Overview
- Kembalinya pemain diaspora Timnas Indonesia ke Liga 1 bukan kebetulan.
- Faktor menit bermain, strategi karier jangka panjang, kemudahan pemantauan pelatih Timnas John Herdman, hingga nilai kontrak kompetitif menjadi alasan utama di balik keputusan besar ini.
SulawesiPos.com – Gelombang kepulangan pemain diaspora Timnas Indonesia ke kompetisi domestik semakin menguat.
Nama-nama seperti Thom Haye, Eliano Reijnders, Dion Markx, Jens Raven, Rafael Struick, hingga Jordi Amat dan Shayne Pattynama kini memilih melanjutkan karier di Liga 1 bersama klub-klub besar.
Fenomena ini memunculkan satu pertanyaan besar: apa yang sebenarnya mendorong para pemain tersebut kembali ke Indonesia?
Bagi pemain Timnas, menit bermain reguler adalah kebutuhan mutlak.
Thom Haye, misalnya, membutuhkan ritme pertandingan yang konsisten untuk menjaga level performa.
Hal serupa juga dialami Eliano Reijnders dan Dion Markx yang memilih Persib Bandung—klub yang mampu memberikan peran jelas dan kepercayaan penuh di dalam tim utama.
Di Eropa, persaingan ketat sering kali membuat pemain diaspora harus puas sebagai pelapis. Liga 1 menawarkan kepastian tampil, sesuatu yang sangat bernilai dalam fase penting karier mereka.
Keputusan kembali ke Indonesia juga mencerminkan kedewasaan dalam perencanaan karier.
Jens Raven memilih Bali United bukan semata karena faktor usia muda, tetapi karena stabilitas klub dan jalur pengembangan yang jelas.
Rafael Struick pun mengambil langkah strategis bersama Dewa United, klub yang menjanjikan peran sentral ketimbang sekadar status pemain.

