27 C
Makassar
18 January 2026, 17:40 PM WITA

Ratusan Madrasah Terdampak Bencana di Aceh Siap Belajar Tatap Muka Besok

SulawesiPos.com – Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Aceh melakukan langkah progresif untuk memastikan hak pendidikan siswa tetap terpenuhi pascabencana hidrometeorologi.

Hasilnya, sebanyak 437 dari 500 madrasah yang sempat terdampak bencana dinyatakan siap melaksanakan kembali Proses Belajar Mengajar (PBM) tatap muka mulai besok Senin (05/01/2026).

Kecepatan pemulihan ini merupakan buah dari kerja keras Tim Tanggap Darurat Bencana Kanwil Kemenag Aceh yang melakukan pendampingan intensif sejak awal masa darurat.

“Alhamdulillah, mayoritas madrasah terdampak sudah siap melaksanakan PBM. Ini menunjukkan semangat yang luar biasa dari para pendidik, tenaga kependidikan, serta dukungan masyarakat dalam memulihkan layanan pendidikan bagi anak-anak kita,” ujar Ketua Tim Tanggap Darurat, Khairul Azhar, Minggu (4/1/2026).

Komitmen Kemenag untuk memulihkan akses pendidikan secara cepat juga terlihat dari penanganan 10 lembaga pendidikan yang mengalami kerusakan total, baik roboh maupun hanyut diterjang banjir.

Meski infrastruktur fisik hilang, mereka memastikan para siswa di sekolah tersebut tetap bisa belajar besok dengan melakukan relokasi ke tempat sementara.

Baca Juga: 
Waspada Cuaca Ekstrem, Hujan Lebat Berpotensi Terjadi di Sulsel 18–20 Januari 2026

“10 lembaga pendidikan yang roboh atau hanyut juga sudah siap melaksanakan PBM meski harus direlokasi ke tempat sementara, seperti masjid/meunasah, lapangan desa, atau area madrasah yang masih memungkinkan,” jelas Khairul yang juga menjabat Kabid Pendidikan Madrasah.

Meskipun sebagian besar sudah siap, Kanwil Kemenag Aceh mengakui masih ada 63 madrasah yang sedang dalam tahap pembersihan intensif.

Wilayah dengan konsentrasi pemulihan tersulit berada di Aceh Utara dengan rincian 19 madrasah, Aceh Tamiang 17 madrasah, dan Aceh Tengah 14 madrasah.

Kendala yang dihadapi di lapangan meliputi tebalnya material lumpur di ruang kelas serta akses jalan yang masih terputus. Namun, Kemenag terus berkoordinasi dengan relawan dan pemerintah daerah untuk mempercepat proses evakuasi material.

Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menegaskan bahwa pemulihan layanan dasar pendidikan harus dilakukan secepat mungkin tanpa mengabaikan aspek keselamatan.

Kemenag mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang membuat proses pemulihan sarana prasarana berjalan lebih singkat dari perkiraan.

“Pendidikan adalah layanan dasar yang harus segera dipulihkan. Namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Kami mendorong percepatan pemulihan sarana prasarana madrasah tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kesiapsiagaan bencana,” tegas Azhari.

Baca Juga: 
Purbaya Sebut Prabowo Setuju Tak Potong TKD Aceh Demi Rehabilitas Pascabencana

Gerak cepat Kemenag Aceh ini diharapkan mampu meminimalisir ketertinggalan kurikulum bagi peserta didik di wilayah bencana, sekaligus memberikan stabilitas psikososial bagi anak-anak untuk kembali beraktivitas secara normal di lingkungan sekolah. (amh)

SulawesiPos.com – Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Aceh melakukan langkah progresif untuk memastikan hak pendidikan siswa tetap terpenuhi pascabencana hidrometeorologi.

Hasilnya, sebanyak 437 dari 500 madrasah yang sempat terdampak bencana dinyatakan siap melaksanakan kembali Proses Belajar Mengajar (PBM) tatap muka mulai besok Senin (05/01/2026).

Kecepatan pemulihan ini merupakan buah dari kerja keras Tim Tanggap Darurat Bencana Kanwil Kemenag Aceh yang melakukan pendampingan intensif sejak awal masa darurat.

“Alhamdulillah, mayoritas madrasah terdampak sudah siap melaksanakan PBM. Ini menunjukkan semangat yang luar biasa dari para pendidik, tenaga kependidikan, serta dukungan masyarakat dalam memulihkan layanan pendidikan bagi anak-anak kita,” ujar Ketua Tim Tanggap Darurat, Khairul Azhar, Minggu (4/1/2026).

Komitmen Kemenag untuk memulihkan akses pendidikan secara cepat juga terlihat dari penanganan 10 lembaga pendidikan yang mengalami kerusakan total, baik roboh maupun hanyut diterjang banjir.

Meski infrastruktur fisik hilang, mereka memastikan para siswa di sekolah tersebut tetap bisa belajar besok dengan melakukan relokasi ke tempat sementara.

Baca Juga: 
Mentan Amran: Kalau Untuk Kebaikan, Menjadi Dosen Biasa di ITS pun Saya Siap

“10 lembaga pendidikan yang roboh atau hanyut juga sudah siap melaksanakan PBM meski harus direlokasi ke tempat sementara, seperti masjid/meunasah, lapangan desa, atau area madrasah yang masih memungkinkan,” jelas Khairul yang juga menjabat Kabid Pendidikan Madrasah.

Meskipun sebagian besar sudah siap, Kanwil Kemenag Aceh mengakui masih ada 63 madrasah yang sedang dalam tahap pembersihan intensif.

Wilayah dengan konsentrasi pemulihan tersulit berada di Aceh Utara dengan rincian 19 madrasah, Aceh Tamiang 17 madrasah, dan Aceh Tengah 14 madrasah.

Kendala yang dihadapi di lapangan meliputi tebalnya material lumpur di ruang kelas serta akses jalan yang masih terputus. Namun, Kemenag terus berkoordinasi dengan relawan dan pemerintah daerah untuk mempercepat proses evakuasi material.

Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menegaskan bahwa pemulihan layanan dasar pendidikan harus dilakukan secepat mungkin tanpa mengabaikan aspek keselamatan.

Kemenag mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang membuat proses pemulihan sarana prasarana berjalan lebih singkat dari perkiraan.

“Pendidikan adalah layanan dasar yang harus segera dipulihkan. Namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Kami mendorong percepatan pemulihan sarana prasarana madrasah tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kesiapsiagaan bencana,” tegas Azhari.

Baca Juga: 
Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani Raih Gelar Doktor Ilmu Lingkungan dari UI

Gerak cepat Kemenag Aceh ini diharapkan mampu meminimalisir ketertinggalan kurikulum bagi peserta didik di wilayah bencana, sekaligus memberikan stabilitas psikososial bagi anak-anak untuk kembali beraktivitas secara normal di lingkungan sekolah. (amh)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/