Mengapa Rumah Adat Sao Mario di Soppeng Dijuluki Bola Seratu? Ini Sejarah dan Keunikannya

SulawesiPos.com – Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, memiliki banyak destinasi wisata budaya yang sarat nilai sejarah. Salah satu yang paling menarik untuk dikunjungi adalah Rumah Adat Sao Mario, sebuah kompleks budaya yang memadukan arsitektur tradisional, museum, hingga miniatur rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Terletak di Kelurahan Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, kawasan ini berjarak sekitar 32 kilometer dari pusat Kota Watansoppeng.

Selain menjadi ikon budaya Bugis, Sao Mario juga menjadi destinasi wisata edukasi yang memperkenalkan kekayaan tradisi Nusantara kepada masyarakat.

Masyarakat Bugis mengenal Sao Mario dengan sebutan Bola Seratu atau “Rumah Seratus”. Julukan tersebut merujuk pada banyaknya tiang penyangga bangunan yang mencapai 119 tiang, jauh lebih banyak dibanding rumah panggung Bugis pada umumnya.

Keberadaan ratusan tiang ini melambangkan kemegahan rumah bangsawan Bugis. Semakin tinggi kedudukan pemilik rumah, semakin banyak pula tiang yang digunakan dalam konstruksinya.

Dibangun oleh Tokoh Asal Soppeng

Rumah Adat Sao Mario didirikan pada akhir tahun 1989 dan mulai dibangun secara bertahap pada lahan kompleks seluas sekitar 12 hektare di kawasan Batu-Batu, Marioriawa.

BACA JUGA:  Museum Villa Yuliana, Bangunan 117 Tahun di Soppeng Ini Awalnya Hadiah untuk Ratu Belanda
Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, S.H
Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, S.H

Penggagas sekaligus pemiliknya adalah Prof. Andi Mustari Pide, tokoh asal Soppeng yang dikenal sebagai pendiri dan Rektor Universitas Ekasakti di Sumatera Barat.

Melalui pembangunan Sao Mario, ia ingin menghadirkan ruang pelestarian budaya Bugis sekaligus memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada generasi muda.

Setelah wafat, Prof. Andi Mustari Pide dimakamkan di area kompleks Sao Mario.

Sementara itu, rancangan arsitektur bangunan dibuat oleh Dr. Ir. H. Bakharani A. Rauf, M.T., dosen Universitas Negeri Makassar (UNM), yang mengombinasikan unsur arsitektur Bugis dan Minangkabau tanpa menghilangkan karakter khas rumah tradisional Bugis.

Perpaduan Arsitektur Bugis dan Minangkabau

Bangunan utama Sao Mario memiliki panjang sekitar 40 meter dan lebar 14 meter. Material utamanya menggunakan kayu berkualitas tinggi yang dalam bahasa Bugis dikenal sebagai aju bolong atau kayu hitam.

Seperti rumah adat Bugis pada umumnya, konstruksi bangunan menggunakan sistem sambungan kayu tanpa paku sehingga seluruh bagian dapat dibongkar pasang.

Rumah ini tetap mempertahankan filosofi tiga bagian utama rumah Bugis, yaitu:

  • Rakkeang, bagian paling atas yang digunakan sebagai tempat penyimpanan padi dan benda pusaka.
  • Ale Bola, bagian tengah sebagai ruang utama untuk menerima tamu, ruang keluarga, kamar tidur, hingga dapur.
  • Awa Bola, ruang bawah rumah panggung yang dimanfaatkan untuk menyimpan peralatan pertanian dan berbagai perlengkapan lainnya.
BACA JUGA:  Menikmati Wisata Alam Sumber Air Panas Alami di Permandian Lejja Soppeng

Kompleks Budaya yang Menampilkan Rumah Adat Nusantara

Daya tarik Sao Mario tidak hanya terletak pada bangunan utamanya. Di dalam kawasan wisata ini juga terdapat miniatur rumah adat dari berbagai daerah, antara lain:

  • Rumah Adat Bugis (Sao Mario)
  • Rumah Adat Makassar (Balla Mario)
  • Rumah Adat Mandar (Boyang Mario)
  • Rumah Adat Toraja (Tongkonan Mario)
  • Rumah bergaya Minangkabau
  • Rumah bergaya Batak
  • Rumah Lontara yang seluruh bangunan dan perabotnya dibuat dari daun lontar

Masing-masing rumah dibangun terpisah agar tetap mempertahankan karakter budaya daerah asalnya tanpa saling bercampur.

Selain sebagai kawasan wisata budaya, Sao Mario juga berfungsi sebagai museum.

Di dalamnya tersimpan berbagai koleksi benda antik, mulai dari kursi dan meja kuno, batu permata, senjata tradisional seperti badik, parang, dan keris, hingga berbagai benda pusaka dari sejumlah daerah di Indonesia.

Museum ini juga menyimpan peninggalan kerajaan dari berbagai wilayah sehingga menjadi salah satu pusat edukasi sejarah dan budaya di Sulawesi Selatan.

BACA JUGA:  5 Objek Wisata di Rantepao Toraja Utara yang Wajib Kamu Kunjungi

Berdekatan dengan Permandian Air Panas Lejja

Keunggulan lain dari Sao Mario adalah lokasinya yang tidak jauh dari Permandian Air Panas Lejja, salah satu destinasi wisata alam paling populer di Kabupaten Soppeng.

suasana di Lejja
Suasana di Lejja

Jarak kedua objek wisata ini sekitar 44 kilometer dari pusat Kota Watansoppeng, sehingga wisatawan dapat mengunjungi keduanya dalam satu perjalanan.

Sebagai destinasi wisata budaya, kompleks Sao Mario telah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti area parkir, warung makan, penginapan, hingga Masjid Al-Mustari.

Di dalam kawasan juga terdapat danau buatan yang dihiasi replika kapal Pinisi yang difungsikan sebagai rumah makan, sehingga menjadi salah satu spot favorit wisatawan untuk berfoto.

Perpaduan antara nilai sejarah, arsitektur tradisional, museum, dan panorama alam menjadikan Rumah Adat Sao Mario sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang layak dikunjungi saat berada di Kabupaten Soppeng.

SulawesiPos.com – Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, memiliki banyak destinasi wisata budaya yang sarat nilai sejarah. Salah satu yang paling menarik untuk dikunjungi adalah Rumah Adat Sao Mario, sebuah kompleks budaya yang memadukan arsitektur tradisional, museum, hingga miniatur rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Terletak di Kelurahan Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, kawasan ini berjarak sekitar 32 kilometer dari pusat Kota Watansoppeng.

Selain menjadi ikon budaya Bugis, Sao Mario juga menjadi destinasi wisata edukasi yang memperkenalkan kekayaan tradisi Nusantara kepada masyarakat.

Masyarakat Bugis mengenal Sao Mario dengan sebutan Bola Seratu atau “Rumah Seratus”. Julukan tersebut merujuk pada banyaknya tiang penyangga bangunan yang mencapai 119 tiang, jauh lebih banyak dibanding rumah panggung Bugis pada umumnya.

Keberadaan ratusan tiang ini melambangkan kemegahan rumah bangsawan Bugis. Semakin tinggi kedudukan pemilik rumah, semakin banyak pula tiang yang digunakan dalam konstruksinya.

Dibangun oleh Tokoh Asal Soppeng

Rumah Adat Sao Mario didirikan pada akhir tahun 1989 dan mulai dibangun secara bertahap pada lahan kompleks seluas sekitar 12 hektare di kawasan Batu-Batu, Marioriawa.

BACA JUGA:  Menjelajah Kawasan Adat Segeri: Bertemu Bissu, Penjaga Tradisi Bugis
Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, S.H
Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, S.H

Penggagas sekaligus pemiliknya adalah Prof. Andi Mustari Pide, tokoh asal Soppeng yang dikenal sebagai pendiri dan Rektor Universitas Ekasakti di Sumatera Barat.

Melalui pembangunan Sao Mario, ia ingin menghadirkan ruang pelestarian budaya Bugis sekaligus memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada generasi muda.

Setelah wafat, Prof. Andi Mustari Pide dimakamkan di area kompleks Sao Mario.

Sementara itu, rancangan arsitektur bangunan dibuat oleh Dr. Ir. H. Bakharani A. Rauf, M.T., dosen Universitas Negeri Makassar (UNM), yang mengombinasikan unsur arsitektur Bugis dan Minangkabau tanpa menghilangkan karakter khas rumah tradisional Bugis.

Perpaduan Arsitektur Bugis dan Minangkabau

Bangunan utama Sao Mario memiliki panjang sekitar 40 meter dan lebar 14 meter. Material utamanya menggunakan kayu berkualitas tinggi yang dalam bahasa Bugis dikenal sebagai aju bolong atau kayu hitam.

Seperti rumah adat Bugis pada umumnya, konstruksi bangunan menggunakan sistem sambungan kayu tanpa paku sehingga seluruh bagian dapat dibongkar pasang.

Rumah ini tetap mempertahankan filosofi tiga bagian utama rumah Bugis, yaitu:

  • Rakkeang, bagian paling atas yang digunakan sebagai tempat penyimpanan padi dan benda pusaka.
  • Ale Bola, bagian tengah sebagai ruang utama untuk menerima tamu, ruang keluarga, kamar tidur, hingga dapur.
  • Awa Bola, ruang bawah rumah panggung yang dimanfaatkan untuk menyimpan peralatan pertanian dan berbagai perlengkapan lainnya.
BACA JUGA:  Museum Villa Yuliana, Bangunan 117 Tahun di Soppeng Ini Awalnya Hadiah untuk Ratu Belanda

Kompleks Budaya yang Menampilkan Rumah Adat Nusantara

Daya tarik Sao Mario tidak hanya terletak pada bangunan utamanya. Di dalam kawasan wisata ini juga terdapat miniatur rumah adat dari berbagai daerah, antara lain:

  • Rumah Adat Bugis (Sao Mario)
  • Rumah Adat Makassar (Balla Mario)
  • Rumah Adat Mandar (Boyang Mario)
  • Rumah Adat Toraja (Tongkonan Mario)
  • Rumah bergaya Minangkabau
  • Rumah bergaya Batak
  • Rumah Lontara yang seluruh bangunan dan perabotnya dibuat dari daun lontar

Masing-masing rumah dibangun terpisah agar tetap mempertahankan karakter budaya daerah asalnya tanpa saling bercampur.

Selain sebagai kawasan wisata budaya, Sao Mario juga berfungsi sebagai museum.

Di dalamnya tersimpan berbagai koleksi benda antik, mulai dari kursi dan meja kuno, batu permata, senjata tradisional seperti badik, parang, dan keris, hingga berbagai benda pusaka dari sejumlah daerah di Indonesia.

Museum ini juga menyimpan peninggalan kerajaan dari berbagai wilayah sehingga menjadi salah satu pusat edukasi sejarah dan budaya di Sulawesi Selatan.

BACA JUGA:  Menikmati Wisata Alam Sumber Air Panas Alami di Permandian Lejja Soppeng

Berdekatan dengan Permandian Air Panas Lejja

Keunggulan lain dari Sao Mario adalah lokasinya yang tidak jauh dari Permandian Air Panas Lejja, salah satu destinasi wisata alam paling populer di Kabupaten Soppeng.

suasana di Lejja
Suasana di Lejja

Jarak kedua objek wisata ini sekitar 44 kilometer dari pusat Kota Watansoppeng, sehingga wisatawan dapat mengunjungi keduanya dalam satu perjalanan.

Sebagai destinasi wisata budaya, kompleks Sao Mario telah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti area parkir, warung makan, penginapan, hingga Masjid Al-Mustari.

Di dalam kawasan juga terdapat danau buatan yang dihiasi replika kapal Pinisi yang difungsikan sebagai rumah makan, sehingga menjadi salah satu spot favorit wisatawan untuk berfoto.

Perpaduan antara nilai sejarah, arsitektur tradisional, museum, dan panorama alam menjadikan Rumah Adat Sao Mario sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang layak dikunjungi saat berada di Kabupaten Soppeng.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru