26 C
Makassar
27 February 2026, 17:03 PM WITA

Desa Wisata Lakkang, Oase Bambu dan Bunker Peninggalan Jepang di Tengah Kota Makassar

SulawesiPos.com – Di tengah padatnya aktivitas Kota Makassar, ada satu tempat yang menawarkan suasana berbeda.

Namanya Desa Wisata Lakkang, sebuah perkampungan yang berdiri di pulau kecil di Kecamatan Tallo.

Lokasinya tak jauh dari Universitas Hasanuddin, namun atmosfernya kontras: tenang, hijau, dan terasa seperti keluar dari hiruk-pikuk kota.

Menuju Lakkang, Menyusuri Sungai

Untuk sampai ke Lakkang, pengunjung harus menyeberang menggunakan perahu motor. Perjalanan menyusuri sungai memakan waktu sekitar 15 menit.

Sepanjang perjalanan, hamparan mangrove dan nipah membingkai alur sungai, sementara perahu-perahu kecil milik warga terlihat hilir mudik.

Setibanya di dermaga, pengunjung akan disambut papan bertuliskan “Selamat Datang di Desa Berprestasi Lakkang”.

Dari titik itu, suasana langsung berubah. Deretan bambu mendominasi lanskap, menghadirkan kesan sejuk sekaligus menjadi identitas desa ini.

Sentra Kerajinan Bambu

Lakkang dikenal sebagai kampung perajin bambu. Luas tanaman bambu di desa ini mencapai sekitar 1,9 hektare.

Bahan alami tersebut diolah warga menjadi beragam produk bernilai ekonomi, mulai dari bangku, replika perahu, jam duduk, hingga tempat tisu.

Kerajinan itu tidak hanya dipasarkan di dalam desa, tetapi juga keluar daerah. Produk bambu menjadi wajah Lakkang sebagai sentra kreatif berbasis kearifan lokal.

Konsepnya sederhana: memanfaatkan sumber daya sekitar, tapi dengan sentuhan kreatif yang punya nilai jual.

Jejak Sejarah, Bungker Peninggalan Jepang

Tak hanya soal alam dan kerajinan, Lakkang juga menyimpan cerita sejarah. Di desa ini terdapat bungker peninggalan Jepang.

Menurut penuturan warga, dulunya ada tujuh bungker yang tersebar di kawasan tersebut, meski sebagian kini telah tertimbun.

Bungker dengan tinggi sekitar 1,5 meter itu dulu digunakan sebagai tempat penyimpanan logistik dan perlindungan saat masa perang.

Hingga kini, sisa-sisa bangunan tersebut masih menjadi daya tarik, terutama bagi wisatawan mancanegara yang ingin melihat langsung jejak sejarah tersebut.

Alam yang Masih Terjaga

Secara geografis, Lakkang berada di wilayah delta sungai Tallo dan Pampang. Pulau kecil ini diyakini terbentuk akibat proses sedimentasi sungai selama ratusan tahun.

Meski dikelilingi kawasan perkotaan, keasrian alamnya masih cukup terjaga.

Vegetasi mangrove, hutan nipah, hingga tambak ikan milik warga membentuk lanskap khas pesisir.

Tak heran jika kawasan ini juga kerap menjadi lokasi penelitian bagi pelajar dan akademisi yang tertarik pada ekosistem delta dan pengembangan desa wisata berbasis lingkungan.

Aktivitas Wisata yang Bisa Dicoba

Berkunjung ke Lakkang tak melulu soal melihat pemandangan. Ada sejumlah aktivitas yang bisa dilakukan:

  • Berkeliling kampung sambil menikmati arsitektur rumah adat Bugis.
  • Mengunjungi bungker peninggalan Jepang.
  • Melihat langsung proses pembuatan kerajinan bambu.
  • Memancing di kolam yang disediakan warga.

Suasana pedesaan yang masih terasa kental membuat aktivitas sederhana seperti berjalan kaki menyusuri kampung pun terasa menyenangkan.

Cocok untuk keluarga yang ingin quality time tanpa distraksi berlebihan.

Fasilitas Cukup Lengkap

Meski harus ditempuh lewat jalur air, fasilitas di Desa Wisata Lakkang tergolong memadai.

Tersedia dermaga penyeberangan, toilet umum, tempat berteduh, area parkir, warung jajanan, hingga penginapan bagi yang ingin menginap.

SulawesiPos.com – Di tengah padatnya aktivitas Kota Makassar, ada satu tempat yang menawarkan suasana berbeda.

Namanya Desa Wisata Lakkang, sebuah perkampungan yang berdiri di pulau kecil di Kecamatan Tallo.

Lokasinya tak jauh dari Universitas Hasanuddin, namun atmosfernya kontras: tenang, hijau, dan terasa seperti keluar dari hiruk-pikuk kota.

Menuju Lakkang, Menyusuri Sungai

Untuk sampai ke Lakkang, pengunjung harus menyeberang menggunakan perahu motor. Perjalanan menyusuri sungai memakan waktu sekitar 15 menit.

Sepanjang perjalanan, hamparan mangrove dan nipah membingkai alur sungai, sementara perahu-perahu kecil milik warga terlihat hilir mudik.

Setibanya di dermaga, pengunjung akan disambut papan bertuliskan “Selamat Datang di Desa Berprestasi Lakkang”.

Dari titik itu, suasana langsung berubah. Deretan bambu mendominasi lanskap, menghadirkan kesan sejuk sekaligus menjadi identitas desa ini.

Sentra Kerajinan Bambu

Lakkang dikenal sebagai kampung perajin bambu. Luas tanaman bambu di desa ini mencapai sekitar 1,9 hektare.

Bahan alami tersebut diolah warga menjadi beragam produk bernilai ekonomi, mulai dari bangku, replika perahu, jam duduk, hingga tempat tisu.

Kerajinan itu tidak hanya dipasarkan di dalam desa, tetapi juga keluar daerah. Produk bambu menjadi wajah Lakkang sebagai sentra kreatif berbasis kearifan lokal.

Konsepnya sederhana: memanfaatkan sumber daya sekitar, tapi dengan sentuhan kreatif yang punya nilai jual.

Jejak Sejarah, Bungker Peninggalan Jepang

Tak hanya soal alam dan kerajinan, Lakkang juga menyimpan cerita sejarah. Di desa ini terdapat bungker peninggalan Jepang.

Menurut penuturan warga, dulunya ada tujuh bungker yang tersebar di kawasan tersebut, meski sebagian kini telah tertimbun.

Bungker dengan tinggi sekitar 1,5 meter itu dulu digunakan sebagai tempat penyimpanan logistik dan perlindungan saat masa perang.

Hingga kini, sisa-sisa bangunan tersebut masih menjadi daya tarik, terutama bagi wisatawan mancanegara yang ingin melihat langsung jejak sejarah tersebut.

Alam yang Masih Terjaga

Secara geografis, Lakkang berada di wilayah delta sungai Tallo dan Pampang. Pulau kecil ini diyakini terbentuk akibat proses sedimentasi sungai selama ratusan tahun.

Meski dikelilingi kawasan perkotaan, keasrian alamnya masih cukup terjaga.

Vegetasi mangrove, hutan nipah, hingga tambak ikan milik warga membentuk lanskap khas pesisir.

Tak heran jika kawasan ini juga kerap menjadi lokasi penelitian bagi pelajar dan akademisi yang tertarik pada ekosistem delta dan pengembangan desa wisata berbasis lingkungan.

Aktivitas Wisata yang Bisa Dicoba

Berkunjung ke Lakkang tak melulu soal melihat pemandangan. Ada sejumlah aktivitas yang bisa dilakukan:

  • Berkeliling kampung sambil menikmati arsitektur rumah adat Bugis.
  • Mengunjungi bungker peninggalan Jepang.
  • Melihat langsung proses pembuatan kerajinan bambu.
  • Memancing di kolam yang disediakan warga.

Suasana pedesaan yang masih terasa kental membuat aktivitas sederhana seperti berjalan kaki menyusuri kampung pun terasa menyenangkan.

Cocok untuk keluarga yang ingin quality time tanpa distraksi berlebihan.

Fasilitas Cukup Lengkap

Meski harus ditempuh lewat jalur air, fasilitas di Desa Wisata Lakkang tergolong memadai.

Tersedia dermaga penyeberangan, toilet umum, tempat berteduh, area parkir, warung jajanan, hingga penginapan bagi yang ingin menginap.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/