SulawesiPos.com – Nama Gunung Bulu Saukang di Kabupaten Maros belakangan menjadi perhatian setelah seorang pendaki asal Kabupaten Gowa mengalami patah kaki dan harus dievakuasi tim SAR gabungan pada Selasa (16/6/2026) malam. Di balik insiden tersebut, Bulu Saukang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi pendakian favorit di Sulawesi Selatan, terutama bagi pendaki pemula.
Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Kota Makassar membuat gunung ini kerap menjadi pilihan masyarakat untuk menikmati wisata alam tanpa harus melakukan pendakian dengan tingkat kesulitan tinggi.
Terletak di Desa Benteng Gajah, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Gunung Bulu Saukang memiliki ketinggian sekitar 332 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Dengan jalur pendakian yang relatif pendek, pengunjung umumnya hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit hingga satu jam untuk mencapai puncak.
Pendakian Singkat dengan Panorama Memikat
Salah satu daya tarik utama Gunung Bulu Saukang adalah pemandangan yang dapat dinikmati dari puncaknya. Dari titik tertinggi, hamparan perbukitan, lembah hijau, hingga lanskap pedesaan Maros terlihat jelas.
Pada cuaca cerah, pengunjung bahkan dapat menyaksikan siluet Kota Makassar dari kejauhan.
Ketika sore tiba, langit berubah menjadi gradasi jingga keemasan yang menjadi favorit para pemburu matahari terbenam.
Sementara pada pagi hari, panorama matahari terbit berpadu kabut tipis menciptakan suasana yang tenang dan menyegarkan.
Keindahan tersebut menjadikan Bulu Saukang sebagai destinasi bagi pendaki sekaligus lokasi favorit untuk fotografi alam, pembuatan konten digital, hingga sekadar menikmati suasana pegunungan.
Ramah untuk Pendaki Pemula
Dibandingkan sejumlah gunung lain di Sulawesi Selatan, jalur menuju puncak Bulu Saukang tergolong lebih bersahabat.
Medannya didominasi tanjakan pendek dan jalur setapak yang dapat dilalui dalam waktu singkat, sehingga cocok bagi masyarakat yang baru ingin mencoba aktivitas mendaki.
Karena durasi pendakian yang relatif singkat, banyak pengunjung memilih melakukan trekking pada pagi hari untuk berburu matahari terbit atau pada sore hari menjelang matahari terbenam.
Meski demikian, pendaki tetap diimbau tidak menganggap remeh jalur pendakian. Kondisi tanah yang licin saat hujan, bebatuan, serta beberapa tanjakan tetap memerlukan kewaspadaan dan perlengkapan yang memadai.
Insiden yang menimpa seorang pendaki asal Gowa beberapa waktu lalu menjadi pengingat bahwa kecelakaan dapat terjadi di gunung dengan tingkat kesulitan apa pun apabila faktor keselamatan diabaikan.
Dikembangkan sebagai Wisata Berbasis Masyarakat
Bulu Saukang juga menjadi bagian dari pengembangan wisata berbasis masyarakat di Desa Benteng Gajah.
Pengelola bersama warga setempat berupaya menjaga kelestarian kawasan sembari mengembangkan potensi ekonomi melalui sektor pariwisata.
Beberapa fasilitas sederhana telah tersedia untuk menunjang kenyamanan pengunjung, termasuk area istirahat dan sejumlah titik swafoto yang memanfaatkan panorama alami tanpa mengubah karakter kawasan.
Ke depan, kawasan ini juga berpotensi dikembangkan sebagai lokasi wisata edukasi lingkungan, observasi alam, hingga pusat promosi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masyarakat desa.
Keselamatan Tetap Menjadi Prioritas
Meningkatnya popularitas Gunung Bulu Saukang diharapkan diikuti dengan meningkatnya kesadaran pengunjung terhadap keselamatan selama pendakian.
Pendaki disarankan memastikan kondisi fisik tetap prima, menggunakan alas kaki yang sesuai, membawa perlengkapan secukupnya, serta memperhatikan kondisi cuaca sebelum memulai perjalanan.
Dengan akses yang mudah, panorama alam yang memikat, dan jalur yang ramah bagi pemula, Gunung Bulu Saukang menjadi salah satu destinasi wisata alam yang layak dikunjungi di Sulawesi Selatan.
Namun, keindahan alam tersebut tetap harus dinikmati dengan mengutamakan keselamatan dan menjaga kelestarian lingkungan.


