Categories: Travel

Legenda Tanjung Pallette: Tempat “Mallabu Tau”, Hukuman bagi Pelaku Asusila

SulawesiPos.com – Di balik panorama laut biru yang menjadi daya tarik Tanjung Pallette, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, tersimpan cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kawasan yang kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata andalan Bone itu konon pernah dikaitkan dengan hukuman berat bagi orang yang melakukan pelanggaran asusila pada masa kerajaan.

Tanjung Pallette berada di Kelurahan Pallette, Kecamatan Tanete Riattang Timur, sekitar 15 menit perjalanan dari pusat Kota Watampone.

Dari kawasan ini, pengunjung dapat menikmati bentangan Teluk Bone dari ketinggian, sekaligus berbagai fasilitas wisata, termasuk kolam renang dan jembatan yang menjorok ke laut.

Namun, jauh sebelum kawasan tersebut ramai dikunjungi wisatawan, masyarakat mengenal Tanjung Pallette melalui cerita yang jauh lebih mengerikan.

Dalam cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat, Tanjung Pallette disebut sebagai salah satu tempat untuk menjatuhkan hukuman kepada orang yang melakukan perbuatan asusila, terutama perselingkuhan dengan orang yang telah berkeluarga.

Konon, pasangan yang terbukti melakukan pelanggaran berat tersebut akan diikat dan kemudian dilarung atau ditenggelamkan ke laut.

Hukuman itu dalam cerita masyarakat dikenal dengan istilah “mallabu tau”, bahasa Bugis yang secara harfiah merujuk pada tindakan menenggelamkan seseorang.

Kisah tersebut menggambarkan betapa beratnya sanksi sosial dan adat terhadap pelanggaran norma kesusilaan yang diyakini berlaku dalam kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Tokoh masyarakat Bone, H. Jamile, mengatakan cerita tentang Tanjung Pallette penting diketahui generasi sekarang karena tidak hanya berbicara tentang tempat wisata, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai sosial yang hidup dalam masyarakat Bugis pada masa lalu.

“Cerita tentang Tanjung Pallette ini merupakan bagian dari cerita yang diwariskan masyarakat. Di dalamnya ada pesan tentang bagaimana masyarakat dahulu sangat menjunjung tinggi norma, kehormatan keluarga dan aturan adat,” ujarnya kepada Penulis, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, cerita tersebut tidak harus dimaknai dengan melihat bentuk hukumannya semata, tetapi juga dapat dipahami sebagai gambaran tentang kuatnya nilai siri’ dan pesse, serta penghormatan terhadap tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat Bugis.

“Yang penting sekarang bagaimana generasi muda memahami nilai dan pesan budaya di balik cerita itu. Jangan sampai cerita rakyat hilang, tetapi juga harus disampaikan dengan konteks yang benar sebagai warisan cerita masyarakat,” katanya.

Kini, Tanjung Pallette telah berubah menjadi kawasan wisata yang menawarkan panorama Teluk Bone. Di balik ramainya wisatawan menikmati laut dan matahari terbenam, cerita tentang “mallabu tau” tetap menjadi bagian dari kisah yang membuat Tanjung Pallette memiliki sisi lain—bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan jejak cerita rakyat yang sarat pesan tentang norma dan kehidupan sosial masyarakat Bone pada masa lalu. (kar)

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: cerita rakyat Tanjung Pallette wisata sulsel Wisata Bone