perlu diimbangi kewarasan investasi, karena masa depan teknologi ditentukan oleh kualitas penerapan, bukan sekadar hype.

Menurutnya, yang berisiko menjadi gelembung bukan teknologi AI, melainkan ekspektasi manusia yang terlalu tinggi dan bergerak lebih cepat daripada kesiapan bisnis, data, dan keamanan sistem.

Ia menegaskan bahwa AI adalah maraton, bukan sprint, sehingga pemenang jangka panjang bukan perusahaan yang paling ramai dipromosikan, melainkan yang paling rapi mengelola biaya, data, keamanan, dan produk yang benar-benar dipakai masyarakat.

Prof Indrabayu menyebut dirinya mendukung perkembangan AI, namun menolak sikap histeria pasar, karena inovasi membutuhkan keberanian sementara investasi tetap membutuhkan kewarasan.

Mengapa Isu Gelembung AI Semakin Kuat

Kekhawatiran pasar meningkat sejak 2025 ketika perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Oracle menghabiskan sekitar 400 miliar dolar AS untuk membangun infrastruktur pusat data AI.

SulawesiPos.com – Pendiri Microsoft Bill Gates memperingatkan bahwa euforia kecerdasan buatan bisa membuat pasar teknologi menjadi terlalu panas karena banyak saham perusahaan AI dinilai terlalu tinggi dibanding kekuatan bisnisnya yang sebenarnya.

Peringatan itu disampaikan saat pertemuan World Economic Forum di Davos, ketika diskusi global bergeser dari pertanyaan apakah AI berbahaya menjadi seberapa cepat teknologi ini akan mengubah pekerjaan dan investasi dunia.

Media ekonomi Maaal edisi Riyadh pada akhir Januari 2026 menulis bahwa tidak semua perusahaan yang ikut gelombang AI akan bertahan lama, meskipun teknologi AI sendiri hampir pasti akan dipakai luas di berbagai sektor kehidupan.

Prof Indrabayu: AI Seperti Listrik, Tapi Tidak Semua “Pembangkit” Selamat

Dalam wawancara dengan jurnalis Sulawesi Pos pada Sabtu (31/1/2026), Prof. Dr. Ir. Indrabayu, ST., MT., M.Bus.Sys., IPM, ASEAN. Eng, pakar Kecerdasan Buatan , Data Mining, Multimedia Analitic dari Universitas Hasanuddin menjelaskan peringatan Gates dengan bahasa sederhana melalui metafora bahwa AI itu seperti listrik yang akan dipakai semua orang, tetapi tidak semua perusahaan pembangkitnya akan bertahan.

Baca Juga: 
Dito Ariotedjo Diperiksa Tiga Jam Soal Korupsi Kuota Haji
Prof Bayu, pakar kecerdasan buatan, menegaskan bahwa euforia pasar terhadap AI perlu diimbangi kewarasan investasi, karena masa depan teknologi ditentukan oleh kualitas penerapan, bukan sekadar hype.
Prof Bayu, pakar kecerdasan buatan, menegaskan bahwa euforia pasar terhadap AI perlu diimbangi kewarasan investasi, karena masa depan teknologi ditentukan oleh kualitas penerapan, bukan sekadar hype.

Menurutnya, yang berisiko menjadi gelembung bukan teknologi AI, melainkan ekspektasi manusia yang terlalu tinggi dan bergerak lebih cepat daripada kesiapan bisnis, data, dan keamanan sistem.

Ia menegaskan bahwa AI adalah maraton, bukan sprint, sehingga pemenang jangka panjang bukan perusahaan yang paling ramai dipromosikan, melainkan yang paling rapi mengelola biaya, data, keamanan, dan produk yang benar-benar dipakai masyarakat.

Prof Indrabayu menyebut dirinya mendukung perkembangan AI, namun menolak sikap histeria pasar, karena inovasi membutuhkan keberanian sementara investasi tetap membutuhkan kewarasan.

Mengapa Isu Gelembung AI Semakin Kuat

Kekhawatiran pasar meningkat sejak 2025 ketika perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Oracle menghabiskan sekitar 400 miliar dolar AS untuk membangun infrastruktur pusat data AI.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/