Syamsuddin Umar: PSM Makassar Tidak Punya Sejarah Terdegradasi, Harus Berjuang Keluar dari Zona Kritis

SulawesiPos.com – Mantan pemain sekaligus mantan pelatih PSM Makassar, Syamsuddin Umar, menilai klub sepak bola kebanggaan Sulawesi Selatan berada di posisi kritis dan harus berjuang menjauh dari zona degradasi.

Syamsuddin menegaskan PSM belum memiliki sejarah terdegradasi dari liga kasta tertinggi di Indonesia.

“PSM belum punya sejarah terdepak dari kompetisi liga teratas, kondisi ini sangat memprihatinkan yang harus dicari jalan keluarnya,” ujar Syamsuddin saat disambangi Sulawesi Pos, di kediamannya, di Jalan Skarda, Makassar, Jumat (10/4).

Dalam laga tandang sore nanti di Markas PSIM Mataram, Syamsuddin berharap tim berjuluk Juku Eja ini harus berjuang keras untuk bisa menang dan menambah pemasukan 3 poin, di tengah kondisi PSM yang terpuruk di papan bawah klasemen.

Dari 26 pertandingan, PSM baru menang 5 Kali, 10 kali seri, dan 11 kali kalah. Dengan koleksi 25 poin di musim ini, pelatih besutan masih terjerembab di peringkat ke-13, dari 18 klub peserta Liga1BRI.

BACA JUGA: 
PSM Makassar Kena Lagi Sanksi FIFA! Juku Eja Dilarang Daftarkan Pemain Baru Selama 3 Periode Transfer

“Pemain-pemain PSM tentunya profesional, memiliki skill, berjiwa kompetitif, hasil seleksi ketat dari pemain-pemain lain, memiliki etika. Tapi, jangan lupa mereka wajib menjaga nama baik PSM yang selama ini menjadi pemersatu, kebanggaan, dan harga diri masyarakat Sulsel,” ujar pelatih yang pernah membawa PSM juara Liga Perserikatan musim 1992–1993 serta menjuarai Liga Indonesia pada musim 1999–2000.

Menurut Syamsuddin, posisi PSM saat ini berjuang dengan klub-klub papan bawah, seperti Persijap Jepara, Persis Solo, dan Madura United, yang sama-sama berjuang naik peringkat untuk menghindari zona degradasi.

Demikian pula klub-klub yang sudah berada di posisi teratas saling bersaing untuk menjadi juara seperti Persib, Borneo FC, dan Persija.

“Sisa 8 pertandingan PSM musim ini, beberapa lawannya juga mengalami kondisi yang sama memprihatinkan, seperti Persik, Arema, dan Madura United, pemain-pemain dan pelatih PSM harus berusaha sekuat tenaga meraih poin agar tidak terdegradasi,” tambah Syamsuddin.

Syamsuddin yang pernah menjadi pendamping tiga Pelatih Timnas, Peter White, Ivan Kolev dan Jalal Talebi ini menilai sengkarut PSM ikut dipengaruhi dari pergantian pelatih, Bernardo Tavares ke Tomas Trucha, Oktober 2025 lalu. Jika berhasil lolos dari degradasi nanti, pelatih dan manajemen PSM harus bisa berbenah mempersiapkan tim yang tangguh.

BACA JUGA: 
PSM Makassar Terpuruk! Tiga Kekalahan Beruntun Jadi Alarm Bahaya di Liga

Syamsuddin menceritakan pengalamannya saat PSM kalah di partai final kompetisi Perserikatan melawan Persib Bandung, tahun 1994 lalu, rumahnya diteror dari orang tidak dikenal dan mendapat cibiran dari rekan-rekan dan tetangganya.

“Degradasi bagi klub seperti PSM akan menjadi sejarah kelam yang tidak hanya dialami pemain, tapi juga dirasakan supporter, warga Makassar dan Sulsel, akan diingat selalu oleh mereka, klub dan orang-orangnya di salamnya juga akan mendapat sanksi sosial dari masyarakat,” tutup Syamsuddin.

SulawesiPos.com – Mantan pemain sekaligus mantan pelatih PSM Makassar, Syamsuddin Umar, menilai klub sepak bola kebanggaan Sulawesi Selatan berada di posisi kritis dan harus berjuang menjauh dari zona degradasi.

Syamsuddin menegaskan PSM belum memiliki sejarah terdegradasi dari liga kasta tertinggi di Indonesia.

“PSM belum punya sejarah terdepak dari kompetisi liga teratas, kondisi ini sangat memprihatinkan yang harus dicari jalan keluarnya,” ujar Syamsuddin saat disambangi Sulawesi Pos, di kediamannya, di Jalan Skarda, Makassar, Jumat (10/4).

Dalam laga tandang sore nanti di Markas PSIM Mataram, Syamsuddin berharap tim berjuluk Juku Eja ini harus berjuang keras untuk bisa menang dan menambah pemasukan 3 poin, di tengah kondisi PSM yang terpuruk di papan bawah klasemen.

Dari 26 pertandingan, PSM baru menang 5 Kali, 10 kali seri, dan 11 kali kalah. Dengan koleksi 25 poin di musim ini, pelatih besutan masih terjerembab di peringkat ke-13, dari 18 klub peserta Liga1BRI.

BACA JUGA: 
Tren Buruk Berlanjut! PSM Tumbang 2-4 dari Persita, Suporter Turun ke Lapangan

“Pemain-pemain PSM tentunya profesional, memiliki skill, berjiwa kompetitif, hasil seleksi ketat dari pemain-pemain lain, memiliki etika. Tapi, jangan lupa mereka wajib menjaga nama baik PSM yang selama ini menjadi pemersatu, kebanggaan, dan harga diri masyarakat Sulsel,” ujar pelatih yang pernah membawa PSM juara Liga Perserikatan musim 1992–1993 serta menjuarai Liga Indonesia pada musim 1999–2000.

Menurut Syamsuddin, posisi PSM saat ini berjuang dengan klub-klub papan bawah, seperti Persijap Jepara, Persis Solo, dan Madura United, yang sama-sama berjuang naik peringkat untuk menghindari zona degradasi.

Demikian pula klub-klub yang sudah berada di posisi teratas saling bersaing untuk menjadi juara seperti Persib, Borneo FC, dan Persija.

“Sisa 8 pertandingan PSM musim ini, beberapa lawannya juga mengalami kondisi yang sama memprihatinkan, seperti Persik, Arema, dan Madura United, pemain-pemain dan pelatih PSM harus berusaha sekuat tenaga meraih poin agar tidak terdegradasi,” tambah Syamsuddin.

Syamsuddin yang pernah menjadi pendamping tiga Pelatih Timnas, Peter White, Ivan Kolev dan Jalal Talebi ini menilai sengkarut PSM ikut dipengaruhi dari pergantian pelatih, Bernardo Tavares ke Tomas Trucha, Oktober 2025 lalu. Jika berhasil lolos dari degradasi nanti, pelatih dan manajemen PSM harus bisa berbenah mempersiapkan tim yang tangguh.

BACA JUGA: 
Posisi PSM Makassar di Klasemen BRI Liga 1 Jadi Sorotan, Juku Eja Dituntut Bangkit

Syamsuddin menceritakan pengalamannya saat PSM kalah di partai final kompetisi Perserikatan melawan Persib Bandung, tahun 1994 lalu, rumahnya diteror dari orang tidak dikenal dan mendapat cibiran dari rekan-rekan dan tetangganya.

“Degradasi bagi klub seperti PSM akan menjadi sejarah kelam yang tidak hanya dialami pemain, tapi juga dirasakan supporter, warga Makassar dan Sulsel, akan diingat selalu oleh mereka, klub dan orang-orangnya di salamnya juga akan mendapat sanksi sosial dari masyarakat,” tutup Syamsuddin.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru