Overview
- Ajang INNOPROM Saudi Arabia 2026 menjadi panggung diplomasi teknologi Rusia, dengan Rosatom menawarkan kerja sama nuklir untuk mendukung transformasi Vision 2030 Arah Saudi.
- Partisipasi lebih dari 200 perusahaan Rusia menegaskan ekspansi diplomasi industri Moskow di Timur Tengah, mencakup energi bersih, teknologi tinggi, hingga potensi proyek tenaga nuklir sipil.
- Pengamat menilai kerja sama Rusia-Saudi ini sarat dimensi geopolitik dan membutuhkan kalkulasi matang terkait keselamatan nuklir, transparansi, serta keseimbangan kekuatan kawasan.
SulawesiPos.com – Ajang INNOPROM Saudi Arabia 2026 yang berlangsung pada 8–10 Februari di Riyadh menjelma menjadi panggung diplomasi teknologi berskala global ketika Rosatom, melalui entitasnya di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, menegaskan komitmen strategis untuk mendukung transformasi Vision 2030 Arab Saudi sebagaimana dilaporkan media Rusia RT pada 9 Februari 2026.
Direktur Rosatom di kawasan tersebut, Igor Baramaltchuk, dalam wawancara di sela-sela pameran menekankan bahwa perusahaan menghadirkan solusi komprehensif yang mencakup pembangkit listrik tenaga nuklir skala besar, reaktor modular kecil (SMR), solusi digital industri, hingga teknologi presisi untuk sektor kesehatan dan pendidikan, yang dirancang untuk menopang agenda diversifikasi ekonomi dan modernisasi industri Kerajaan.
Baramaltchuk menegaskan bahwa Vision 2030 merupakan lompatan struktural menuju ekonomi berbasis inovasi dan digitalisasi, sehingga kolaborasi Rusia–Saudi diproyeksikan tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mempercepat transfer teknologi, peningkatan kapasitas riset, serta pembangunan sumber daya manusia berstandar internasional.
INNOPROM Saudi Arabia 2026 sendiri mencatat partisipasi lebih dari 200 perusahaan Rusia dengan ruang pamer lebih dari 6.000 meter persegi, menjadikannya salah satu pertemuan industri terbesar di kawasan Teluk yang mencerminkan intensitas kolaborasi lintas sektor mulai dari manufaktur mesin, metalurgi, material baru, solusi kota pintar, transportasi, energi, hingga teknologi kesehatan berdaya saing tinggi.
Delegasi Rusia yang terdiri atas 10 perusahaan ekspor berbasis Moskow di bidang teknologi, industri medis, dan pendidikan dilaporkan menggelar lebih dari 80 pertemuan bisnis dengan mitra Saudi guna membuka jalur ekspor baru ke pasar Timur Tengah dan Afrika Utara, memperlihatkan pendekatan diplomasi industri berbasis hasil konkret.
Rosatom, bersama entitas strategis Rusia seperti Rostec dan Roscosmos, memposisikan diri sebagai mitra dalam pengembangan infrastruktur energi bersih, termasuk potensi proyek tenaga nuklir sipil yang dinilai dapat mendukung diversifikasi bauran energi Saudi, yang saat ini masih didominasi minyak dan gas, menuju target net-zero emission pada pertengahan abad sesuai komitmen global transisi energi.
Dalam kerangka akademik hubungan internasional, partisipasi Rosatom ini dipandang sebagai ekspansi diplomasi teknologi Rusia di kawasan Teluk yang secara simultan memadukan kepentingan ekonomi, pengaruh geopolitik, serta penguatan jejaring industri berteknologi tinggi di tengah meningkatnya multipolaritas sistem internasional.
Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, Dr. Patrice Lumumba, MA., menilai bahwa partisipasi Rosatom dalam INNOPROM Saudi Arabia 2026 mencerminkan penguatan orientasi kerja sama teknologi Rusia–Arab Saudi yang semakin strategis dalam mendukung Vision 2030, namun ia mengingatkan bahwa implementasinya tetap membutuhkan kalkulasi komprehensif dari sisi keselamatan, transparansi, dan transfer teknologi.

Menurut Dr. Patrice Lumumba, partisipasi Rosatom dalam INNOPROM Saudi Arabia ini mencerminkan semakin kuatnya orientasi kerja sama teknologi Rusia–Arab Saudi dalam mendukung agenda Vision 2030, tetapi implementasinya masih perlu pertimbangan matang terutama dalam aspek keselamatan nuklir, transparansi tata kelola, dan jaminan transfer teknologi yang benar-benar meningkatkan kapasitas domestik Saudi.
“Program kerja sama teknologi Arab Saudi–Rusia masih berdimensi abu-abu karena faktor geopolitik dan geostrategi, mengingat peningkatan rivalitas strategis di Timur Tengah, termasuk ketegangan Iran–Israel dan kehadiran pengaruh kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China, yang membuat Arab Saudi berada dalam posisi gamang antara komitmen keamanan tradisionalnya dengan Washington dan kebutuhan mencari inovasi serta diversifikasi mitra strategis,” tambahnya.

