Patung Arung Palakka di Bone
SulawesiPos.com – Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan tak hanya dikenal sebagai daerah dengan sejarah panjang Kerajaan Bone, tetapi juga mendapat julukan Bumi Arung Palakka. Julukan tersebut melekat karena Bone merupakan tanah kelahiran Arung Palakka, tokoh Bugis yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Nusantara pada abad ke-17.
Berjarak sekitar 170 kilometer dari Kota Makassar atau sekitar empat hingga lima jam perjalanan darat, Bone menjadi salah satu destinasi yang menawarkan perpaduan wisata sejarah, budaya, hingga panorama alam.
Bagi pencinta sejarah, daerah ini menyimpan banyak jejak kejayaan Kerajaan Bone yang pernah menjadi salah satu kerajaan terbesar di Nusantara.
Kabupaten Bone memiliki luas sekitar 4.559 kilometer persegi, menjadikannya kabupaten terluas ketiga di Sulawesi Selatan.
Wilayah yang beribu kota di Watampone ini berada di pesisir timur Pulau Sulawesi dan berbatasan langsung dengan Teluk Bone di sisi timur, sehingga sejak dahulu memiliki posisi strategis sebagai jalur perdagangan di kawasan Indonesia Timur.
Julukan Bumi Arung Palakka berasal dari sosok La Tenritatta To Unru, atau lebih dikenal sebagai Arung Palakka, Sultan Bone yang memerintah pada 1672 hingga 1696.
Ia merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Bugis dan memiliki peran besar dalam perkembangan Kerajaan Bone pada abad ke-17.
Nama Arung Palakka tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Bone dalam menghadapi konflik politik pada masa itu.
Setelah meninggalkan Bone akibat perseteruan dengan Kesultanan Gowa, ia melakukan perjalanan ke Buton, Batavia, hingga Sumatra sebelum akhirnya kembali dan memimpin Kerajaan Bone setelah Perjanjian Bungaya.
Pada masanya, Kerajaan Bone mencapai salah satu periode paling berpengaruh di kawasan timur Nusantara.
Di sisi lain, kiprah Arung Palakka juga menjadi perdebatan di kalangan sejarawan karena kerja samanya dengan VOC dalam menghadapi Kesultanan Gowa.
Oleh karena itu, sosoknya dikenang sebagai tokoh yang memiliki peran penting sekaligus kompleks dalam sejarah Indonesia.
Salah satu lokasi bersejarah yang masih dapat dikunjungi wisatawan adalah Bukit Cempalagi di Desa Mallari, Kecamatan Awangpone.
Bukit yang menghadap langsung ke Teluk Bone ini dipercaya sebagai tempat Arung Palakka mengucapkan sumpah untuk membebaskan rakyat Bone dan Bugis dari penindasan sebelum memulai pengembaraannya ke Buton, Batavia, hingga Pariaman pada abad ke-17.
Kini, Bukit Cempalagi menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menawarkan panorama laut dari ketinggian sekaligus menyimpan kisah penting perjalanan Arung Palakka.
Banyak wisatawan datang untuk menikmati pemandangan sekaligus mengenal sejarah Bone dari lokasi yang menjadi bagian dari cerita tersebut.
Jika berkunjung ke pusat Kota Watampone, wisatawan akan menemukan Patung Arung Palakka yang berdiri megah di salah satu ruang publik kota.
Monumen tersebut menjadi simbol penghormatan masyarakat Bone terhadap tokoh yang dianggap memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah daerah. Patung ini juga menjadi salah satu ikon kota yang sering dijadikan lokasi berfoto oleh wisatawan.
Tak jauh dari kawasan tersebut, pengunjung juga dapat menjelajahi berbagai bangunan bersejarah, museum, serta pusat kuliner khas Bone yang menyajikan cita rasa Bugis.
Bone dapat dikunjungi sepanjang tahun. Namun, periode Mei hingga September menjadi waktu yang paling nyaman karena curah hujan relatif lebih rendah sehingga perjalanan menuju berbagai destinasi wisata lebih lancar.
Selain mengunjungi situs-situs sejarah, wisatawan juga dapat menikmati wisata kuliner khas Bugis, menyusuri kawasan pesisir Teluk Bone, hingga berinteraksi dengan masyarakat yang masih menjaga tradisi dan budaya lokal.
Lebih dari sekadar destinasi wisata, Bone menawarkan pengalaman menyelami sejarah yang membentuk perjalanan Sulawesi Selatan.
Julukan Bumi Arung Palakka bukan hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga pengingat bahwa kabupaten ini menyimpan jejak salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Bugis dan Nusantara.